Show simple item record

dc.contributor.advisorTjahjono, Boedi
dc.contributor.advisorBaskoro, Dwi Putro Tejo
dc.contributor.authorPermadi, M Galih
dc.date.accessioned2023-05-19T07:50:38Z
dc.date.available2023-05-19T07:50:38Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/117732
dc.description.abstractBencana longsor merupakan salah satu bencana yang kerap melanda Indonesia. Di Kota Bogor longsor menjadi bencana yang paling sering terjadi. Data yang dihimpun dari BPBD Kota Bogor, menunjukkan longsor menempati urutan pertama bencana yang paling banyak terjadi dari 6 jenis bencana yang ada, total pada tahun 2017 terdapat 179 kejadian longsor (40,5%) dari 442 kejadian bencana yang tercatat. Peningkatan kejadian bencana bukan hanya terjadi karena faktor alam dan iklim yang ekstrim, peningakatan alih fungsi lahan juga mempengaruhi dan memicu adanya bencana. longsor merupakan salah satu bencana yang banyak memakan korban jiwa, sehingga diperlukan pemetaan untuk melihat area-area yang memiliki risiko tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menganalisis dan memetakan landform sebagai subset area longsor di Kota Bogor, (2) menentukan dan memetakan kelas bahaya longsor di Kota Bogor, (3) menentukan dan memetakan kerentanan pada area-area rawan bencana, (4) menyusun risiko longsor berdasarkan bahaya dan kerentanan di Kota Bogor, (5) merekomendasikan arahan mitigasi longsor di Kota Bogor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah membangun landform untuk mengidentifikasi wilayah rawan longsor. Selanjutnya area rawan akan dikelaskan bahaya dan kerentanannya menggunakan Analitycal Hierarchy Process (AHP) untuk mengetahui bobot masing-masing parameter bahaya dan kerentanan. hasil dari bahaya dan kerentanan kemudian dikombinasikan untuk menghasilkan peta risiko longsor dan arahan mitigasi. Hasil yang diperoleh menunjukkan tingkat kerawanan dan bahaya tertinggi berada di kecamatan Bogor Selatan. Hal ini sesuai dengan kondisi landform yang ada di wilayah tersebut, dimana 60,5% wilayahnya merupakan lereng bawah kerucut vulkanik denudasional, tebing sungai, serta lembah dan teras alluvial. Peta bahaya divalidasi menggunakan nilai kappa dan memperoleh nilai 0,8 (88,8%) yang artinya akurat menggambarkan kejadian di lapang. Hasil yang berbeda dari peta bahaya terlihat pada peta kerentanan dan risiko, dimana wilayah paling rentan dan berisiko ada pada Kecamatan Bogor Utara. Hal ini terjadi karena dominasi penggunaan lahan yang ada pada wilayah tersebut adalah permukiman, di sisi lain jumlah penduduk juga tergolong tinggi. Langkah mitigasi yang perlu dilakukan adalah menentukan teknik mitigasi (sipil, vegetatif, dan sosial) untuk masing-masing kelas bahaya dan rentan. Kecamatan Bogor Selatan menjadi yang terluas yaitu 641,7 ha (30,8%) disusul kecamatan Bogor Utara seluas 409,8 ha (19,7%).id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcnatural disastersid
dc.titleAnalisis Spasial Risiko Bencana Longsor di Kota Bogorid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordlandslide hazardid
dc.subject.keywordlandformid
dc.subject.keywordover land functionid
dc.subject.keywordvulnerabilityid
dc.subject.keywordriskid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record