| dc.description.abstract | Indonesia dengan iklim yang hangat dan lembap, merupakan wilayah kondusif bagi pembentukan awan-awan konvektif, seperti Cumulonimbus (Cb), yang merupakan pemicu terjadinya badai guntur dan hujan deras. Keduanya diduga memiliki hubungan dengan beberapa mode variasi iklim, terutama osilasi dalam skala waktu intra-musiman. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola kejadian badai guntur dan intensitas curah hujan di Sumatera saat fase kuat Boreal Summer Intra-Seasonal Oscillation (BSISO). BSISO merupakan mode variasi iklim pada skala waktu intra-musiman yang mendominasi saat musim panas di bumi belahan utara. Data kejadian badai guntur didapatkan dari laporan sinoptik stasiun cuaca, sedangkan data intensitas curah hujan harian didapatkan dari data CHIRPS versi 2.0. Analisis komposit antara badai guntur dan intensitas curah hujan selama fase kuat BSISO dilakukan pada penelitian ini. Hasilnya menunjukkan bahwa angka kejadian badai guntur rata-rata tinggi saat fase 1 - 2 dari BSISO1 dan fase 6 - 7 dari BSISO2, sedangkan rata-rata intensitas curah hujan tinggi saat fase 1 - 2 dari BSISO1 dan fase 2 - 3 dari BSISO2. Analisis korelasi signifikan antara badai guntur dengan indeks kuat BSISO1 berada pada fase 3 - 4 (r = 0.53, 0.40) dan BSISO2 pada fase 2 - 3 (r = 0.34, 0.30), sedangkan antara intensitas curah hujan dengan indeks kuat BSISO1 dan BSISO2 sama-sama berada pada fase 1 – 3, dengan r=0.26, 0.27 dan 0.33 untuk BSISO1 dan r=0.36, 0.20 dan 0.40 untuk BSISO2. | id |