Show simple item record

dc.contributor.advisorKolopaking, Lala M
dc.contributor.advisorLubis, Djuara P
dc.contributor.authorTriastuty, Stera Mita
dc.date.accessioned2023-07-26T07:59:09Z
dc.date.available2023-07-26T07:59:09Z
dc.date.issued2023-07-26
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/122654
dc.descriptionMultilevel Governanceid
dc.description.abstractMultilevel Governance (MLG) menjadi sebuah pendekatan baru dalam tatakelola pemerintahan. Pemerintah bukan lagi satu-satunya aktor dalam penyelenggaraan negara. Pendekatan tersebut menawarkan sebuah sistem tatakelola yang inklusif dan partisipatif antara para aktor sehingga lahirlah ide kolaborasi dan jaringan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan dalam mengelola penyelenggaraan pemerintahan. Penguatan peluang kerja dan usaha masih menjadi permasalahan bersama dalam pemerataan kesempatan kerja dan usaha. Angka pengangguran terbuka di Lombok Timur yang harus diturunkan setiap tahunnya menjadi permasalahan yang harus dituntaskan bersama antara pemerintah dan masyarakat. Komunitas hadir sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam menyuarakan dan melakukan inisiatif menunjang pelatihan dan pendidikan di tengah masyarakat. Komunitas yang lahir dari masyarakat itu sendiri berawal dari rasa peduli dan kebutuhan akan layanan masyarakat. Komunitas menjalankan gerakan dari posisi akar rumput seperti Komunitas Maraqitalimat yang menjalankan lembaga pendidikan atau pesantren lalu berkolaborasi dengan pemerintah dan swasta dalam mendirikan Balai Latihan Kerja Komunitas. BLKK kemudian menghadirkan pelatihan kerja yang mudah diakses oleh masyarakat. Begitu pula dengan PKBM, komunitas yang menghadirkan akses untuk peningkatan pendidikan kepada masyarakat. Komunitas yang bergerak dengan inisiatif sendiri lalu mendapat dukungan dari pemerintah dan swasta menjadi komunitas mandiri yang mampu menyediakan layanan bagi masyarakat secara berkelanjutan. Capaian-capaian komunitas yang telah menjalankan berbagai layanan tersebut mempunyai pola sendiri bahwa setiap aktor menjalankan peran sesuai kewenangan masing tanpa saling berpangku tangan. Kerja sama yang dijalankan lebih kepada kolaborasi dan kemitraan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan alat ukur catatan lapangan, wawancara mendalam, observasi, dan studi literatur. Rumusan strategi dianalisis menggunakan SOAR (Strength, Opportunities, Aspiration, Results). Hasil penelitian menunjukkan pendekatan multilevel governance terlihat dari inisiatif komunitas memulai aksi pelayanan program masyarakat yang disusul dengan kerja sama antara para aktor yang berperan dalam penguatan peluang kerja dan usaha. Kesadaran para aktor dalam menjalankan peran dan wewenangnya menciptakan lingkungan kondusif bagi komunitas untuk mandiri. Strategi yang didapat dari analisis SOAR berada dalam kuadran OA yaitu memanfaatkan peluang yang ada untuk mencapai harapan dengan cara mengembangkan kemitraan yang menciptakan ruang dialog partisipatif untuk memperkuat aksesibilitas dan mendukung potensi lokal.id
dc.description.sponsorshipBeasiswa Unggulan kemendikbudid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleMultilevel Governance dalam Penguatan Peluang Kerja dan Usaha Berbasis Komunitas (Studi Kasus pada BLK Komunitas dan PKBM Assyuro Lombok Creative di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat)id
dc.title.alternativeMultilevel Governance in Strengthening Job and Business Opportunities Community Based (Case Study of Community BLK and Assyuro Lombok Creative PKBM in East Lombok District, West Nusa Tenggara)id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordMultilevel Governanceid
dc.subject.keywordJob Opportunitiesid
dc.subject.keywordBusiness Opportunitiesid
dc.subject.keywordCommunityid
dc.subject.keywordSOARid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record