Pengaruh Konflik Orang Tua-Remaja, Gaya Pengasuhan, dan Self Esteem Terhadap Risiko Depresi pada Remaja
Abstract
Wabah Coronavirus yang dinyatakan sebagai pandemi oleh Organisasi
Kesehatan Dunia pada Bulan Maret 2020 telah banyak menimbulkan masalah
kesehatan mental. Berbagai upaya dan kebijakan pemerintah dalam menanggulangi
penyebaran COVID-19 di antaranya pemberlakuan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)
dan pemberlakuan pembatasan sosial yang menimbulkan rasa takut dan kecemasan.
Rasa takut dan cemas yang berlangsung lama dapat memicu risiko terjadinya
depresi. Kelompok usia remaja kelompok usia yang memiliki risiko lebih berat
dibandingkan dengan usia dewasa dan anak-anak, hal ini dikarenakan masa remaja
merupakan masa transisi periode anak-anak menuju dewasa, yang mana tidak
semua remaja dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada dirinya
dan lingkungannya.
Peran keluarga menjadi sangat penting, karena keluarga adalah tempat
pertama dan utama bagi perkembangan anak remaja. Faktor keluarga dalam hal ini
gaya pengasuhan yang diterapkan orangtua, merupakan salah satu penyebab risiko
munculnya gejala depresi remaja. Selain gaya pengasuhan, konflik orang tua remaja, self esteem remaja juga menjadi faktor penyebab munculnya risiko depresi
remaja. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis hubungan
karakteristik keluarga, karakteristik remaja, konflik orang tua-remaja, gaya
pengasuhan, dan self esteem dengan risiko depresi pada remaja serta menganalisis
pengaruh langsung konflik orang tua-remaja, gaya pengasuhan, dan self esteem
terhadap risiko depresi pada remaja. Disamping itu, menganalisis pengaruh tidak
langsung konflik orang tua-remaja dan gaya pengasuhan terhadap risiko depresi
pada remaja, yang dimediasi oleh self esteem.
Penelitian ini dilakukan secara online pada bulan Februari tahun 2021,
dengan menggunakan google form dan melibatkan 555 responden dari empat
Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Kota Bekasi. Penelitian ini
menggunakan desain non-probability dengan teknik Voluntary Sampling. Data
primer yang dikumpulkan meliputi karakteristik remaja, karakteristik keluarga,
gaya pengasuhan, konflik orang tua-remaja, self esteem dan risiko depresi pada
remaja. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur risiko depresi remaja
dimodifikasi dari Patient Health Questionnaire (PHQ-9) oleh Kroenke et al.
(2001), alat ukur ini sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas, dengan nilai
Cronbach alpha sebesar 0,777. Alat ukur Gaya pengasuhan dimodifikasi dari
Parental Authority Questionaire (Buri 1991), dengan Cronbach alpha masing masing dimensi adalah: pengasuhan otoritatif 0,803; otoriter 0,819 dan permisif
0,778. Kemudian konflik orang tua-remaja diukur dengan alat ukur yang
dimodifikasi dari Conflict Behaviour Questionnaire (CBQ) yang terdiri dari CBQ Father dan CBQ-Mother yang dibuat oleh Prinz et al. (1979), dengan nilai
Cronbach alpha 0,880 untuk CBQ-father dan 0,835 untuk CBQ-mother. Alat ukur
self esteem dimodifikasi dari Rosenberg Self Esteem Scale (RSES) yang dibangun
oleh Rosenberg (1965), dan didapatkan nilai Cronbach alpha 0,828. Semua data
yang terkumpul diolah dengan menggunakan SPSS (Statistical Package for Social
Science, dan Path Analysis untuk menganalisis pengaruh antar variabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks rata-rata risiko depresi remaja
berada pada kategori rendah. Remaja perempuan memiliki indeks rata-rata 38,40
dan remaja laki-laki memiliki indeks rata-rata 28,28. Remaja melaporkan terdapat
20,9% tidak mengalami gejala depresi, 37.5% mengalami risiko gejala depresi
ringan, 22,7% mengalami risiko gejala depresi sedang, 13,2% dengan risiko gejala
depresi sedang-berat dan 5,8% mengalami risiko gejala depresi berat. Berdasarkan
jenis kelamin, remaja perempuan yang mengalami risiko gejala depresi ringan
hingga berat berjumlah 300 orang (54,05%) dan remaja laki-laki yang mengalami
risiko gejala depresi ringan-berat berjumlah 139 (25,04%). Risiko depresi
berhubungan dengan usia remaja, remaja yang usianya lebih tua memiliki tingkat
depresi yang lebih tinggi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa gaya pengasuhan orang tua cenderung
otoritatif dengan nilai indeks rata-rata 65,54. Indeks rata-rata untuk gaya
pengasuhan otoriter dan permisif adalah 48,81 dan 47,44. Selanjutnya konflik
orang tua-remaja berada pada kategori rendah dengan indeks rata-rata konflik ibu remaja 18,83 dan indeks rata-rata konflik ayah-remaja 20,04. Remaja melaporkan
94,05% mengalami konflik rendah dengan ibu dan 92,97% mengalami konflik
rendah dengan ayah. Self esteem remaja pada penelitian ini berada pada kategori
rendah dengan indeks rata-rata remaja laki-laki 57,68 dan remaja perempuan 50,64.
Remaja melaporkan 70,8 % memiliki self esteem rendah, dan 29,18 % memiliki self
esteem sedang dan tinggi. Gaya pengasuhan (authoritative, authoritarian atau
permissive), konflik orang tua-remaja, self esteem dan risiko depresi remaja
memiliki hubungan signifikan satu sama lain. Self esteem memiliki hubungan
negatif dengan depresi, semakin rendah self esteem remaja maka semakin tinggi
risiko remaja mengalami gejala depresi.
Hasil uji analisis jalur menunjukkan bahwa gaya pengasuhan otoritatif
berpengaruh signifikan negatif terhadap risiko depresi. Gaya pengasuhan otoriter
dan permisif berpengaruh positif signifikan terhadap risiko depresi. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin otoritatif gaya pengasuhan orang tua maka risiko
depresi remaja semakin rendah, sebaliknya semakin otoriter dan permisif gaya
pengasuhan orang tua maka remaja semakin berisiko mengalami depresi. Konflik
orang tua-remaja berpengaruh positif signifikan terhadap risiko depresi. Kemudian
self esteem remaja berpengaruh negatif signifikan terhadap risiko depresi. Hal ini
berarti semakin tinggi konflik orang tua-remaja, semakin tinggi remaja mengalami
risiko depresi dan semakin tinggi self esteem remaja, risiko depresi pada remaja
semakin rendah. Selain itu gaya pengasuhan otoritatif berpengaruh secara tidak
langsung terhadap risiko depresi dimediasi self esteem dan konflik orang tua remaja. Gaya pengasuhan otoriter berpengaruh secara tidak langsung terhadap
risiko depresi dimediasi oleh konflik orang tua-remaja. Self esteem remaja
memiliki pengaruh paling besar terhadap risiko depresi (43,4%). Implikasi dari
hasil penelitian ini adalah pentingnya membangun self esteem remaja agar remaja
terhindar dari risiko depresi.
Collections
- MT - Human Ecology [2400]
