| dc.description.abstract | Remaja putri berisiko mengalami defisiensi besi yang memiliki dampak
negatif terhadap kebugaran fisik. Beras tinggi besi hasil biofortifikasi telah
dikembangkan melalui biofortifikasi namun belum banyak bukti terkait manfaatnya
terhadap perbaikan nilai VO2max sebagai indikator dari kebugaran fisik. Penelitian
ini bertujuan untuk meneliti apakah pemberian beras tinggi besi dapat
meningkatkan nilai VO2max.
Subjek penelitian merupakan santriwati pondok pesantren Al-Falak Bogor
yang berusia 12-18 tahun sebanyak 18 orang, dan dipilih berdasarkan teknik
purposive sampling. Intervensi berupa beras tinggi besi (BionutriFe) yang
mengandung 50,4 ppm zat besi dan diberikan 3 kali sehari selama 4 minggu. Nilai
VO2max, asupan energi, zat makro (karbohidrat, protein, dan lemak), zat mikro
(besi, kalsium, vitamin B12, folat, vitamin A, dan vitamin C), Indek massa tubuh
menurut umur (IMT/U), aktivitas fisik, dan status besi (hemoglobin dan ferritin
serum) diukur baik sebelum dan setelah intervensi. Sebagian besar data merupakan
data sekunder yang berasal dari penelitian utama, kecuali aktivitas fisik dan nilai
VO2max di akhir penelitian. Nilai VO2max didapatkan melalui tes lari bolak balik
20 m, asupan makanan dan aktivitas fisik didapatkan dengan wawancara 2x24 jam,
IMT didapatkan melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan, dan status besi
dari hasil laboratorium. Uji Paired t-test atau Wilcoxon Signed Ranks test dilakukan
untuk melihat perbedaan IMT/U, asupan zat gizi, status besi, aktivitas fisik, dan
VO2max sebelum dan setelah intervensi.
Karakteristik contoh penelitian adalah sebagian besar berusia 14 – 15 tahun,
kelas VIII, uang saku di bawah Rp10.000,00 per hari, dan tingkat aktivitas fisik
yang sedentari. Hampir seluruh asupan zat gizi mengalami penurunan yang
signifikan (p<0,05) di akhir penelitian, kecuali asupan zat besi, vitamin B12, dan
vitamin C. Hanya asupan zat besi yang meningkat secara signifikan setelah
pemberian beras tinggi besi (p-value = 0,000). Median konsumsi nasi dari beras
BionutriFe adalah sebesar 407 g/hari yang mengandung 6,15 mg besi dan menjadi
sumber utama asupan zat besi selama pengamatan. Tidak ada perbedaan yang nyata
pada aktivitas fisik dan skor Z IMT/U antara sebelum dan sesudah intervensi. Pada
status besi, teramati nilai hemoglobin yang berbeda secara signifikan (p-value =
0,012) di akhir penelitian. Sementara itu, tidak ada beda dari kadar ferritin serum
antara sebelum dan sesudah intervensi. Selanjutnya, terdapat kenaikan kebugaran
yang signifikan yang dinilai dengan VO2max setelah intervensi (p-value = 0,018).
Kesimpulannya, terdapat peningkatan nilai VO2max setelah intervensi beras
tinggi besi selama 4 minggu namun tidak terdapat perbaikan yang signifikan pada
status besi santriwati. Asupan zat gizi lainnya yang dapat berinteraksi dengan zat
besi selama penyerapan di usus perlu dipertimbangkan dan dikonsumsi dengan
cukup untuk mengoptimalkan efek dari beras biofortifikasi besi. | id |