| dc.description.abstract | Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia dari subsektor
perkebunan yang berpotensi untuk dikembangkan. Produksi kakao di Indonesia
besar namun kualitas kakao yang dihasilkan kurang baik. Pasca diterapkannya
Peraturan Menteri Keuangan No. 67/PMK.011/2010 tentang penetapan barang
ekspor yang dikenakan bea keluar dan tarif bea keluar menyebabkan jumlah
industri domestik meningkat, sehingga permintaan kakao meningkat. Guna
memenuhi permintaan kakao yang semakin meningkat, maka dilakukan impor
kakao yang memiliki kualitas baik. Tujuan penelitian untuk menganalisis: (1)
faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran, permintaan, dan harga kakao di
Indonesia; (2) dampak perubahan faktor ekonomi internal dan eksternal terhadap
penawaran, permintaan, dan harga kakao di Indonesia; dan (3) dampak perubahan
faktor ekonomi internal dan eksternal terhadap kesejahteraan produsen dan
konsumen kakao di Indonesia. Model perdagangan kakao Indonesia dibangun
sebagai sistem persamaan simultan yang terdiri dari 22 persamaan (14 persamaan
struktural dan 8 persamaan identitas) dan diestimasi menggunakan metode Two
Stage Least Squares (2SLS) dengan data time series tahun 1990-2013. Kombinasi
penerapan pajak ekspor kakao 15 persen dan peningkatan harga kakao di tingkat
petani sebesar 10 persen meningkatkan kesejahteraan produsen, kesejahteraan
konsumen, dan penerimaan pemerintah sehingga menghasilkan kesejahteraan
nasional terbesar. Oleh karena itu, guna menghasilkan kesejahteraan nasional
terbesar maka disarankan mengkombinasikan penerapan pajak ekspor kakao 15
persen dan peningkatan harga kakao di tingkat petani sebesar 10 persen sebagai
insentif bagi produsen kakao untuk melakukan fermentasi sehingga menghasilkan
kakao berkualitas baik. | id |