Show simple item record

dc.contributor.advisorWidigdo, Bambang
dc.contributor.advisorKamal, Mohammad Mukhlis
dc.contributor.authorUtama, Darma
dc.date.accessioned2023-05-31T03:22:40Z
dc.date.available2023-05-31T03:22:40Z
dc.date.issued2023
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118231
dc.description.abstractWilayah pesisir Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati maupun non hayati begitu besar. Kekayaan tersebut dapat dimanfaatkan untuk pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraa masyarakat. Sub sektor perikanan budidaya (akuakultur) menjadi salah satu kegiatan strategis di wilayah ini dan semakin penting di tengah isu ketahanan pangan global seiring stagnasi dan penurunan produksi perikanan tangkap, namun konsumsi produk perikanan terus meningkat (Ottinger et al. 2016). Peluang pengembangan perikanan budidaya di kawasan pesisir masih sangat besar, karena potensi lahan yang luas dan mampu berproduksi sepanjang tahun. Pemerintah akan terus mendorong peningkatan produksi sebagaimana tertuang dalam Masterplan Pengembangan Perikanan Budidaya tahun 2020-2024. Udang menjadi salah satu komoditas yang diharapkan dapat meningkat produksinya melalui program revitalisasi tambak. Pesisir Kabupaten Lampung Timur terpilih menjadi salah satu lokasi program tersebut. Daerah ini sejak lama menjadi sentra budidaya udang nasional, namun tengah menghadapi permasalahan penurunan produksi. Ekstensifikasi lahan yang tak terkendali dan tanpa perencanaan sejak awal pencetakan menyebabkan terjadinya kesalahan tata letak (lay out) tambak dan pemilihan teknologi budidaya sesuai anjuran. Dampaknya, bahwa setelah 4-10 tahun pada kawasan budidaya udang intensif akan muncul serangan penyakit, diikuti degradasi lingkungan (Bournazel et al. 2015). Kondisi ini membuat luas tambak semi intensif dan intensif semakin menurun, diikuti dengan penurunan produksi. Tambak operasional di Lampung Timur tahun 2019 seluas 5.820 ha terdiri atas 2.370 ha tambak tradisional dan 3.450 ha tambak semi intensif/intensif. Namun, pada tahun 2022 luas tambak operasional turun menjadi 5.380 hektar dimana tambak tradisional meningkat menjadi 3.600 hektar, sedangkan tambak semi intensif/intensif turun menjadi 1.780 ha. Penurunan luas tambak diikuti oleh penurunan produksi udang, pada tahun 2019 tercatat 10.504,33 ton, turun menjadi 5.903 ton pada tahun 2021 (KKP 2022). Penelitian ini secara umum bertujuan untuk merumuskan strategi pengelolaan kawasan pesisir untuk tambak budidaya udang berkelanjutan di Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Tujuan spesifik penelitian ini yaitu, menganalisis kesesuaian lahan berdasarkan parameter fisik, mengevaluasi kesesuaian kualitas air tambak pemeliharaan, menganalisis daya dukung perairan, serta menetapkan komoditas unggulan. Waktu penelitian yaitu bulan November 2021 hingga Juli 2022, berlokasi di Kawasan Pesisir Kabupaten Lampung Timur. dst ...id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePengelolaan Kawasan Pesisir untuk Tambak Budidaya Udang Berkelanjutan di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampungid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordCarrying capacityid
dc.subject.keywordand suitabilityid
dc.subject.keywordshrimp aquacultureid
dc.subject.keywordthe coastal of East Lampungid
dc.subject.keywordwater qualityid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record