| dc.description.abstract | Kota Bekasi memiliki letak geografis dimana posisinya hampir sama
dengan wilayah Bogor, Depok, dan Tangerang (Bodetabek) yaitu berbatasan
langsung dengan Ibu Kota Negara Republik Indonesia, Jakarta. Memiliki wilayah
dengan posisi dekat dan berbatasan langsung dengan DKI Jakarta mempunyai
keuntungan tersendiri, diantaranya semakin dekat dengan infrastruktur ekonomi,
sehingga wilayah Bodetabek memiliki daya saing (competitive and comperative
advantage) lebih tinggi di bandingkan dengan daerah-daerah lain di luar
Bodetabek. Sisi negatifnya, bahwa wilayah Bodetabek setiap Tahunnya selalu
kebanjiran migrasi penduduk dari daerah-daerah Pulau Jawa maupun luar Pulau
Jawa. Peningkatan jumlah penduduk membuat jumlah angkatan kerja meningkat,
sehingga kondisi tersebut akan menyebabkan permasalahan pada tidak
seimbangnya permintaan dan penawaran tenaga kerja di Kota Bekasi. Hal ini
menyebabkan jumlah pengangguran di Kota Bekasi meningkat setiap tahunnya
yang mencapai 10,11 persen pada tahun 2010.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Upah
Minimum Kota, PDRB, dan Investasi (PMA dan PMDN) terhadap tingkat
penyerapan tenaga kerja di Kota Bekasi. Metode analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Ordinary Least Square (OLS) dengan menggunakan
model regresi linier berganda. Data yang digunakan pada penelitian ini
menggunakan data sekunder tahun 1997 sampai dengan 2010 meliputi data upah
minimum kota, PDRB, dan angkatan kerja yang bersumber dari Badan Pusat
Statistik dan invetasi yang bersumber dari Badan Koordinasi Penanaman Modal.
Hasil analisis mengenai pengaruh PDRB dan penanaman modal asing
terhadap penyerapan tenaga kerja Kota Bekasi menunjukkan hubungan yang
positif signifikan. Sedangkan pengaruh variabel penanaman modal dalam negeri
menunjukkan pengaruh yang negatif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja
Kota Bekasi. Hal ini terjadi karena sebagian besar investasi di Kota Bekasi
didominasi oleh para investor asing (PMA). Sementara variabel UMK tidak
berpengaruh nyata terhadap penyerapan tenaga kerja Kota Bekasi pada taraf 10
persen. Kondisi ini terjadi karena banyak perusahaan yang tidak menggunakan
tingkat upah minimum sebagai acuan untuk memberikan upah terhadap pekerja
mereka. | id |