Dekomposisi ketimpangan pendapatan di Indonesia pasca krisis (Tahun 1999-2005)
Abstract
Dari tahun 1968 sampai dengan 1997, Indonesia memiliki tingkat
pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yaitu lebih dari 7 persen. Pertumbuhan
ekonomi yang tinggi tersebut mendadak berakhir dengan adanya krisis keuangan
asing yang dimulai pada tahun 1997. Mengikuti devaluasi baht Thailand, rupiah
terdepresiasi dari 3.000 rupiah per dolar Amerika pada bulan Agustus 1997
menjadi sekitar 15.000 pada bulan Juni 1998. Hal tersebut membuat ekonomi
Indonesia mengalami kontraksi sebesar 13.18 persen yang dibarengi tidak
terkendalinya tingkat inflasi. Tingkat inflasi mencapai lebih dari 50 persen yang
merupakan inflasi tertinggi sejak 1960an. Fluktuasi yang tajam dalam
perekonomian Indonesia sedikit banyak berpengaruh terhadap standar hidup dan
distribusi pendapatan. Masyarakat Indonesia bukan hanya menginginkan
pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun bagaimana pertumbuhan ekonomi itu
mampu menyebar disetiap golongan pendapatan, termasuk di golongan penduduk
miskin (growth with equity). Pertumbuhan ekonomi diarahkan untuk
meningkatkan pendapatan masyarakat serta mengatasi tingkat ketimpangan
ekonomi dan kesejahteraan sosial. Ketimpangan ekonomi, khususnya
ketimpangan pendapatan merupakan suatu keadaan dimana distribusi pendapatan
masyarakat menunjukan keadaan yang tidak merata dan lebih menguntungkan
golongan-golongan tertentu. Di lain pihak ada golongan-golongan berpendapatan
tertentu yang merasa kurang diperhatikan dan cenderung kurang menikmati hasil-
hasil pembangunan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tren dan
dekomposisi ketimpangan di Indonesia menurut lokasi (kota-desa), pulau dan
provinsi, umur, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin.
Alat analisis yang digunakan untuk mengukur ketimpangan dalam penelitian ini adalah Indeks Theil dan Koefisien Gini. Pendekatan yang digunakan untuk mengestimasi pendapatan per kapita rumahtangga di Indonesia adalah data pengeluaran yang diperoleh dari Susenas, yang disebabkan karena sulitnya memperoleh data pendapatan rumahtangga. Selain itu penduduk Indonesia terkenal dengan "low profile" dalam hal memberikan informasi pendapatan ketika enumerator menanyakan pendapatan yang diperoleh.
Hasil penelitian ini menunjukkan faktor pendidikan yang paling berpengaruh terhadap ketimpangan di Indonesia. Tren ketimpangan di Indonesia selama periode 1999-2005 baik yang diukur dengan indeks Theil dan Koefisien Gini mengalami peningkatan Demikian pula jika mengamati ketimpangan pengeluaran per kapita rumahtangga di perkotaan dan di pedesaan, dimana masing-masing juga meningkat. Ketimpangan di perkotaan selalu lebih besar dibandingkan di pedesaan. Ketimpangan pendapatan antar provinsi memberikan kontribusi yang cukup signifikan pada total ketimpangan. DKI Jakarta merupakan provinsi dengan ketimpangan paling tinggi pada tahun 2002. Sementara itu pada periode 1999-2005, ketimpangan antar pulau ternyata tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap total ketimpangan. Penurunan ketimpangan antar pulau tidak akan memengaruhi ketimpangan di Indonesia. Sedangkan ketimpangan antar kelompok umur tidak berpengaruh terhadap ketimpangan yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan penghitungan dengan menggunakan metode Theil ternyata ketimpangan antar tingkat pendidikan pada periode 1999-2005 memberikan kontribusi yang signifikan terhadap total ketimpangan.
Kontribusi yang diberikan oleh ketimpangan pendapatan antar jenis kelamin ternyata tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap total ketimpangan. Kontribusi ketimpangan antar kelompok pada periode 1999-2005 kurang dari 1 persen terhadap total ketimpangan, yang berarti faktor jenis kelamin tidak berpengaruh secara signifikan terhadap total ketimpangan.
