Show simple item record

dc.contributor.advisorWidyastutik
dc.contributor.authorBetamura, Nur Sella
dc.date.accessioned2023-10-29T00:53:05Z
dc.date.available2023-10-29T00:53:05Z
dc.date.issued2010
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/129039
dc.description.abstractCokelat (Theobroma cacao Linn) merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan Indonesia yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Pada tahun 2007, Indonesia merupakan eksportir dunia ketiga terbesar dengan pangsa 16,19 persen dari total ekspor cokelat dunia sedangkan dari sisi produksinya, Indonesia merupakan produsen cokelat terbesar kedua di dunia dengan jumlah produksi sebesar 19,66 persen dari total produksi dunia setelah Pantai Gading. Data produksi cokelat Indonesia tersebut mengindikasikan bahwa biji cokelat di Indonesia sangat melimpah, seharusnya hal tersebut menjadikan industri pengolahan cokelat (salah satunya industri bubuk cokelat) berkembang dengan pesat. Namun kenyataannya, industri bubuk cokelat ini menghadapi masalah produksi, dimana industri ini harus meminimisasi biaya produksi. Ketersediaan input pada industri bubuk cokelat pun kurang memadai yang akhirnya berpengaruh terhadap tingkat output yang dihasilkan. Minimnya ketersediaan input misalnya seperti terbatasnya jumlah bahan baku baku akibat banyaknya pohon cokelat di Sulawesi (sentra produksi cokelat) yang kurang produktif. Selain itu, karakteristik industri bubuk cokelat yang lebih mendekati konsumen dibandingkan mendekati bahan baku membuat keberadaan perusahaan di industri ini lebih banyak tersebar di Pulau Jawa daripada di Pulau Sulawesi. Hal ini tentu saja menimbulkan biaya transaksi yang tidak sedikit untuk transaksi bahan baku dari Pulau Sulawesi (sentra produksi cokelat) ke Pulau Jawa (sentra industri pengolahan cokelat). Masalah lainnya adalah adanya kenaikan tarif dasar listrik untuk industri pada tahun 2005, padahal industri bubuk cokelat ini merupakan industri yang lebih banyak menggunakan tenaga mesin dibandingkan tenaga kerja, oleh karena itu, guncangan harga yang terjadi pada tenaga listrik yang digunakan sebagai input produksi industri bubuk cokelat juga akan memengaruhi tingkat output yang dihasilkan…id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcEconomics and managementid
dc.subject.ddcEconomics and development studiesid
dc.titleAnalisis faktor-faktor yang memengaruhi output industri bubuk cokelat di Indonesiaid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordOrdinary least squareid
dc.subject.keywordOutput industri bubuk cokelat indonesiaid
dc.subject.keywordFungsi produksi Cobb-Douglasid
dc.subject.keywordBogor Agricultural Universityid
dc.subject.keywordInstitut Pertanian Bogorid
dc.subject.keywordIPBid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record