Show simple item record

dc.contributor.advisorEkasari, Julie
dc.contributor.advisorSetiawati, Mia
dc.contributor.advisorWiyoto
dc.contributor.authorLa Muhamad, Idul
dc.date.accessioned2021-03-29T01:21:33Z
dc.date.available2021-03-29T01:21:33Z
dc.date.issued2021-03-25
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/106438
dc.description.abstractSalah satu jenis ikan laut yang berpotensi untuk dikembangkan dalam kegiatan marikultur adalah ikan kerapu hibrid cantang (E. lanceolatus♂× E. fuscoguttatus♀). Faktor penentu keberhasilan budi daya ikan, salah satunya adalah kualitas pakan. Kualitas pakan akan menentukan kinerja produksi dan efisiensi pakan serta keuntungan usaha budi daya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pakan adalah melalui suplementasi bahan aditif (feed additive) seperti betain. Betain adalah senyawa zwitterionic quartenary ammonium yang memiliki fungsi fisiologis sebagai osmolit organik untuk melindungi sel ketika dalam kondisi stres atau sebagai sumber gugus metil dalam proses katabolisme melalui transmetilasi untuk berbagai jalur biokimia. Di samping itu sebagai donor metil, betain berpartisipasi dalam siklus metionina sehingga dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan metionina yang dikenal sebagai asam amino pembatas dalam pakan ikan. Betain dikenal juga sebagai atraktan yang dapat meningkatkan ketertarikan ikan pada pakan sehingga dapat meningkatkan konsumsi pakan dan mengurangi sisa pakan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan mengevaluasi suplementasi betain dalam pakan untuk meningkatkan pemanfaatan pakan, kinerja pertumbuhan dan status antioksidan ikan kerapu cantang. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas empat perlakuan pakan pada tingkat suplementasi betain yang berbeda, yaitu 0,0%, 0,5%, 1,0%, dan 2,0% dengan empat ulangan per perlakuan. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini berupa juvenil ikan kerapu cantang yang berasal dari Balai Pengembangan Budidaya Air Payau Situbondo dengan panjang 5,89 ± 0,05 cm dan bobot 2,86 ± 0,09 g. Ikan dipelihara dalam akuarium berukuran 60 cm x 40 cm x 40 cm dengan kapasitas 75L dilengkapi sistem resirkulasi dengan kepadatan 209 ekor m-3 selama 50 hari. Ikan diberi pakan uji dengan frekuensi pemberian dua kali sehari sampai kenyang. Parameter uji yang dianalisis meliputi kinerja pertumbuhan, diantaranya laju pertumbuhan spesifik, faktor kondisi, kelangsungan hidup, keragaman ukuran panjang dan indeks hepatosomatik; sedangkan pemanfaatan pakan terdiri atas jumlah pakan, efisiensi pakan dan protein, retensi protein, metionin dan lemak serta ekskresi amonia; dan status antioksidasi, yaitu aktivitas superoksida dismutase dan konsentrasi malondialdehida (MDA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi betain dalam pakan berpengaruh terhadap kinerja pertumbuhan dengan ukuran bobot maupun panjang ikan maksimum pada perlakuan suplementasi betain 0,5% yang menurun seiring dengan penambahan betain dalam pakan dan ukuran minimum pada kontrol. Pengaruh pertambahan bobot tubuh ikan yang maksimum pada perlakuan suplementasi betain 0,5% memberikan laju pertumbuhan spesifik yang tertinggi dan terendah pada kontrol. Namun, laju pertumbuhan spesifik pada pakan dengan suplementasi betain mengalami fluktuasi. Perlakuan suplementasi betain 0,5% menghasilkan faktor kondisi ikan yang paling tinggi, namun tidak berbeda dengan kontrol dan terendah pada perlakuan suplementasi betain 2%. Sementara itu, tingkat kelangsungan hidup, koefisien variasi panjang dan indeks hepato somatik tidak berbeda antar perlakuan. Suplementasi betain juga berpengaruh terhadap kinerja pemanfaatan pakan dengan jumlah konsumsi pakan mengalami fluktuasi, namun tertinggi pada perlakuan suplementasi betain 0,5% diikuti oleh perlakuan suplementasi betain 2% dan terendah pada kontrol yang tidak berbeda dengan perlakuan suplementasi betain 1%. Efisiensi pakan dan protein tertinggi pada perlakuan suplementasi betain 0,5% yang menurun seiring dengan penambahan betain dalam pakan dan terendah pada kontrol. Namun, efisiensi pakan pada kontrol tidak berbeda dengan perlakuan suplementasi betain 1% dan 2%, sedangakan efisiensi protein pada kontrol tidak berbeda dengan perlakuan suplementasi betain 2%. Retensi protein dan lemak pada perlakuan suplementasi betain menurun seiring dengan penambahan betain dalam pakan dan tertinggi pada suplementasi betain 0,5% dan terendah pada kontrol. Akan tetapi, retensi protein pada perlakuan suplementasi betain 1% dan 2% tidak berbeda dengan kontrol, sedangkan pada retensi lemak semua perlakuan suplementasi betain berbeda dengan kontrol. Namun, retensi metionin cenderung meningkat seiring dengan penambahan betain dalam pakan sehingga terlihat lebih tinggi pada perlakuan suplementasi betain, namun tidak berbeda antar perlakuan. Sementara itu, ekskresi amonia terlihat lebih tinggi pada kontrol dan pada perlakuan suplementasi betain cenderung meningkat seiring dengan penambahan betain dalam pakan. Akan tetapi, tidak berbeda antar perlakuan. Selain itu, deposisi protein dan lemak mengikuti tren retensinya yang tertinggi pada perlakuan suplementasi betain 0,5% dan terendah pada kontrol. Namun, deposisi metionin berkebalikan dengan tren retensinya dan cenderung menurun seiring dengan penambahan betain dalam pakan. Akan tetapi, tidak ada perbedaan antar perlakuan. Suplementasi betain dapat meningkatkan status antioksidasi yang ditunjukkan dengan aktivitas enzim superoksida dismutase mengalami fluktuasi namun tidak berbeda antar perlakuan, sedangkan kadar malondialdehida (MDA) tertinggi pada perlakuan suplementasi betain 0,5% yang tidak berbeda dengan kontrol, namun pada suplementasi betain yang lebih tinggi dapat menurunkan kadar MDA pada hati ikan dan terendah pada perlakuan suplementasi betain 1%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suplementasi betain 0,5% dalam pakan dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan, pemanfaatan pakan dan status antioksidasi ikan kerapu cantang.id
dc.description.abstractOne of marine fish species that is potentially developed for mariculture is hybrid grouper (E. lanceolatus♂ × E. fuscoguttatus♀). One of the factors determining the success of grouper aquaculture is feed quality. Feed quality determines the production performance and feed efficiency as well as the profit of aquaculture business. One of the strategies to enhance feed quality is through feed additive supplementation, such as betaine. Betain is a zwitterionic quartenary ammonium compound that has physiological function as organic osmolyte that protect the cell during stress condition or as a source of methyl donor in catabolism process through transmethylation in various biochemistry pathways. Betaine as an osmolyte can protect the cells, proteins and enzymes from environmental stress. Whereas, as a methyl donor, betaine involves in methionine cycle that may increase the utilization efficiency of methionine, which has been known as one of the limiting essential amino acids in aquaculture feed. Betaine is also known as a feed attractant that improve the feed attractability, thus potentially reduce the quantity of unconsumed feed. In this regard, this research is aimed to evaluate the effect of dietary betaine supplementation on the feed utilization, growth performance and antioxidant status of hybrid grouper. A completely randomized experimental design with four dietary levels of betaine, i.e. 0.0%, 0.5%, 1.0%, and 2.0% in quadruplicate was done. Hybrid grouper juvenile obtained from Brackishwater Aquaculture Development Center, Situbondo–with an initial body length and body weight of 5.89 ± 0.05 cm and 2.86 ± 0.09 g, respectively, was used as the tested animal. The fish was maintained in a 60 cm x 40 cm x 40 cm aquaria with 75 L working capacity with an individual recirculating system with a fish density of 209 ind m-3 for 50 days. Experimental diet was provided to apparent satiation twice a day. The parameters analyzed included growth performance, specific growth rates, condition factors, survival levels, variability in length and hepatosomatic index; whereas feed utilization, amount of feed, feed efficiency, protein, methionine and fat retention as well as ammonia excretion; and antioxidation status, superoxide dismutase activity and malondialdehyde (MDA) concentration. The results of study show that dietary betaine had the impact on growth performance of fish where the maximum both weight and length at a level of 0.5% which decreased addition of dietary betaine and the control was minimum both size. The maximum weight gain of fish effected to gave the highest dietary betaine at a level of 0.5% and specific growth rates was lowest for the control. However, the specific growth rate fluctuated dietary betaine at the levels. Betaine at a level of 0.5% produced the highest fish condition factor, but it was not different from the control and the lowest was the dietary betaine at a level of 2%. Meanwhile, the survival rate, length variation coefficient and hepato somatic index did not differ between treatments. Dietary betaine also affected the feed utilization where feed consumption was fluctuating, but the highest was dietary betaine sequence at levels of 0.5%, 2% and the control was lowest which not different with dietary betaine at a level of 1%. The highest feed and protein efficiency was dietary betaine at a level of 0.5% which decreased with the addition of betaine in feed and the control was lowest. However, the feed efficiency of the control did not differ with dietary betaine at both levels of 1% and 2%, while the protein efficiency of it did not differ with dietary betaine at a level of 2%. The protein and fat retention on dietary betaine decreased with the addition of betaine in feed which the highest was dietary betaine at level of 0.5% and the control was lowest. However, protein retention on dietary betaine at both levels of 1% and 2% was not differ with the control, whereas fat retention on dietary betaine was differ with the control. However, methionine retention tended to increased with the addition of betaine in the feed so that it was seen to be higher in the dietary betaine, but did not differ between treatments. Meanwhile, ammonia excretion was seen to be higher the control and the dietary betaine tended to increased with the addition of betaine in the feed. However, its did not differ between treatments. In addition, protein and fat deposition followed the retention trend that was highest on dietary betaine at a level of 0.5% and the controls was lowest. However, methionine deposition is reversed by its retention trend and tended to decreased with the addition of betaine in the feed. However, there was not difference between treatments. In addition, superoxide dismutase activity was fluctuated but did not differ between treatments, while malondialdehyde (MDA) were highest on dietary betaine at a level of 0.5% which was not differ with the control, but higher antioxidative status was indicated by lower MDA in the liver of fish fed with betaine supplemented diets at levels of 1 to 2%. In conclusion, betaine supplementation of 0.5% could improve growth performance, feed utilization and antioxidation status of hybrid grouper.id
dc.description.sponsorshipKementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggiid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleEvaluasi Kinerja Pertumbuhan dan Status Antioksidasi Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus lanceolatus♂× Epinephelus fuscoguttatus♀) yang Diberi Pakan dengan Suplementasi Betainid
dc.title.alternativeEvaluation of Growth Performance and Antioxidation Status of Hybrid Grouper (Epinephelus lanceolatus♂ × Epinephelus fuscoguttatus♀) feeded with Betaine Supplementationid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordBetaineid
dc.subject.keywordHybrid grouperid
dc.subject.keywordGrowth performanceid
dc.subject.keywordFeedid
dc.subject.keywordAntioxidant statusid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record