| dc.description.abstract | Peningkatan jumlah penduduk, berkurangnya lahan sawah dan penurunan
produktivitas pertanian menyebabkan terjadinya kerawanan pangan. Ditambah lagi
dengan krisis ekonomi semakin membebani pemerintah dan rakyat Indonesia dalam
penyediaan pangan. Upaya mengatasi krisis pangan dan krisis ekonomi dapat
ditempuh melalui diversifikasi pangan dengan menerapkan agribisnis profesional yaitu
melakukan upaya yang mendatangkan keuntungan ganda yaitu mampu meningkatkan
penyediaan pangan sekaligus mampu pula meningkatkan pendapatan masyarakat. Oleh
karena itu, pengembangan pertanian harus diprioritaskan pada komoditas yang
memiliki nilai ekonomi tinggi, dapat dijadikan sebagai bahan pangan alternatif, toleran
pada kondisi lingkungan Indonesia, pemasarannya mudah, serta mampu diusahakan
pada lahan kering sehingga tidak bersaing dengan tanaman pangan utama dalam
penggunaan lahan. Salah satu tanaman yang cocok dikembangkan untuk mengatasi
masalah pangan dan ekonomi adalah tanaman kentang.
Konsep Supply Chain Management telah banyak diterapkan oleh ritel-ritel
modern seperti supermarket, dimana konsep ini digunakan untuk mcmbantu dalnm
pcngaturan dan pcngkoordinasian aktivitas pcmasokan bcragam produk haik scgm
maupun olahan yang dijual oleh supermarket yang memikiki ratusan bahkan ribuun
pcmasok. Pcnerapan konsep tersebut juga mempcrmudah supermarket untuk
mengetahui persediaan barang di setiap pamasoknya atau di sctiap toko atuu
gudangnya. Berdasarkan ha! tersebut, konsep Supply Chain Management dicoba untuk
diterapkan pada aliran pasokan komoditas kentang melalui pasar tradisional di Kota
Semarang, Propinsi Jawa Tengah
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pola rantai pasokan
(supply chain) dan sebaran nilai (value chain) komoditas kentang dari tingkat petani
hingga tingkat konsumen akhir baik melalui pasar modern maupun pasar tradisional.
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi hanya membahas mengenai rantai pasokan
komoditas kentang, pelaksanaan kegiatan anggota mata rantai pasokan (Supply Chain),
serta marjin dan sebaran atau distribusinya bagi masing-masing anggota aliran Supply
Chain. Perilaku pembelian pelanggan hanya diamati secara umum sehingga masih
memerlukan penelitian secara mendalam mengenai perilaku konsumen kcntang
scbagai titik awal pada rantai pasokan kentang. Penclitian ini juga tidak memhnhus
mcngcnai manajemen internal dari pasar modern, scperti hypermarket Makrn yang di
teliti, karena keterhatasan data yang diperoleh penulis
Penelitian ini dilakukan di desa Pcsurcmm, kccamatan Batur, knbuputen
Banjamegara dan Kota Semarang, Propinsi Jawa Tengah. Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Pengambilan data dilakukan
melalui pengamatan langsung, wawancara, dan literatur-literatur yang relevan dengan
penelitian ini. Data kuantitatif yang diperoleh kemudian diolah dengan program
MS Excel 2000 untuk mengetahui marjin, sebaran, dan bagian yang diterima oleh
masing-masing anggota rantai pasokan. Data-data kualitatif dianalisis secara deskriptif
dengan pendekatan konsep Supply Chain Management agar diperoleh gambaran secara
mendalam dan_obyektif mengenai rantai pasokan kentang. Peneiitian rantai pasokan
kentang melalui pasar tradisional diwakili oleh dua pola rantai pasokan yang melalui
pasar grosir Johar Semarang dan pasar grosir Bandungan Semarang, sedangkan rantai
pasokan melalui pasar modem diwakili oleh hipermarket Makro.
Pada ketiga pola rantai pasokan yang dianalisis, penyebaran marjin dan besar
marjin pemasaran memiliki kecenderungan yang sama. Berdasarkan distribusi marjin
dan bagian anggota rantai pasokan pada ketiga rantai pasokan di atas, diperoleh bahwa
penyebaran marjin belurn merata diantara ketiga rantai pasokan. Penyebaran yang
belum merata karena adanya perlakuan-perlakuan pasca panen (pembersihan,
pemotongan, pengkelasan, pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan) atau biaya-biaya dalam penanganan komoditas kentang antar anggota rantai pasokan. Berdasarkan
analisis marjin pemasaran, dapat dilihat bahwa rantai pasokan komoditas kentang mutu
kelas AB Super, kelas AB, kelas ABC melalui pola rantai pasokan 1 lebih efisien jika
dibandingkan dengan pola rantai pasokan 2 dan 3, dilihat dari total margin yang
dihasilkan paling rendah dan bagian petani yang lebih besar. Akan tetapi, jika dilihat
dari rasio keuntungan terhadap biaya, pola rantai pasokan 3 memiliki nilai terbesar
dibandingkan dengan pola rantai pasokan 1 dan 2.
Perilaku pembelian konsumen pada ketiga rantai pasokan dipengaruhi oleh
faktor budaya, faktor pribadi, dan faktor psikologis. Perbandingan antara ketiga rantai
pasokan di atas, baik rantai pasokan yang melalui pasar tradisional maupun pasar
modern dapat dilihat dari aktifitas-aktifitas fisik dalam proses pengadaan barang.
Aktifitas-aktifitas fisik yang termasuk dalam proses pengadaan barang antara lain
adalah pemesanan, penerimaan, penempatan barang, penjualan, pengembalian, dan
pembuangan.
Keterlibatan konsumen yang rendah dalam penentuan komoditas kentang yang
akan dikonsumsi mengharuskan para pemasar untuk melakukan tindakan- tindakan
perbaikan. Informasi pasar (perubahan selera konsumen) sebaiknya diinformasikan
oleh pelaku mulai dari tingkat pengecer ke tingkat rantai pasokan sebelumnya (grosir,
pemasok, dan pedagang pengumpul) hingga ke tingkat usahatani. Pihak- pihak yang
terlibat dalarn rantai pasokan komoditas kentang sebaiknya mengembangkan
kerjasama yang sating menguntungkan antar pelaku rantai pasokan untuk menjamin
keberlangsungan rantai pasokan yang utuh dan tidak tersekat-sekat. Untuk
mengoptimalkan suatu rantai pasokan diperlukan adanya penelitian lebih lanjut secara
mendalam mengenai perilaku konsumen terhadap pembelian komoditas kentang pada
pola rantai pasokan baik melalui pasar tradisional maupun pasar modern. | id |