| dc.description.abstract | Keragaman paria Indonesia perlu dikembangkan pemanfaatannya dalam
perakitan varietas baru. Persilangan tanaman memerlukan serbuk sari dengan
viabilitas tinggi dan tersedia setiap saat. Penelitian ini bertujuan mempelajari
fenologi pembungaan paria, mendapatkan media pengecambahan serbuk sari paria
yang menghasilkan viabilitas tertinggi, menentukan waktu panen serbuk sari paria
yang tepat, dan menentukan suhu ruang simpan untuk mempertahankan viabilitas
serbuk sari paria. Penelitian dilakukan selama bulan Desember 2015-Mei 2016 di
Kebun Percobaan Leuwikopo, IPB dan Laboratorium Biologi dan Biofisik Benih,
Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB. Benih paria lokal (Momordica
charantia L.) terdiri atas 3 genotipe (No 5, No 6, dan No 9) diperoleh dari Balai
Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa). Periode pembungaan paria (Momordica
charantia L.) dimulai pada 34-42 hari setelah tanaman dengan rasio bunga jantan :
betina ketiga genotipe yang diteliti pada 96 hari setelah tanam (HST) sebesar 22:1.
Persentase pembentukan buah paria genotipe No 5, No 6 dan No 9 masing-masing
sebesar 82%, 63%, dan 55%. Pollen germination medium (PGM) modifikasi,
Brewbaker dan Kwack (BK), dan BK modifikasi adalah media pengecambahan
yang digunakan untuk menentukan viabilitas serbuk sari paria. Daya berkecambah
serbuk sari paria lebih tinggi pada media pollen germination medium (PGM)
modifikasi daripada media Brewbaker dan Kwack (BK) dan BK modifikasi.
Panen serbuk sari dilakukan pada pukul 08.00, 10.00, 12.00, 14.00, dan 16.00
WIB. Panen serbuk sari paria lebih baik dilakukan saat bunga jantan antesis
sekitar pukul 08.00-10.00 WIB untuk mendapatkan viabilitas yang tinggi. Suhu
penyimpanan serbuk sari yang digunakan adalah refrigerator (5-6 °C), freezer (-
12-(-9) °C), dan deep freezer (-24-(-20) ºC). Deep freezer (-24-(-20) ºC) dapat
mempertahankan viabilitas serbuk sari paria genotipe No 5, No 6, dan No 9
hingga 30 HSS lebih baik daripada refrigerator (5-6 °C) dan freezer (-12-(-9) °C). | id |