Analisis nilai tambah dan pendapatan serta faktor - faktor yang memengaruhi produksi industri tempe (Studi Kasus : DKI Jakarta)
Abstract
Kedelai merupakan salah satu sumber protein nabati yang tinggi
permintaannya. Sebagian besar kedelai yang ada di Indonesia dikonsumsi dalam
bentuk tempe. Akan tetapi, penyediaan bahan baku tempe sebagian besar (60
persen) berasal dari impor. Hal tersebut dikarenakan produksi kedelai dalam
negeri belum mampu memenuhi kebutuhan kedelai bagi total konsumsi
masyarakat.
DKI Jakarta merupakan salah satu daerah yang tidak memproduksi kedelai
sendiri. Sehingga daerah ini memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap
kedelai yang berasal dari impor dalam pemenuhan bahan baku industrinya,
terutama industri tempe karena 94 persen kedelai yang ada di Jakarta diolah
menjadi tempe. Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis besaran nilai
tambah yang dihasilkan pada industri tempe terkait dengan penggunaan bahan
baku dari impor. Selain itu, akan dianalisis pula pendapatan yang diterima oleh
pengrajin tempe dalam usahanya mengolah kedelai menjadi tempe.
Bahan baku kedelai merupakan faktor utama dalam industri ini, oleh
karena itu ketersediaan kedelai sangat memengaruhi keberlangsungan industri
tempe. Penggunaan bahan baku alternatif sebagai barang substitusi kedelai juga
dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penggunaan kedelai dalam
kegiatan produksi tempe. Selain itu, masih terdapat faktor-faktor produksi lainnya
yang terdapat dalam industri ini, sehingga penelitian ini menganalisis faktorfaktor
yang memengaruhi produksi industri tempe dengan memasukkan harga
bahan baku alternatif berupa kacang lupin dalam model regresi yang digunakan.
Metode analisis yang digunakan adalah analisis nilai tambah dengan
menggunakan Metode Hayami, analisis Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio) dan
analisis fungsi produksi dengan menggunakan metode Ordinary Least Square
(OLS). Analisis nilai tambah Hayami digunakan untuk mengetahui besaran nilai
tambah yang dapat dihasilkan dari pengolahan bahan baku kedelai menjadi tempe.
Sedangkan analisis penerimaan dan biaya digunakan untuk mengetahui besaran
pendapatan yang diterima oleh pengrajin tempe, dan analisis fungsi produksi
digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi produksi industri
tempe di DKI Jakarta.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai tambah yang dihasilkan oleh
industri tempe sebesar Rp. 3,937 per kilogram kedelai yang digunakan, dengan
rasio nilai tambah sebesar 40.2 persen. Nilai rasio R/C yang diperoleh lebih besar
dari satu, yaitu sebesar 1.50. Hal tersebut menunjukkan bahwa industri tempe di
DKI Jakarta menguntungkan. Sedangkan faktor-faktor yang memengaruhi
produksi industri berdasarkan hasil pendugaan menggunakan OLS yaitu jumlah
kedelai, lama jam kerja tenaga kerja, dan biaya penyusutan alat. Faktor-faktor
tersebut berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95 persen. Sedangkan faktorfaktor
yang tidak berpengaruh nyata terhadap produksi industri tempe adalah
harga ragi, selisih harga kedelai dan lupin, serta biaya bahan bakar.
