| dc.contributor.advisor | Marliyati, Sri Anna | |
| dc.contributor.advisor | Setiawan, Budi | |
| dc.contributor.author | Avicena, Rasyid | |
| dc.date.accessioned | 2023-08-11T10:00:05Z | |
| dc.date.available | 2023-08-11T10:00:05Z | |
| dc.date.issued | 2023 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/123728 | |
| dc.description.abstract | Prediabetes mellitus merupakan keadaan kadar glukosa darah tidak cukup tinggi untuk dikategorikan sebagai diabetes mellitus tetapi sudah mendekati angka borderline. Prediabetes ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah puasa 110–125 mg/dL. Secara global individu dengan prediabetes diperkirakan sekitar 300 juta orang. Setiap tahun 4–9 % orang dengan prediabetes akan menjadi diabetes. Upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan prevalensi diabetes mellitus salah satunya ialah dengan mencegah atau memperlambat berubahnya prediabetes menjadi diabetes mellitus, yaitu dengan mengkonsumsi makanan yang dapat mengendalikan kadar glukosa darah seperti teh. Berbagai jenis teh mengandung komponen kimia seperti flavonoid, antosianin, delphinidin, dan katekin yang efektif dalam mengendalikan kadar glukosa darah sebagai antidiabetes. Teh putih dan teh hijau merupakan jenis teh dengan kandungan flavonoid yang kaya dibanding dengan jenis teh lainnya, zat ini kaya akan polifenol, katekin, epikatekin, epigallokatekin, dan epigallokatekin-3-galat. Penelitian mengenai efektivitas teh putih dibandingkan dengan teh hijau dalam menurunkan kadar glukosa darah pada subjek penderita prediabetes mellitus masih belum banyak dilakukan. Penelitian terdahulu yang telah dilakukan banyak menggunakan subjek hewan percobaan, oleh karenanya peneliti tertarik untuk meneliti mengenai efektivitas teh putih dibandingkan dengan teh hijau dalam menurunkan kadar glukosa darah pada subjek prediabetes mellitus.
Penelitian ini menggunakan desain paired samples clinical trials design. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Muara Kelingi Kabupaten Musi Rawas bulan Januari sampai Maret 2023. Kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu subjek dengan kadar glukosa darah puasa 110-125 mg/dL, berusia 40 sampai 59 tahun, dan bersedia mengkonsumsi teh putih dan teh hijau selama 28 hari. Kriteria eksklusi pada penelitian ini yaitu subjek yang mengkonsumsi obat – obatan yang dapat menurunkan kadar glukosa darah, dalam kondisi hamil, menopause, merokok, serta memiliki penyakit tidak menular seperti hipertensi, gagal ginjal, dan jantung. Protokol penelitian ini telah disetujui oleh Komisi Etik Universitas Airlangga dengan nomor 215/HRECC.FODM/III/2023. Status gizi subjek diamati dengan menggunakan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT). Aktivitas fisik dicatat menggunakan kuisioner sebelum intervensi dan selama intervensi. Data asupan makanan subjek selama intervensi didapat melalui kuesioner food recall 2x24 jam dan food frequency dengan alat bantu booklet foto makanan. Uji aktivitas antioksidan, kadar katekin dan EGCG dilakukan dua kali pengulangan dengan menggunakan metode DPPH dan HPLC. Pengukuran kadar glukosa darah subjek dilakukan pre dan post-intervensi pada masing-masing intervensi teh putih dan teh hijau dengan metode finger prick-capilarry blood samples menggunakan glukometer Easy Touch Device. Sebelum pengambilan darah dilakukan, subjek diharuskan berpuasa selama 8 jam dan hanya boleh mengonsumsi air putih selama waktu tersebut. Pengolahan dan analisis data menggunakan Uji paired sample t-test dan wilcoxon signed rank test.
Rata-rata aktivitas antioksidan teh putih lebih kuat secara signifikan (p=0,00) dibandingkan dengan teh hijau, demikian juga kandungan EGCG teh putih lebih besar secara signifikan dibandingkan teh hijau (p=0,002), namun kandungan katekin teh putih tidak berbeda signifikan dibandingkan dengan teh hijau (p=0,726). Rata-rata subjek memiliki status gizi overweight dan tingkat aktivitas fisik ringan. Tidak ada perubahan asupan zat gizi subjek sebelum dan selama intervensi dilakukan (p>0,05). Kecukupan zat gizi subjek juga tidak berbeda secara signifikan (p>0,05) antara sebelum dengan selama intervensi dan antara perlakuan teh putih dengan teh hijau, dengan asupan karbohidrat, lemak, vitamin B12, magnesium, zink dalam kategori cukup, dan vitamin C serta vitamin E dalam kategori kurang. Terjadi penurunan kadar glukosa darah puasa subjek yang signifikan setelah intervensi teh putih (p=0,00), sedangkan pada teh hijau terjadi penurunan namun tidak signifikan (p=0,589). Rata-rata selisih penurunan kadar glukosa darah puasa setelah intervensi teh putih signifikan lebih besar (p=0,01) dibandingkan dengan teh hijau. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teh putih memiliki efek yang lebih besar dibandingkan dengan teh hijau pada penurunan kadar glukosa darah puasa pada subjek prediabetes mellitus. Teh putih lebih efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah dibandingkan dengan teh hijau. Hal ini diperkuat juga dengan hasil analisis fitokimia aktivitas antioksidan, kandungan EGCG, dan katekin pada teh putih yang lebih kuat dan lebih tinggi dibandingkan dengan teh hijau. Antioksidan, EGCG, dan katekin pada teh efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah.
Penelitian ini membuktikan bahwa teh putih dan teh hijau dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa pada subjek prediabetes mellitus, sehingga teh putih dan teh hijau dapat dijadikan sebagai alternatif fitoterapi untuk mencegah diabetes mellitus. Saran untuk penelitian selanjutnya dapat diberikan intervensi pada subjek diabetes mellitus tipe 2 dengan waktu yang lebih lama sampai dengan kadar glukosa darah subjek stabil agar memperkuat terkait efek teh putih dan teh hijau dalam menurunkan kadar glukosa darah. | id |
| dc.description.abstract | Prediabetes mellitus is a state of blood sugar levels not high enough to be categorized as diabetes mellitus but already close to the borderline. Prediabetes is characterized by elevated fasting blood glucose levels of 110-125 mg/dL. Globally, individuals with prediabetes are estimated to be around 300 million people. Every year 4-9% of people with prediabetes will become diabetic. Efforts can be made to reduce the prevalence of diabetes mellitus, one of which is to prevent or slow down the change of prediabetes to diabetes mellitus, namely by consuming foods that can control blood glucose levels such as tea. Various types of tea contain chemical components such as flavonoids, anthocyanins, delphinidin, and catechins that are effective in controlling blood sugar levels as antidiabetics. White and green tea is a type of tea with a rich flavonoid content compared to other types of tea, this substance is rich in polyphenols, catechins, epicatechins, epigallocatechins, and epigallocatechin-3-gallate. Research on the effectiveness of white tea compared to green tea in reducing blood sugar levels in subjects with prediabetes mellitus has not been widely conducted. Previous research that has been done uses many experimental animal subjects, therefore researchers are interested in examining the effectiveness of white tea compared to green tea in reducing blood glucose levels in subjects with prediabetes mellitus.
This study used a paired samples clinical trials design. The study was conducted in the work area of Muara Kelingi Health Center, Musi Rawas Regency from January to March 2023. The inclusion criteria in this study were subjects with fasting blood sugar levels of 110-125 mg/dL, aged 40 to 59 years, and willing to consume white tea and green tea for 28 days. Exclusion criteria in this study are subjects who take drugs that can reduce blood glucose levels, are pregnant, menopausal, smoke, and have non-communicable diseases such as hypertension, kidney, and heart failure. This research protocol has been approved by the Ethics Commission of Airlangga University with number 215/HRECC.FODM/III/2023. The nutritional status of the subjects was observed using the Body Mass Index (BMI) indicator. Physical activity was recorded using a questionnaire before the intervention and during the intervention. Subject’s food intake data during the intervention was obtained through 24-hour food recall and food frequency questionnaires with the help of food photo booklets. Antioxidant activity test, catechin, and EGCG levels were performed twice using DPPH and HPLC methods. Subject’s blood sugar levels were measured pre and post-intervention in each of the white tea and green tea interventions using the finger prick-capillary blood samples method using the Easy Touch Device glucometer. Before blood collection was carried out, subjects were required to fast for 8 hours and could only consume water during that time. Data processing and analysis using paired sample t-test and Wilcoxon signed rank test.
The average antioxidant activity of white tea was significantly stronger (p=0.00) than that of green tea, as well as the EGCG content of white tea was significantly greater than that of green tea (p=0.002), but the catechin content of white tea was not significantly different from that of green tea (p=0.726). On average, subjects had overweight nutritional status and light physical activity levels. There was no change in the subjects nutrient intake before and during the intervention (p>0.05). The nutrient adequacy of the subjects was also not significantly different (p>0.05) before and during the intervention and between the white tea and green tea treatments, with the intake of carbohydrates, fat, vitamin B12, magnesium, zinc in sufficient category, and vitamin C and vitamin E in the deficient category. There was a significant decrease in subject’s fasting blood glucose levels after the white tea intervention (p=0.00), while in green tea there was a decrease but not significant (p=0.589). The average difference in the decrease in fasting blood glucose levels after white tea intervention was significantly greater (p=0.01) compared to green tea. The results of this study proofed that white tea has a greater effect than green tea on reducing fasting blood glucose levels in prediabetes mellitus subjects. White tea is more effective in reducing blood glucose levels compared to green tea. This is also reinforced by the results of phytochemical analysis of antioxidant activity, EGCG, and catechin content in white tea which is stronger and higher than green tea. Antioxidants, EGCG, and catechins in tea are effective in reducing blood glucose levels.
This study proves that white tea and green tea can reduce fasting blood glucose levels in prediabetes mellitus subjects, so white tea and green tea can be used as alternative phytotherapy to prevent diabetes mellitus. Suggestions for further research can be given intervention on type 2 diabetes mellitus subjects with a long time until the subject's blood glucose levels stabilize to strengthen the related effects of white tea and green tea in reducing blood glucose levels. | id |
| dc.language.iso | id | id |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Efektivitas Teh Putih dibandingkan dengan Teh Hijau dalam Menurunkan Kadar Glukosa Darah pada Subjek Prediabetes Mellitus | id |
| dc.title.alternative | The Effectiveness of White Tea Compared to Green Tea in Lowering Blood Glucose Levels in Prediabetes Mellitus Subjects | id |
| dc.type | Thesis | id |
| dc.subject.keyword | blood glucose levels, effectiveness, green tea, white tea | id |