Show simple item record

dc.contributor.advisorSoekarno, Bonny P.W.
dc.contributor.advisorMunif, Abdul
dc.contributor.advisorSurono
dc.contributor.authorYuliani, Dini
dc.date.accessioned2021-02-16T10:10:23Z
dc.date.available2021-02-16T10:10:23Z
dc.date.issued2021-02-04
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/105949
dc.description.abstractCendawan dark septate endophytes (DSE) merupakan salah satu kelompok cendawan endofit yang mampu mengolonisasi akar tanpa menyebabkan gejala penyakit. Karakteristik DSE ditandai dengan adanya pigmentasi gelap pada media agar, memiliki hifa gelap berseptat, memiliki konidia atau hifa steril, dan membentuk mikrosklerotia di dalam jaringan akar. Potensi DSE diketahui mampu meningkatkan performa tanaman, menekan penyakit, dan cekaman abiotik seperti kekeringan dan kemasaman. Blas pada tanaman padi merupakan salah satu penyakit yang berpotensi memengaruhi produksi padi. Patogen blas padi yaitu Pyricularia oryzae sulit dikendalikan karena memiliki ras yang banyak dan mudah berubah rasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi cendawan DSE sebagai agens pengendali patogen blas dan agens dalam meningkatkan kesehatan tanaman padi terhadap penyakit blas. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanah, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, serta Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Genetik Pertanian. Isolat cendawan DSE yang digunakan adalah APDS 3.2, 4.1 BTG, dan TKC 2.2a merupakan koleksi Balai Penelitian Tanah untuk uji penekanan terhadap patogen blas. Penelitian terdiri atas beberapa tahap yaitu: (1) Evaluasi penekanan DSE terhadap P. oryzae secara in vitro; (2) Aplikasi DSE di rumah paranet untuk melihat pengaruh DSE dalam menekan perkembangan penyakit blas, pemacu pertumbuhan padi, serta respons fisiologi dan biokimia padi. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan koloni APDS 3.2 tercepat dibanding DSE lainnya, yaitu pada 3 hari setelah inkubasi (HSI) telah memenuhi cawan petri (d= 9 cm);sedangkan 4.1 BTG dan TKC 2.2.a pada 7 HSI. Pertumbuhan koloni P. oryzae tergolong lambat membutuhkan 20 HSI. Persentase penghambatan APDS 3.2 terhadap P. oryzae sebesar 43,75%; sedangkan 4.1 BTG dan TKC 2.2.a masing-masing sebesar 38,60% dan 39,76%. Isolat APDS 3.2 mampu mereduksi penyakit blas sebesar 23,37-51,28%; sedangkan isolat TKC 2.2.a dan 4.1 BTG masing-masing sebesar 20,78-23,07% dan 15,58-18,66%. Hal ini kemungkinan karena kolonisasi DSE mampu menekan keparahan penyakit blas pada tanaman padi. Selain itu, ketiga DSE memiliki aktivitas enzim kitinase dan viabilitas yang baik. Tanaman padi yang diinokulasi DSE memiliki tinggi, jumlah anakan, panjang akar, bobot basah, dan bobot kering relatif lebih tinggi dibandingkan DSE+P. oryzae dan kontrol. Aplikasi DSE menunjukkan serapan hara N, P, K, Fe, kadar abu, dan Si lebih tinggi dibandingkan aplikasi DSE+ P. oryzae . Isolat APDS 3.2 dan 4.1 BTG memiliki Inhibitor Concentration (IC50) terendah dibandingkan TKC 2.2.a dan kontrol (-). Namun IC50 meningkat pada perlakuan DSE+ P. oryzae . Semua isolat DSE memiliki potensi untuk dikembangkan dalam penekanan patogen blas padi dan memacu pertumbuhan tanaman padi.id
dc.description.sponsorshipBadan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanianid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB universityid
dc.titlePeningkatan Kesehatan Tanaman Padi terhadap Pyricularia oryzae dengan Cendawan Dark Septate Endophytesid
dc.title.alternativeImprovement of Rice Plant Health on Pyricularia oryzae with the Dark Septate Endophytes Fungiid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordColonizingid
dc.subject.keywordInducing Growthid
dc.subject.keywordPhysio-Biochemicalid
dc.subject.keywordPigmentationid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record