Show simple item record

dc.contributor.advisorBudiarti, Tati
dc.contributor.authorSundari, Siti Damayanti
dc.date.accessioned2023-10-25T11:45:25Z
dc.date.available2023-10-25T11:45:25Z
dc.date.issued2005
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/128416
dc.description.abstractPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kemasakan dan kondisi simpan terbaik yang dapat mempertahankan viabilitas benih buncis pada beberapa periode simpan yang dilaksanakan di PT. Surya Bumi Manunggal, Ciawi Bogor dan Laboratorium Penyimpanan Teknologi Benih, Kampus Dramaga Institut Pe rtanian Bogor pada bulan November 2003 sampai Juli 2004. Penelitian terdiri atas dua set percobaan. Percobaan pertama adalah penyimpanan pada ruang AC(± 20°C, RH 65-75%) dan ruang simpan kamar (± 28°C, RH 56-84%). Masing-masing percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial yang terdiri dari tiga faktor perlakuan. Faktor pertama adalah periode simpan yang terdiri dari 4 taraf, yaitu O bulan (B1 ), 2 bulan (B2), 4 bulan (B3 ) dan 6 bulan (B4). Faktor kedua adalahjenis kemasan yang terdiri dari 2 taraf, yaitu Alumunium Foil (J1 ) dan Plastik PE (Ji). Fal-tor ketiga adalah tingkat kemasakan benih yang terdiri dari 4 taraf, yaitu polong berwama hijau kekuningan (M1 ), kuning semua (M2 ), coklat (M3) dan coklat kehitaman (Mi). Benih Buncis Varietas Lokal Bogor dipanen berdasarkan 4 tingkat ke masakan benih. Tingkat kemasakan ini dilihat dari wama polong yaitu hijau ke kuningan (32 hari setelah bunga mekar (hsb)), kuning semua (34 hsb), coklat (36 hsb) dan coklat kehitaman ( 40 hsb ). Pada setiap periode simpan (2 bulan sekali) dilakukan uji viabilitas dengan menggunakan tolok ukur Kadar Air (KA), Daya Berkecambah (DB), Berat Kering Kecambah Normal (BKKN), Kecepatan Tumbuh (Ker) dan Keserempakan Tumbuh (Ksr) serta First Count (FC). Hasil pada percobaan 1 (penyimpanan pada ruang AC) menunjukkan benih yang memiliki viabilitas tertinggi selama penyimpanan adalah benih yang dipanen pada 34 hsb yaitu benih yang dipanen ketika polongnya berwama laming semua namun pemanenan masih bisa diundur hingga 36 hsb. Kemasan alumunium foil mampu mempertahankan kadar air benih selama penyimpanan daripada kemasan plastik. Terdapat fenomena after ripening pada benih buncis, yaitu daya berkecambahnya meningkat sampai periode simpan 4 bulan lalu cenderung menurun setelah 6 bulan. Hasil percobaan 2 (penyimpanan pada ruang kamar) menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan percobaan 1. Benih yang memiliki viabilitas tertinggi selama penyimpanan adalah benih yang dipanen pada 34 hsb sedangkan benih yang dipanen pada 40 hsb memiliki viabilitas terendah. Kemasan alumunium foil mampu mempertahankan kadar air benih selama penyimpanan daripada kemasan plastik. Disini juga terlihat adanya fenomena after ripening pada benih buncis, yaitu daya berkecambanya meningkat sampai periode simpan 4 bulan lalu cenderung menurun setelah 6 bulan. Dari penelitian disimpulkan bahwa tingkat kemasakan clan kondisi simpan mempengaruhi viabilitas benih selama penyimpanan. Kombinasi terbaik untuk menyimpan benih adalah benih yang dipanen antara 34 hsb sampai 36 hsb dan disimpan dalam kemasan alumunium foil. Benih mengalami peningkatan viabilitas sampai periode simpan 4 bulan dan cenderung menurun setelah 6 bulan.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcBuncisid
dc.subject.ddcPeriode simpanid
dc.subject.ddcKemasanid
dc.titlePengaruh Periode Simpan, Jenis Kemasan dan Tingkat Kemasakan terhadap Viabilitas Benih Buncis (Phaseolus vulgaris L)id
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record