| dc.description.abstract | Sektor pertanian dan agroindustri merupakan sektor yang berperan
penting dalam pembentukan PDB dan penyerapan tenaga kerja. Pengembangan kedua
sektor ini melalui investasi akan meningkatkan kapasitas produksi sehingga dapat
meningkatkan pendapatan sebagian besar tenaga kerja. Namun, investasi pada
sektor pertanian dan agroindustri masih sangat kecil bila dibandingkan investasi
pada sektor industri pengolahan lainnya dan sektor tersier. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui dampak investasi di sektor pertanian dan agroindustri terhadap
pendapatan rumahtangga di Indonesia.
Menggunakan model SNSE 2005, simulasi dilakukan dengan
menginjeksikan target realisasi investasi swasta tahun 2011 dari BKPM yang
diproporsikan ke sektor pertanian dan agroindustri berdasarkan rata-rata realisasi
investasi 2006-2009. Berdasarkan SNSE 2005, pendapatan per rumahtangga
terbesar diterima oleh rumahtangga bukan pertanian golongan atas di perkotaan
yaitu 95,00 juta rupiah per tahun, sedangkan rumahtangga pertanian buruh
menerima pendapatan per rumahtangga paling kecil yaitu 18,62 juta rupiah per
tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa investasi yang diinjeksikan mampu
meningkatkan pendapatan pada semua kelompok rumahtangga baik pada
rumahtangga pertanian maupun rumahtangga bukan pertanian. Kelompok
rumahtangga pertanian berstatus pengusaha menerima kenaikan pendapatan
terbesar yaitu 10.874,21 miliar rupiah, sedangkan kenaikan pendapatan terkecil
adalah pada kelompok rumahtangga pertanian berstatus buruh yaitu 2.792,23
miliar rupiah. Kelompok rumahtangga yang paling diuntungkan dari adanya
injeksi investasi adalah kelompok-kelompok rumahtangga di perdesaan yang
mengalami pertumbuhan pendapatan lebih besar daripada kelompok rumahtangga
di perkotaan. Pertumbuhan pendapatan di perdesaan pada kelompok rumahtangga
bukan pertanian golongan atas sebesar 4,87 persen, rumahtangga pertanian
pengusaha 2,50 persen, rumahtangga pertanian buruh 2,05 persen dan
rumahtangga bukan pertanian golongan rendah 1,86 persen. Sedangkan
pertumbuhan rumahtangga bukan pertanian golongan rendah dan golongan atas di
perkotaan berturut-turut sebesar 1,51 persen dan 1,65 persen.
Berdasarkan hasil penelitian, pemerintah perlu mengambil kebijakan
yang lebih berpihak kepada rumahtangga pertanian khususnya buruh seperti
kemudahan akses permodalan agar kelompok rumahtangga ini menerima balas
jasa yang lebih besar karena kepemilikan faktor produksi yang lebih banyak.
Pemerintah juga perlu membangun iklim investasi yang kondusif misalnya
dengan segera mewujudkan asuransi pertanian mengingat besarnya resiko usaha
di sektor pertanian, sehingga dapat memacu investasi swasta pada sektor pertanian
dan agroindustri. | id |