| dc.description.abstract | Serangan penyakit bakterial pada tingkat pembenihan yang paling serius dan
sering menyebabkan terjadinya kematian massal pada larva udang windu adalah
serangan bakteri berpendar yang diidentifikasi sebagai Vibrio. Bakteri ini pada
umumnya menyerang larva udang pada stadia zoea, mysis dan awal post sehingga
merupakan kendala dalam penyediaan benih udang yang sehat dalam jumlah besar
yang diperlukan untuk produksi udang. Upaya untuk menanggulangi penyakit
tersebut dengan menggunakan antibiotik dan bahan kimia, namun dalam jangka
waktu yang lama dapat menimbulkan efek negatif terhadap lingkungan perairan dan
menimbulkan resistensi patogen. Salah satu bahan alami yang bersifat antibakterial
adalah tumbuhan mangrove.
Jenis mangrove yang diambil adalah Avicennia marina, A. alba, Sonneratia
caseolaris, Rhizophora mucronata (kawasan hutan mangrove Desa Teluk Payo,
Sumatera Selatan), R. apiculata, S. alba dan Ceriops tagal (kawasan hutan mangrove
Sadai, Bangka Selatan) meliputi daun, buah, batang dan akar. Sampel mangrove yang
telah ditimbang sebanyak 100 gr dimaserasi 3x24 jam dengan pelarut MeOH 80%, EtOAc
80% dan n-heksane 80% sebanyak 250 ml. Hasil maserasi disaring dengan kertas
millipore untuk memisahkan filtrat dan residunya. Selanjutnya filtrat dipekatkan dengan
vacuum rotary evaporator (Eyela) pada suhu 40 – 50 oC sehingga didapatkan ekstrak
MeOH, EtOAc dan n-heksane mangrove dan ditimbang untuk mengetahui konsentrasinya.
Uji in vitro antibakteri ekstrak mangrove terhadap bakteri V. harveyi pada
media agar SWC (sea water complete) dengan melihat zona hambat (inhibisi) yang
terbentuk, yaitu sebanyak 20 μl (5 μg) ekstrak mangrove diteteskan pada paper disc
dengan suhu inkubasi 28 oC kemudian setelah 16 jam diamati zona hambat yang
terbentuk. Uji in vitro antibakteri ini juga dilakukan untuk fraksi hasil kromatografi
kolom dan KLT.
Uji BSLT dilakukan dengan menggunakan larva Artemia salina Leach
dimasukkan sebanyak 10 ekor ke dalam tabung reaksi yang telah diberi larutan ekstrak
mangrove dengan konsentrasi 0 (kontrol), 10, 100, 200, 500 dan 1000 ppm dan
ditambahkan air laut sampai 3 ml. Setiap perlakuan dibuat 3 kali ulangan. Semua
tabung reaksi diinkubasi pada suhu kamar dibawah penerangan lampu TL 40 watt.
Pengamatan dilakukan setelah 48 jam dengan menghitung jumlah A. salina yang mati
pada tiap konsentrasi kemudian dihitung nilai LC50 dengan memasukkan angka probit
(50% kematian larva uji).
Tahapan dalam purifikasi senyawa bahan aktif ekstrak mangrove meliputi
kromatografi kolom, KLT, dan KCKT. Ekstrak mangrove yang telah diketahui sebagai
antibakteri tertinggi selanjutnya dipurifikasi dengan kromatografi kolom pada silica gel
60F256 produksi Merck sebagai fase diam dan eluen kloroform:metanol (6:4) 100%
sebagai fase geraknya. Selanjutnya fraksi hasil kolom yang telah diketahui sebagai
antibakteri tertinggi selanjutnya dipurifikasi dengan KLT pada plat 25 TLC Aluminium
sheets Silica Gel 60F256 produksi Merck pada eluen pengembang kloroform:metanol
(4:7, 5:6, 6:4). Kemudian fraksi hasil KLT yang diketahui sebagai antibakteri
selanjutnya dipurifikasi dengan KCKT....dst | id |