Show simple item record

dc.contributor.advisorHakim, Dedi Budiman
dc.contributor.authorMayangsari, Christina
dc.date.accessioned2023-10-19T01:13:26Z
dc.date.available2023-10-19T01:13:26Z
dc.date.issued2010
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/126985
dc.description.abstractKakao adalah salah satu komoditi utama nasional yang tumbuh dengan baik di Indonesia dan berkembang menjadi salah satu komoditas penting dalam jajaran ekspor hasil perkebunan. Nilai ekspor biji kakao Indonesia menempati urutan ke tiga terbesar ekspor sektor perkebunan dalam menyumbang devisa negara setelah komoditas kelapa sawit dan karet. Kakao mempunyai arti penting di Indonesia dilihat dari aspek sosial dan ekonomi, selain sebagai penghasil devisa negara yang cukup potensial, komoditi ini juga sangat berperan dalam penyediaan lapangan pekerjaan dan sebagai sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi keluarga petani. Hal ini dapat dilihat dari kepemilikan areal tanam kakao nasional yang sebagian besar dikelola oleh perkebunan rakyat. Produksi yang dicapai sampai saat ini telah menempatkan Indonesia sebagai produsen biji kakao terbesar ke tiga di dunia setelah Pantai Gading (Cote I’voire) dan Ghana. Selain sebagai negara produsen biji kakao terbesar di Asia Oceania, Indonesia juga merupakan negara net exportir ke tiga di dunia dengan negara tujuan ekspor utama adalah Malaysia, Amerika Serikat, dan Singapura. Namun kondisi ini dirasa belum maksimal karena nilai ekspor ke tiga negara tersebut masih berfluktuatif dengan volume yang tidak stabil dari tahun ke tahun. Produksi kakao dan luas areal kakao terus meningkat namun belum diikuti dengan produktivitas yang optimum. Selain itu, biji kakao Indonesia pada umumnya belum memenuhi standar mutu biji kakao ekspor, akibatnya harga biji kakao Indonesia dikenakan potongan harga oleh negara-negara tujuan ekspornya yang mengakibatkan harga biji kakao Indonesia tertekan di pasar Internasional. Indonesia juga masih dihadapkan pada kenyataan di mana tingkat konsumsi domestik yang relatif rendah karena belum optimalnya perkembangan industri pengolahan biji kakao di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan biji kakao di Indonesia melalui pendekatan respon areal dan produktivitas kakao, konsumsi domestik, penawaran ekspor biji kakao Indonesia ke Malaysia, Amerika Serikat, dan Singapura, dan harga biji kakao domestik, serta menganalisis dampak kebijakan ekonomi dan eksternal terhadap keseimbangan pasar biji kakao domestik. Pada penelitian ini, untuk melihat faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan biji kakao Indonesia tersebut digunakan pendekatan ekonometrika dengan model persamaan simultan (Simultaneous Equation) serta model Nerlovian pada persamaan respon luas areal dan produktivitasnya. Data yang digunakan adalah data sekunder dari tahun 1984 - 2008. Model yang dibangun terdiri dari 7 persamaan struktural dan 2 persamaan identitas. Model persamaan simultan diduga dengan menggunakan metode Two Stage Least Squares (2SLS), sedangkan analisis kebijakan ekonomi menggunakan simulasi kebijakan historis. Penelitian ini mengggunakan metode analisis kuantitatif untuk menjelaskan seberapa besar pengaruh variabel-variabel bebas yang digunakan di dalam penelitian ini memengaruhi variabel tak bebas yang dikaji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku luas areal kakao dipengaruhi secara nyata oleh harga riil biji kakao domestik tahun sebelumnya dan bedakalanya. Produktivitas kakao dipengaruhi secara nyata oleh harga riil pupuk urea, upah riil buruh tani, suku bunga riil investasi, dan bedakalanya. Konsumsi domestik biji kakao dipengaruhi secara nyata oleh GDP riil per kapita Indonesia dan bedakalanya. Penawaran ekspor biji kakao Indonesia ke Malaysia dipengaruhi secara nyata oleh harga riil ekspor biji kakao Indonesia, produksi biji kakao Indonesia, dan bedakalanya. Penawaran ekspor biji kakao Indonesia ke Amerika Serikat dipengaruhi secara nyata oleh kurs riil rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dan bedakalanya. Penawaran ekspor biji kakao Indonesia ke Singapura dipengaruhi secara nyata oleh harga riil ekspor biji kakao Indonesia. Harga biji kakao domestik dipengaruhi secara nyata oleh harga riil biji kakao dunia, produksi biji kakao Indonesia, kurs riil rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dan bedakalanya. Hasil simulasi kebijakan ekonomi dan eksternal menunjukkan bahwa kebijakan penurunan suku bunga riil, peningkatan upah riil buruh tani, depresiasi kurs riil berdampak positif terhadap perkembangan kakao Indonesia karena kebijakan tersebut dapat mendorong produktivitas, produksi, penawaran ekspor, dan penerimaan devisa Indonesia. Sementara itu, peningkatan harga riil kakao dunia dapat menyebabkan peningkatan pada harga riil biji kakao domestik. Peningkatan harga riil biji kakao domestik ini merupakan insentif prospek usaha kakao yang baik sehingga juga akan merangsang petani untuk memperluas areal tanam, produksi, dan produktivitas kakaonya.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcEconomic and managementid
dc.subject.ddcEconomicid
dc.titleAnalisis perdagangan biji kakao indonesia suatu analisis simulasi (Periode 1984 - 2008)id
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordPerdagangan biji kakao indonesiaid
dc.subject.keywordTwo Stage Least Squares (2SLS)id
dc.subject.keywordSimulasi kebijakan ekonomi dan eksternalid
dc.subject.keywordBogor Agricultural Universityid
dc.subject.keywordInstitut Pertanian Bogorid
dc.subject.keywordIPBid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record