Show simple item record

dc.contributor.advisorWidyastutik
dc.contributor.authorNuraini, Anisa
dc.date.accessioned2023-10-26T08:13:28Z
dc.date.available2023-10-26T08:13:28Z
dc.date.issued2010
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/128627
dc.description.abstractSektor pertanian dan agroindustri merupakan sektor yang berperan penting dalam pembentukan PDB dan penyerapan tenaga kerja. Pengembangan kedua sektor ini melalui investasi akan meningkatkan kapasitas produksi sehingga dapat meningkatkan pendapatan sebagian besar tenaga kerja. Namun, investasi pada sektor pertanian dan agroindustri masih sangat kecil bila dibandingkan investasi pada sektor industri pengolahan lainnya dan sektor tersier. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak investasi di sektor pertanian dan agroindustri terhadap pendapatan rumahtangga di Indonesia. Menggunakan model SNSE 2005, simulasi dilakukan dengan menginjeksikan target realisasi investasi swasta tahun 2011 dari BKPM yang diproporsikan ke sektor pertanian dan agroindustri berdasarkan rata-rata realisasi investasi 2006-2009. Berdasarkan SNSE 2005, pendapatan per rumahtangga terbesar diterima oleh rumahtangga bukan pertanian golongan atas di perkotaan yaitu 95,00 juta rupiah per tahun, sedangkan rumahtangga pertanian buruh menerima pendapatan per rumahtangga paling kecil yaitu 18,62 juta rupiah per tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa investasi yang diinjeksikan mampu meningkatkan pendapatan pada semua kelompok rumahtangga baik pada rumahtangga pertanian maupun rumahtangga bukan pertanian. Kelompok rumahtangga pertanian berstatus pengusaha menerima kenaikan pendapatan terbesar yaitu 10.874,21 miliar rupiah, sedangkan kenaikan pendapatan terkecil adalah pada kelompok rumahtangga pertanian berstatus buruh yaitu 2.792,23 miliar rupiah. Kelompok rumahtangga yang paling diuntungkan dari adanya injeksi investasi adalah kelompok-kelompok rumahtangga di perdesaan yang mengalami pertumbuhan pendapatan lebih besar daripada kelompok rumahtangga di perkotaan. Pertumbuhan pendapatan di perdesaan pada kelompok rumahtangga bukan pertanian golongan atas sebesar 4,87 persen, rumahtangga pertanian pengusaha 2,50 persen, rumahtangga pertanian buruh 2,05 persen dan rumahtangga bukan pertanian golongan rendah 1,86 persen. Sedangkan pertumbuhan rumahtangga bukan pertanian golongan rendah dan golongan atas di perkotaan berturut-turut sebesar 1,51 persen dan 1,65 persen. Berdasarkan hasil penelitian, pemerintah perlu mengambil kebijakan yang lebih berpihak kepada rumahtangga pertanian khususnya buruh seperti kemudahan akses permodalan agar kelompok rumahtangga ini menerima balas jasa yang lebih besar karena kepemilikan faktor produksi yang lebih banyak. Pemerintah juga perlu membangun iklim investasi yang kondusif misalnya dengan segera mewujudkan asuransi pertanian mengingat besarnya resiko usaha di sektor pertanian, sehingga dapat memacu investasi swasta pada sektor pertanian dan agroindustri.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcEconomics and managementid
dc.subject.ddcEconomics and development studiesid
dc.titleDampak investasi di sektor pertanian dan agroindustri terhadap pendapatan rumah tangga di Indonesia (Pendekatan SNSE 2005)id
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordSAMid
dc.subject.keywordInvestmentid
dc.subject.keywordAgricultureid
dc.subject.keywordAgroindustryid
dc.subject.keywordHousehold incomeid
dc.subject.keywordBogor Agricultural Universityid
dc.subject.keywordInstitut Pertanian Bogorid
dc.subject.keywordIPBid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record