| dc.description.abstract | Manusia membutuhkan manusia lain untuk hidup, dan manusia didesain untuk saling
ketergantungan satu sama lain. Pola ketergantungan individu, akan berlangsung secara
berbeda di tiap tingkat usia. Dalam proses menuju dewasa serta meninggalkan masa anakanak,
ikatan kebergantungan pada remaja dapat dipahami melalui perilaku sosial. Perilaku
sosial remaja merupakan perilaku yang dilakukan baik secara irasonal maupun rasional dan
dapat memberikan sebab – akibat pada individu yang melakukannya, serta di lingkungan
individu tersebut. Faktor yang memotivasi perilaku sosial remaja, antara lain dari diri sendiri,
keluarga, dan lingkungannya.
Internalisasi nilai keluarga, dalam konteks perilaku sosial merupakan dasar dari
keyakinan remaja dalam berperilaku, dan beradaptasi. Kemudian, regulasi emosi akan
mengatur perasaan seseorang dan pemikiran logisnya (kognitif) dalam menciptakan kondisi
tertentu sebelum seseorang berperilaku, serta setelah remaja melakukan suatu hal pada diri
sendiri, maupun pada orang lain. Melalui pembiasaan, yang selanjutnya disebut sebagai
habituasi karakter, seorang remaja dibentuk jati dirinya dengan pembiasaan bersikap baik
dari keluarganya, melihat teladan guru, dan mencontoh teman sebayanya sehingga dari
habituasi karakter, akan tercipta pola perilaku sosial remaja.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan, hubungan, dan pengaruh
internalisasi nilai keluarga, regulasi emosi, dan habituasi karakter terhadap perilaku sosial
remaja di dua lingkungan tempat tinggal yang berbeda yaitu di perumahan kompleks dan di
perkampungan dengan kondisi ayah dan ibu bekerja (dual earner family). Desain penelitian
menggunakan cross-sectional study, dilakukan di Kota Depok. Contoh dalam penelitian ini
adalah remaja dengan keluarga utuh, yang memiliki ayah dan ibu bekerja, serta ibu yang
bekerja secara formal dan informal. Teknik penarikan contoh dilakukan secara
disproportional stratified random sampling. Data penelitian dikumpulkan melalui self-report
menggunakan kuesioner dengan responden sebanyak 120 remaja dan 120 ibu bekerja.
Rata-rata usia orangtua merupakan dewasa madya, pendidikan orangtua di perumahan
kompleks lebih tinggi dari pendidikan ayah dan ibu di perkampungan, secara keseluruhan
keluarga yang diteliti merupakan keluarga tidak miskin dengan pendapatan perkapita
keluarga di perumahan kompleks lebih tinggi dari keluarga di perkampungan. Remaja yang
diteliti rata-rata berusia remaja akhir, yakni 16 tahun dengan urutan kelahiran sebagai anak
bungsu. Ibu yang tinggal di perkampungan lebih sering melakukan internalisasi nilai keluarga
pada remaja. Dalam hal regulasi emosi dan habituasi karakter justru sebaliknya, remaja
kompleks mampu mengatur emosinya serta melakukan habituasi karakter secara lebih baik.
Sedangkan dalam perilaku sosial, remaja perkampungan, lebih tinggi dalam berperilaku
prososial daripada remaja di perumahan kompleks.
Internalisasi nilai keluarga yang tidak dianggap penting sehingga tidak atau jarang
ditransfer oleh ibu bekerja pada anak remajanya ialah apresiasi pada anak melalui prestasi.
Hasil dari penelitian lainnya, menyebutkan bahwa perilaku sosial yang jarang atau tidak
pernah dilakukan oleh remaja ialah kenakalan. Regulasi emosi yang jarang dilakukan oleh
remaja ialah penempatan sudut pandang, kurang matangnya jati diri remaja, mendorong
remaja masing melihat dari perspektifnya sendiri. Habituasi karakter yang jarang dibiasakan
pada remaja ialah adil terhadap diri sendiri dan adil terhadap orang lain.
Berdasarkan hasil analisis korelasi Pearson, pendidikan ayah dan ibu, jumlah anggota
keluarga dan pendapatan perkapita, berhubungan positif dengan internalisasi nilai keluarga,
hal ini dapat dimaknai bahwa semakin tinggi lama pendidikan ayah dan ibu (r=0.246*,
p=0.036); (r=0.228*, p=0.033), semakin banyak anggota keluarga di dalam rumah (r=0.156*,
p=0.049), semakin tinggi pendapatan perkapita keluarga (r=0.134*, p=0.047), maka semakin
baik pula internalisasi nilai keluarga. Variabel lainnya yang dinyatakan berhubungan positif
antara lain, pendidikan ibu (r=0.174, p=0.034) dengan regulasi emosi, apabila pendidikan ibu
tinggi, maka remaja akan lebih baik dalam meregulasi emosi. Sebaliknya, pendidikan ayah
berhubungan positif langsung dengan habituasi karakter remaja (r=0.457*, p=0.021), dengan
demikian semakin tinggi pendidikan ayah, maka akan semakin baik pula habituasi karakter
remaja.
Temuan lain dalam penelitian memperlihatkan, pendidikan ayah dan ibu (r=0.254*,
p=0.034); (r=0.373*, p=0.015), jam kerja ibu (r=0.166*, p=0.043), pendapatan perkapita
keluarga (r=0.557**, p=0.008), serta regulasi emosi (r=0.585**, p=0.001), berkorelasi positif
signifikan dengan perilaku sosial remaja yang bisa diartikan bahwa semakin tinggi
pendidikan ayah dan ibu, jam kerja ibu, pendapatan perkapita keluarga, serta semakin baik
remaja melakukan regulasi emosi, maka semakin baik pula perilaku sosial remaja.
Karakteristik lingkungan (perumahan kompleks) berpengaruh positif langsung terhadap
regulasi emosi (β=0.221, t>1.96), yang dapat dimaknai remaja yang tinggal di perumahan
kompleks lebih baik dalam melakukan regulasi emosi daripada remaja di perkampungan.
Temuan lain menyatakan, karakteristik lingkungan (perumahan kompleks) berpengaruh
positif langsung terhadap habituasi karakter (β=0.338, t>1.96), artinya remaja yang tinggal di
perumahan kompleks lebih baik habituasi karakternya.
Hasil penelitian juga menunjukkan karakteristik keluarga, terutama pendidikan ibu
berpengaruh positif langsung terhadap perilaku sosial remaja (β=0.249, t>1.96), semakin
tinggi pendidikan ibu, maka akan semakin baik perilaku sosial remaja. Regulasi emosi
berpengaruh secara positif langsung terhadap perilaku sosial remaja (β=0.277, t>1.96), yang
artinya baik buruknya atau kemampuan remaja dalam meregulasi emosi, akan berpengaruh
terhadap perilaku sosial remaja. Karakteristik remaja (urutan kelahiran) berpengaruh positif
langsung terhadap internalisasi nilai keluarga (β=0.142, t>1.96), yang dapat dimaknai anak
sulung lebih baik mendapatkan internalisasi nilai keluarga. Karakteristik lingkungan
(perumahan kompleks) berpengaruh positif langsung terhadap regulasi emosi (β=0.221,
t>1.96), dengan demikian remaja di perumahan kompleks lebih baik dalam melakukan
regulasi emosi. Karakteristik remaja (urutan kelahiran) berpengaruh negatif terhadap perilaku
sosial (β=-0.171, t>1.96) yang berarti anak bungsu lebih berperilaku antisosial.
Merujuk hasil penelitian, saran yang dapat diberikan kepada pihak-pihak yang
terlibat, antara lain: (1) diperlukan pelatihan emosi bagi remaja, agar remaja dapat mengatur
emosinya dengan efisien, sehingga mampu mengelola emosi dimensi menyalahkan diri
sendiri dan fokus memikirkan/merenungkan sesuatu, serta menghasilkan perilaku yang baik;
(2) remaja dianjurkan untuk mencari role model yang berperilaku prososial agar dapat
melakukan pembiasaan atau habituasi karakter secara positif dan dapat menekan perilaku
antisosial yang berupa perilaku tidak bersahabat serta perilaku menarik diri; (3) perlu
diadakan penelitian selanjutnya mengenai perilaku sosial yang lebih spesifik mengarah pada
prososial dan atau antisosial di wilayah lain. | id |