Show simple item record

dc.contributor.advisorSuwarno
dc.contributor.authorLestari, Septi
dc.date.accessioned2020-03-04T01:44:16Z
dc.date.available2020-03-04T01:44:16Z
dc.date.issued2020
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/102595
dc.description.abstractTanah Podsolik banyak ditemukan di Indonesia sehingga berpotensi digunakan untuk perluasan lahan pertanian. Namun, reaksi Tanah Podsolik yang masam, kejenuhan basa rendah, kadar Al yang tinggi, dan kadar unsur hara yang rendah menyebabkan kesuburan dan produktivitas Tanah Podsolik tergolong rendah. Oleh sebab itu, diperlukan pengelolaan tanah yang tepat untuk memperbaiki kesuburan dan produktivitas tanah untuk dijadikan sebagai lahan pertanian. Pengapuran dan pemupukan merupakan upaya untuk meningkatkan kesuburan dan produktivitas Tanah Podsolik. Bahan kapur yang umum digunakan untuk lahan pertanian adalah kalsit (CaCO3) dan dolomit (CaMg(CO3)2. Fly ash merupakan abu sisa pembakaran batubara yang mengandung unsur hara yang di butuhkan oleh tanaman sehingga sangat berpotensi untuk digunakan di bidang pertanian. Fly ash yang digunakan dalam percobaan memiliki kandungan utama Ca, Mg dan Si yang ditunjukkan oleh kadar CaO, MgO dan SiO2. Dalam percobaan ini fly ash dicampur pada media tanam dengan harapan dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah terutama hara Ca dan Mg. Percobaan ini menggunakan tanaman sorgum karena tanaman sorgum merupakan tanaman serealia yang toleran terhadap kekeringan dan input hara yang rendah, serta peka terhadap tanah masam. Hasil percobaan menunjukkan bahwa fly ash sebagai sumber hara Ca dan Mg tidak efektif dalam memperbaiki sifat kimia Tanah Podsolik Jasinga, pertumbuhan, dan kadar hara Ca, Mg, Si dalam tanaman sorgum. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa pH tanah cenderung menurun dengan meningkatnya dosis fly ash, sedangkan Al-dd tanah cenderung meningkat. Kadar hara Ca, Mg dan Si pada tanah mengalami sedikit peningkatan yaitu sekitar 1-15%. Pertumbuhan sorgum pada tanah dengan pemberian fly ash saja tidak normal. Hal ini ditunjukkan dengan gejala hambatan pertumbuhan tinggi tanaman (tanaman kerdil) karena sistem perakarannya tidak berkembang. Tanaman sorgum mulai mengering pada umur 4 minggu setelah tanam dan lambat laun mati. Tanaman sorgum tidak tumbuh normal diduga karena mengalami keracunan Al. Perlakuan fly ash serta kombinasinya dengan kalsit atau dolomitik tidak berpengaruh nyata terhadap kadar hara Ca, Mg, Si dan kadar logam berat (As, Pb, Cd) tanaman sorgum. Unsur arsenik (As) merupakan logam berat dengan kadar terkecil di dalam tanaman yaitu berkisar antara 0,09 – 0,014 ppb, sedangkan plumbum (Pb) merupakan logam berat dengan kadar tertinggi di dalam tanaman yaitu berkisar antara 3,26 – 6,22 ppm. Namun, kadar Pb dalam tanaman sorgum masih di bawah ambang batas kadar logam berat dalam tanaman sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcSoil scienceid
dc.subject.ddcNutrient sourceid
dc.subject.ddc2019id
dc.subject.ddcBogor-Jawa Baratid
dc.titleStudi tentang Efektivitas Fly Ash sebagai Sumber Hara Ca dan Mg pada Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench).id
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordfly ashid
dc.subject.keywordpengapuranid
dc.subject.keywordTanah Podsolikid
dc.subject.keywordsorgumid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record