| dc.description.abstract | Kima merupakan jenis hewan moluska raksasa yang hidup di habitat dengan
cara berdiam diri dan ditemukan di perairan laut dangkal hingga kedalaman 20
meter, terutama di lingkungan terumbu karang dan padang lamun. Eksploitasi kima
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan protein, bahan souvenir, dan hiasan
aquarium. Pemanfaatan kima yang dilakukan nelayan menyebabkan
ketersediaannya di alam mengalami ancaman kepunahan. Eksploitasi Kima yang
berlebihan menempatkan kima sebagai salah satu jenis biota laut yang harus
diperhatikan kelangsungan hidupnya. Pemerintah Indonesiaasejak tahun 1987
sudah melindungi melalui Pengumuman MenteriiKelautannNo. 12/Kpts/II/1987
dan diundangkan melalui undang-undang No. 77Tahun 1999.
Penelitian ini dilaksanakan di Halmahera Tengah, yaitu Pulau Sayafi, Pulau
Liwo, dan teluk Patani pada November hingga Desember 2022. Pengamatan
dilakukan dengan snorkeling sambal menghitung jumlah kima yang ditemukan
pada setiap stasiun. Pengukuran parameter fisika-kimawi dilakukan disetiap lokasi
pengamatan kima. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampel
dengan alat bantu belt transek. Analisis data menggunakan analisis kerapatan
relatif, kepadatan, indeks morisita, hirarki klaster menggunakan algoritma k-means,
dan analisis regresi linear berganda. Analisis menunjukkan nilai kepadatan relatif
kima tertinggi adalah jenis kima Tridacna crocea sebesar 46.55% pada stasiun 2 di
Pulau Liwo dan terendah Tridacna squamosa sebesar 6.90%. Kepadatan di Pulau
Sayafi tertinggi adalah Tridacna maxima sebesar 44.90%, kepadatan terendah jenis
kima Hippopus hipopus sebesar 6.25%. Kepadatan di Teluk Patani tertinggi jenis
Tridacna maxima sebesar 0.60% dan terendah Tridacna squamosa. Jenis kima
Hippopus hippopus tidak ditemukan pada setiap stasiun pengamatan. Kepadatan
jenis tertinggi di Pulau Liwo yaitu pada jenis Tridacna crocea sebesar 180 ind/ha
dan terendah Tridacna squamosa sebesar 0.0267 ind/ha. Nilai kepadatan jenis
tertinggi di Pulau Sayafi yaitu Tridacna maxima sebesar 0.147 ind/ha dan terendah
Hippopus hippopus sebesar 0.013 ind/ha. Kepadatan jenis Teluk Patani Tridacna
maxima sebesar 26 ind/ha dan terendah yaitu jenis kima Tridacna squamosa. Jenis
kima Hippopus hippopus tidak ditemukan dilokasi pengamtan.
Pola distribusi secara keseluruhan mengelompok. Distribusi secara
mengelompok disebabkan karena sifat spesies bergerombol atau adanya kesamaan
habitat dan ketersediaan makanan. Terdapat 2 klaster yaitu klaster Teluk Patani dan
klaster Pulau (Liwo-Sayafi). Hasil regresi linear menunjukkan bahwa suhu, pH, dan
kecerahan sangat berpengaruh signifikan terhadap kelimpahan sedangkan
kedalaman dan salinitas tidak berpengaruh secara signifikan | id |