Show simple item record

dc.contributor.advisorSarwoprasodjo, Sarwititi
dc.contributor.advisorPandjaitan, Nurmala K
dc.contributor.authorAwaludin, Irfan
dc.date.accessioned2022-10-31T02:46:35Z
dc.date.available2022-10-31T02:46:35Z
dc.date.issued2022
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/115116
dc.description.abstractUpaya pengendalian pandemi Covid-19 dihadapkan dengan massifnya penyebaran disinformasi Covid-19, yang menyebar lebih cepat daripada virus itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh sosial dan bias kognitif para tokoh agama terhadap resepsi disinformasi Covid-19. Penelitian ini menggunakan teori Encoding-Decoding Stuart Hall, di mana audiens akan memiliki resepsi untuk menerima, bernegosiasi atau menolak makna dari berita-berita mengenai konspirasi Covid-19 dan obat Covid-19. Penelitian ini juga menguji pengaruh bias kognitif dalam merespon informasi yang mendukung atau menolak resepsi mereka. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan informan enam orang tokoh agama yang berafiliasi dengan organisasi masyarakat (ormas) Islam di Kabupaten Bogor. Yaitu Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kasus berita mengenai konspirasi Covid-19, pengaruh sosial terhadap para tokoh agama berupa reference group, membership group, significant other dan source credibility tidak menjadi dasar pertimbangan resepsi para tokoh agama untuk setuju atau tidak setuju pada makna dari berita-berita tentang konspirasi Covid-19, tetapi lebih kepada keberpihakan politik dari sumber pengaruh sosialnya tersebut. Sementara dalam kasus berita mengenai adanya obat Covid-19, pengaruh sosial para tokoh agama lebih kepada percaya atau tidak percaya kepada orang-orang yang memberikan testimoni akan khasiat dari obat-obat yang dapat menyembuhkan Covid-19. Resepsi para tokoh agama terbagi menjadi dua, yaitu negotiated reading dan oppositional reading, dan tidak ada satupun yang memercayai disinformasi konspirasi Covid-19 dan obat Covid-19 sepenuhnya (dominant-hegemonic reading). Dalam kedua resepsi itu selalu hadir bias kognitif dalam bentuk cognitive dissonance bias, backfire effect bias dan confirmation bias. Mengingat peran penting tokoh agama di tengah masyarakat, perlu upaya lebih lanjut dari organisasiorganisasi Islam untuk memberikan edukasi mengenai literasi informasi kesehatan yang lebih komprehensif kepada para pengurusnya, agar antara kebijakan pemerintah dan sikap para tokoh agama dapat berjalan beriringan dalam menghadapi bahaya pandemi Covid-19.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePost-Truth dan Infodemi, Analisis Pengaruh Sosial dan Bias Kognitif Tokoh Agama dalam Literasi Informasi Kesehatan selama Pandemi Covid-19.id
dc.typeThesisid
dc.subject.keyworddisinformationid
dc.subject.keywordsocial influencesid
dc.subject.keywordcognitive biasid
dc.subject.keywordaudience receptionid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record