| dc.description.abstract | Krisis finansial global ini membuat Indonesia mengalami masalah
ketersediaan modal yang terbatas dan hal ini menjadi salah satu hambatan utama
untuk melaksanakan pembangunannya. Untuk mengatasi masalah tersebut adalah
dengan meningkatkan investasi dengan jumlah yang besar dalam investasi sektor
riil, seperti investasi di bidang infrastruktur dan investasi di penyediaan energi.
Peningkatan jumlah investasi memerlukan tambahan modal yang besar, sehingga
pemerintah menerbitkan obligasi sebagai instrumen utama untuk menghimpun
dana dari pihak ketiga. Penelitian ini menganalisis bagaimana pengaruh dari
obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah mempengaruhi pertumbuhan ekonomi
yang diasumsikan bahwa dana pemerintah dari obligasi dialokasikan untuk
membangun investasi sektor riil dan bagaimana peningkatan beban utang sebagai
hasil dari penerbitan obligasi dapat mempengaruhi keleluasaan anggaran.
Model awal pada penelitian mengenai pengaruh obligasi terhadap
pertumbuhan sektor riil adalah model VAR, apabila dalam model ini terdapat
kointegrasi antar variabelnya maka modelnya berkembang menjadi model VECM
dengan variabel Indeks Industrial Production (IP) sebagai variabel endogen
utama.Variabel yang digunakan adalah outstanding obligasi pemerintah, Jumlah
Uang Beredar, Inflasi, SBI, Suku Bunga Deposito, dan IP.
Hasil estimasi VECM menunjukkan bahwa pada jangka pendek variabel
yang mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan produksi (indeks industrial
production) adalah Obligasi Pemerintah, Money Supply, Inflasi, SBI, dan Suku
Bunga Deposito.Sedangkan untuk pengaruh jangka panjang, ada tiga variabel
yang berpengaruh secara nyata terhadap IP.Ketiga variabel tersebut adalah SBI,
Inflasi, dan Suku Bunga Deposito.
Model untuk penelitian mengenai kesinambungan fiskal dan keleluasaan
anggaran menggunakan model VEC-bivarian yang menganalisis mengenai
hubungan jangka panjang antara pengeluaran dan penerimaan pemerintah. Hasil
VEC bivarian menunjukkan bahwa dalam jangka panjang defisit pemerintah akan
semakin besar. Peningkatan defisit ini ditunjukkan dengan adanya koefisien
kointegrasi sebesar 0,87, sehingga apabila pengeluaran pemerintah naik sebesar 1
persen maka penerimaan pemerintah hanya naik 0,87 persen.
Model VEC bivarian juga digunakan untuk menganalisis bagaimana
hubungan antara utang pemerintah dengan PDB. Hasil untuk analisis antara utang
utang pemerintah dan PDB menunjukkan adanya kointegrasi sebesar 0,67. Nilai
koefisien sebesar 0,67 ini dapat diintrepretasikan sebagai elastisitas PDB terhadap
Utang. | id |