| dc.description.abstract | Fluktuasi produktivitas perikanan pukat cincin di Jepara yang semakin menurun disebabkan oleh terjadinya padat tangkap dan dinamika keberadaan ikan. Penurunan produksi hasil tangkapan yang tidak diimbangi dengan manajemen input produksi berdampak terhadap pemborosan input pada unit penangkapan ikan. Kondisi demikian dalam jangka panjang mampu memperburuk kompetisi untuk mendapatkan hasil tangkapan yang terbatas. Sehingga diperlukan pengkajian efisiensi teknis untuk mendapatkan hasil alokasi optimum input produksi guna penemuan rekomendasi pengoperasian pukat cincin yang efisien demi tercapainya keberlajutan usaha penangkapan ikan secara ekonomi maupun ekologi. Mengingat efisiensi teknis adalah perbandingan nilai input dan output, maka pengkajian efisiensi teknis mempertimbangkan kondisi output, yaitu ikan yang berubah setiap musimnya. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan musim penangkapan ikan dan musim pengoperasian (effort) pukat cincin; (2) menghitung nilai efisiensi teknis; dan (3) merekomendasikan pengoperasian pukat cincin yang efisien di Kabupaten Jepara.
Upaya penangkapan dan IMP diolah berdasarkan data studi pustaka berupa laporan bulanan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujungbatu selama lima tahun (2015-2019) meliputi upaya penangkapan (effort) dan jumlah hasil tangkapan ikan dominan (cumi-cumi, ikan kembung dan ikan layang). Nilai efisiensi teknis diperoleh dari data output dan input. Data output berupa Catch Per Unit Effort (CPUE) dari laporan bulanan TPI Ujungbatu, sedangkan informasi data input diberikan nelayan melalui wawancara. Penentuan input berdasarkan beberapa penelitian yang relevan meliputi fixed input (ukuran dan mesin kapal) serta input variabel (bahan bakar, daya lampu, lama trip, jumlah anak buah kapal dan panjang jaring). Efisiensi teknis dianalisis menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA) dengan 60 Decision Making Unit (DMU) dan akan diperoleh nilai Variable Input Utilization (VIU) serta alokasi perbaikannya.
Pola musim ikan pada setiap hasil tangkapan dominan mengalami perbedaan. Pengaruh musim ikan ditunjukkan pada hampir keseluruhan ikan tangkapan dominan dalam setiap bulannya. Musim ikan kembung diduga terjadi pada bulan April sampai Agustus. Kondisi serupa terjadi pada ikan layang dan cumi-cumi, yaitu pada bulan Januari-Februari (cumi-cumi), April, Mei, Juli dan Oktober (ikan layang dan cumi-cumi), serta Agustus sampai September (ikan layang). Secara umum, pola pengoperasian pukat cincin di Kabupaten Jepara cenderung mengikuti pola musim penangkapan ikan kembung dibanding ikan hasil tangkapan lainnya. Kondisi demikian terlihat dari fluktuasi pola pengoperasian (trip) dan musim penangkapan (IMP) dalam setiap bulannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dinamika pengoperasian pukat cincin di Kabupaten Jepara dipengaruhi oleh musim penangkapan ikan kembung. Selain itu, dari hasil ini dapat disebutkan bahwa ikan kembung menjadi ikan target pada proses pengoperasian pukat cincin di Jepara, sedangkan cumi-cumi dan ikan layang adalah ikan non target. Kondisi demikian dikarenakan sebanyak 80% dari populasi nahkoda kapal pukat cincin di Jepara memiliki kemampuan untuk pengoperasian pukat cincin menggunakan metode ngojek (hunting) dengan hasil tangkapan utama berupa ikan kembung.
Rata-rata nilai efisiensi teknis pengoperasian pukat cincin di Kabupaten Jepara sebesar 0,59% dengan penggunaan input variabel yang tidak optimal 0,94 untuk VIU1 (bahan bakar), VIU3 (lama trip) 0,97 dan 0,96 untuk VIU4 (jumlah anak buah kapal). Sedangkan untuk VIU2 (daya lampu) dan VIU5 (panjang jaring) telah mencapai kondisi optimal (VIU = 1). Keadaan ini disebabkan adanya peningkatan kompetisi antar alat tangkap, baik sesama alat tangkap pukat cincin maupun dengan alat tangkap lainnya dan keadaan alam yang sangat dinamis, berkaitan dengan informasi musim kelimpahan ikan sehingga mengakibatkan penggunaan input produksi yang tidak terkontrol.
Penggunaan kedua jenis metode pengoperasian, yaitu ngobor dan ngojek direkomendasikan hampir setiap bulan, yaitu pada bulan April-Mei dan Juli-Agustus (metode pengoperasian ngobor dan atau ngojek), bulan Januari-Februari dan September-Oktober didominasi penggunaan metode ngobor serta mayoritas penggunaan metode ngojek pada bulan Juni. Perbaikan VIU dibutuhkan karena adanya kapasitas berlebih dalam pemanfaatan input variabel. Supaya VIU mencapai tingkat optimal penggunaan input variabel perlu dilakukan perbaikan VIU dengan cara mengurangi input bahan bakar (6,00%), jumlah ABK (3,63%) dan lama trip (3,30%). | id |