Show simple item record

dc.contributor.advisorDamayanti, Tri Asmira
dc.contributor.advisorSantoso, Sugeng
dc.contributor.authorCahyati, Iwe
dc.date.accessioned2023-08-23T08:04:16Z
dc.date.available2023-08-23T08:04:16Z
dc.date.issued2023-08-22
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/124259
dc.description.abstractKedelai merupakan salah satu komoditas unggulan di Indonesia. Produksi kedelai selalu mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Banyak faktor yang memengaruhi fluktuasi produksi kedelai di Indonesia, salah satunya disebabkan oleh infeksi virus. Informasi mengenai identitas virus yang menginfeksi tanaman kedelai dan upaya pengelolaannya di lapangan masih sangat terbatas di Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mendeteksi dan mengidentifikasi virus yang menginfeksi tanaman kedelai di Bima Nusa Tenggara Barat serta upaya pengelolaannya di lapangan. Sampel tanaman bergejala telah dikoleksi dengan metode purposive sampling yaitu sebanyak 50 sampel daun dari masing-masing lokasi. Wawancara terhadap 40 petani menggunakan kuisioner terstruktur telah dilakukan untuk mendapatkan informasi hubungan teknik budi daya dengan insidensi penyakit pada kedelai di lapangan. Sampel diambil dari beberapa pertanaman kedelai di tiga kecamatan yaitu Palibelo, Bolo, dan Madapangga. Identifikasi virus baru dan virus yang dominan dilakukan dengan polymerase chain reaction (PCR) atau reverse transcription (RT)-PCR menggunakan primer universal CP-Potyvirus, CI-Potyvirus, Begomovirus, dan Polerovirus dan perunutan serta analisis DNA. Perlakuan pengendalian virus pada kedelai di lapangan terdiri atas kontrol (A1), kitosan (A2), ekstrak daun bogenvil (A3), kitosan+ekstrak daun bogenvil (A4), dan perlakuan pembanding insektisida (A5) yang ditanam dalam petak dengan dan tanpa tanaman pembatas. Insidensi dan keparahan penyakit serta populasi kutudaun serta AUDPC intensitas diamati dan diukur. Virus yang menginfeksi tanaman uji dideteksi dengan metode dot immunobinding assay (DIBA). Hasil analisis data wawancara petani menunjukkan bahwa varietas kedelai, asal benih, penggunaan insektisida, dan frekuensi penggunaan pestisida berpengaruh nyata terhadap insidensi penyakit pada kedelai di lapangan. Berdasarkan hasil deteksi dan identifikasi, ada 5 virus yang menginfeksi tanaman kedelai di Bima Nusa Tenggara Barat yaitu Uraria mosaic virus (UMV), Bean common mosaic virus strain Peanut stripe (BCMV-PSt), BCMV, Pepper yellow leaf curl virus (PepYLCV), dan Soybean chlorotic leafroll virus (SbCLRV). Analisis nukleotida menunjukkan bahwa similaritas isolat PepYLCV, SbCLRV, BCMV, UMV, dan BCMV-PSt berturut-turut berkisar 99,1-99,6%, 96,0- 97,1%, 90-91%, 75,4%, dan 96,0-99,4% terhadap isolat virus yang sama dari negara lain. Similaritas nukleotida paling tinggi PepYLCV dengan isolat PepYLCAV (LC387328) asal Indonesia, SbCLRV dengan isolat Cina (OM507197), BCMV dengan isolat Meksiko (AF328751), UMV dengan isolat Jepang (LC477217), dan BCMV-PSt dengan isolat Turki (MZ442684). Analisis pohon filogeni menunjukkan bahwa hampir semua virus yang teridentifikasi di Bima berada dalam satu kluster dan terpisah dengan kelompok isolat negara lain, kecuali UMV dan BCMV-PSt. Virus dari Bima tidak sedikit memiliki kelompok yang dekat dengan isolat Indonesia. Penelitian ini merupakan laporan pertama PepYLCV menginfeksi tanaman kedelai di NTB, serta laporan pertama SbCLRV dan UMV menginfeksi tanaman kedelai di Indonesia. Efektivitas perlakuan pada petak dengan tanaman pembatas mampu menurunkan populasi kutudaun, insidensi dan keparahan penyakit lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang sama pada petak tanpa tanaman pembatas. Hasil pengujian perlakuan pengendalian terhadap populasi kutudaun di lapangan menunjukkan sangat efektif jika dilakukan kombinasi pengelolaan terpadu seperti penggunaan kitosan, ekstrak daun bogenvil, dan kitosan+ekstrak daun bogenvil yang dikombinasikan dengan penggunaan tanaman pembatas jagung. Perlakuan pengendalian yang dikombinasikan dengan penggunaan tanaman pembatas tersebut juga terbukti mampu mengurangi intensitas penyakit mosaik pada kedelai di lapangan, selain itu perlakuan kitosan+ekstrak daun bogenvil dengan tanaman pembatas mampu meningkatkan produksi kedelai melebihi perlakuan pembanding (insektisida). Efektivitas perlakuan kitosan, ekstrak daun bogenvil, kombinasi, dan insektisida dalam mengendalikan kutudaun pada petak tanpa tanaman pembatas memiliki efektivitas sebesar 36,8-53,8%, sedangkan perlakuan yang sama dalam petak dengan tanaman pembatas sebesar 57,1-84,8%, sedangkan efektivitas perlakuan kitosan, ekstrak daun bogenvil, kombinasi, dan insektisida dalam menurunkan insidensi dan keparahan penyakit pada petak tanpa pembatas ialah berkisar 37,5-80,6% dan 55,4-87,3%, sedangkan pada petak dengan pembatas berkisar 53,1-86,3% dan 69,2-91,0% bergantung pada perlakuan. Perlakuan kitosan, ekstrak daun bogenvil, dan kombinasi pada petak dengan tanaman pembatas bisa dijadikan acuan petani untuk mengendalikan infeksi virus dan meningkatkan produksi kedelai. Berdasarkan analisis DIBA menunjukkan terdapat 3 spesies virus yang terkonfirmasi positif di lahan percobaan yaitu BCMV, BYMV, dan CPMMV.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.titleVirus pada Kedelai dan Upaya Pengelolaannya di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Baratid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordbarrier cropsid
dc.subject.keywordIPMid
dc.subject.keywordNTBid
dc.subject.keywordsoybeanid
dc.subject.keywordvirus identityid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record