Simulasi model untuk mengevaluasi penerapan teknologi mekanis pada sistem produksi padi sawah: kasus di kabupaten Karawang

Date
1990Author
Ananto, E. Eko
Djojomartono, Moeljarno
Abdullah, Kamaruddin
Eriyanto
Soedjatmiko
Kasryno, Faisal
Metadata
Show full item recordAbstract
Tujuan penelitian ini adalah dan membangun model simulasi untuk mengevaluasi dampak penerapan teknologi mekanis di dalam sistem produksi padi.
Usaha meningkatkan produksi beras di lahan sawah dititik beratkan pada perbaikan intensifikasi. Pola pengembangan intensifikasi memberikan implikasi masukan tenaga kerja yang lebih besar dan cukup tersedia tepat pada waktunya, sementara pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian tidak dapat dihindari, sehingga efisiensi dalam usahatani semakin merupakan keharusan. Dengan demikian teknologi mekanis dalam bentuk alat dan mesin pertanian mempunyai peluang untuk dikembangkan.
Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan sistem dan simulasi sebagai teknik pemecahan masalah. Pengambilan data dilakukan dengan survei dan pengukuran lapang di Kabupaten Karawang, dengan menggunakan metoda pengambilan contoh acak
berlapis terhadap 180 responden. Pendugaan parameter dianalisis dengan model linier dan non-linier serta diuji dengan uji-F dan uji-t, sedang model sistem diuji dengan cara membandingkan hasil simulasi dan data lapang.
Hasil studi lapang di Kabupaten Karawang, menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 1988, luas baku sawah total dan sawah irigasi turun dengan laju 0,57 % dan 0,19% per tahun, sebagai akibat berubahnya fungsi lahan, antara lain untuk tapak industri dan pemukiman penduduk. Jumlah tenaga kerja pria buruh tani turun dengan laju 1,51 % per tahun, meskipun jumlah keluarga buruh tani naik 1,35% per tahun. Hal ini diduga sebagai akibat berkembangnya kesempatan kerja di luar sektor pertanian, termasuk sektor industri. Dengan makin terbatasnya lahan penggembalaan dan pakan hijauan, populasi ternak hanya naik 0,3 % per tahun, sedangkan jumlah pemotongan ternak meningkat dengan 3,84% per tahun, sehingga jumlah tenaga kerja ternak turun dengan 3,2 % per tahun. Sebagai konsekuensi menurunnya jumlah tenaga kerja pria dan ternak, jumlah traktor tangan naik dengan laju 11,52 % per tahun.
Secara umum, kebutuhan jam kerja per hektar dari sumber tenaga dan alat yang digunakan di setiap tahap kegiatan produksi cenderung turun secara asimtotit, dengan semakin luasnya usahatani. Hal ini diduga karena sangat intensifnya penggunaan tenaga kerja dan penggunaan alat yang kurang efisien di usahatani sempit, sehingga dipandang perlu usaha pengelompokan pengelolaan usahatani sempit ke dalam skala yang lebih luas. …

