Evaluasi Kinerja Micro Bubble Generator terhadap Respons Fisiologi Ikan Nila Oreochromis niloticus dengan Kepadatan Berbeda pada Sistem Resirkulasi
View/ Open
Date
2019Author
Firman, Sri Wahyuni
Nirmala, Kukuh
Supriyono, Eddy
Metadata
Show full item recordAbstract
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas
unggulan akuakultur air tawar Indonesia. Umumnya, budidaya ikan nila secara
konvensional dilakukan dengan melakukan pergantian air secara rutin. Pergantian
air dilakukan dengan membuang limbah langsung ke perairan. Namun, limbah
yang dibuang tanpa perlakuan sebelumnya dapat mencemari perairan dan
mengganggu ketersediaan air bersih baik secara kuantitas maupun kualitas. Sistem
budidaya resirkulasi dapat menjadi alternatif untuk pemanfaatan sumber daya air
secara lebih optimal dan meminimalisir limbah yang dibuang ke perairan. Kualitas
air menjadi faktor yang sangat diperhatikan dalam sistem resirkulasi, sehingga
teknologi yang tepat untuk mengontrolnya menjadi penting. Micro bubble
generator (MBG) dapat menjadi alternatif teknologi untuk menjaga kualitas air
pada sistem resirkulasi, dengan memproduksi gelembung mikro berdiameter
kurang dari 100 μm. Gelembung yang dihasilkan memiliki daya apung yang lebih
rendah sehingga dapat bertahan lebih lama di dalam air membuat suplai oksigen
dalam air menjadi lebih optimal daripada gelembung yang diproduksi secara
konvensional.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan MBG pada
kepadatan ikan yang berbeda terhadap performa produksi dan respon fisiologi
ikan nila sistem resirkulasi, serta memperoleh padat tebar maksimal pada
budidaya ikan nila secara intensif. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari
sampai bulan Oktober 2017, bertempat di kolam Babakan, Departemen Budidaya
Perairan IPB. Ikan uji yang digunakan adalah ikan nila yang diperoleh dari kolam
Percobaan Departemen Budidaya Perairan IPB dengan bobot 10.96±0.53 g ekor-1,
dan panjang 7.44±2.89 cm sebanyak 270 ekor dipelihara pada sistem resirkulasi
dengan wadah bak kontainer plastik volume 60 L. Pengelolaan kualitas air
dilakukan dengan pergantian air 30% seminggu dua kali. Pakan komersil PF 1000
digunakan dalam penelitian dengan pemberian pakan tiga kali sehari secara at
satiation. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap
(RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan dan tiga ulangan dengan kepadatan yang
berbeda A (15 ekor 60 L-1), B (30 ekor 60 L-1) dan C (45 ekor 60 L-1).
Parameter uji meliputi respons kinerja produksi, respons fisiologi dan
kualitas air. Analisis data menggunakan SPSS versi 22 dengan one-way ANOVA
pada selang kepercayaan 95%, analisis lainnya yakni analisis deskripsi kuantitatif.
Parameter uji kinerja produksi terbaik pada perlakuan A (15 ekor 60 L-1) dengan
tingkat kelangsungan hidup (TKH), laju pertumbuhan spesifik, bobot mutlak,
panjang mutlak dan rasio konversi pakan (RKP). Parameter uji respons fisiologi
yang diukur adalah glukosa darah, total protein serum, trigliserida, hemoglobin,
pH darah dan pH daging. Nilai glukosa tertinggi pada perlakuan B (30 ekor 60 L-
1) yakni 71.3±4.0 mg dL-1. Nilai total protein serum tertinggi adalah perlakuan B
(30 ekor 60 L-1) sebesar 3.7±0.5 mg dL-1.Nilai trigliserida darah tertinggi adalah
perlakuan A (15 ekor 60 L-1) sebesar 148.7±9.5 mg dL-1. Nilai hemoglobin
v
tertinggi pada perlakuan A (15 ekor 60 L-1) sebesar 6.5±0.7 1 mg dL-1. Parameter
lainnya adalah pH darah tertinggi pada perlakuan B (30 ekor 60 L-1) yakni
7.1± 0.1 mg dL-1 dan pH daging tertinggi pada perlakuan A (15 ekor 60 L-1)
sebesar 6.8± 0.1 mg dL-1.
Parameter kualitas air terdiri dari suhu, pH air, oksigen, nitrat, nitrit, CO2
bebas, TOM (total organic matter) dan TAN (total amonia nitrogen). Kisaran
suhu selama pemeliharaan yakni antara 26.8-27.5 ºC. Nilai pH air untuk semua
perlakuan cenderung turun diakhir pemeliharaan dengan nilai tertinggi selama
pemeliharaan perlakuan C (45 ekor 60 L-1) hari 42 dan terendah pada perlakuan A
(15 ekor 60 L-1). Pada parameter oksigen terlarut rata rata selama pemeliharaan
tertinggi pada perlakuan A (15 ekor 60 L-1) yakni 4.3 mg L-1. Nilai TAN pada
awal pemeliharaan untuk semua perlakuan cenderung tinggi yakni 1.57 mg L-1dan
cenderung menurun hingga akhir pemeliharaan, perlakuan A (15 ekor 60 L-1)
sebesar 0.21 mg L-1 , B (30 ekor 60 L-1) yakni 0.09 mg L-1 dan C (45 ekor 60 L-1)
yakni 0.36 mg L-1. Nilai nitrit cenderung menurun hingga akhir pemeliharaan
dengan nilai tertinggi di hari ke-14 pada perlakuan C (45 ekor 60 L-1) yakni 4.15
mg L-1 dan terendah perlakuan A (15 ekor 60 L-1) yakni 2.45 mg L-1.
Parameter yang diamati selanjutnya adalah parameter respons kinerja
produksi terdiri dari tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian,
panjang mutlak, bobot mutlak, rasio konversi pakan dan rata-rata biomassa akhir.
Pada nilai hasil analisis ragam tingkat kelangsungan hidup berpengaruh nyata
(p<0.05) terhadap perlakuan, Nilai tertinggi pada perlakuan B (30 ekor 60 L-1)
yakni 98.89±1.92 tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap perlakuan A (15 ekor
60 L-1) sebesar 93.33±6.67. Nilai analisis ragam parameter laju pertumbuhan
harian diketahui bahwa perlakuan berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap laju
pertumbuhan harian ikan nila. Nilai tertinggi laju pertumbuhan harian di akhir
pemeliharaan adalah perlakuan A (15 ekor 60 L-1) yakni 1.87±0.15%.
Nilai hasil analisis ragam dari panjang mutlak diketahui bahwa perlakuan
berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap panjang mutlak ikan nila. Nilai tertinggi
panjang mutlak di akhir pemeliharaan adalah perlakuan A (15 ekor 60 L-1) yakni
1.64±2.10 cm. Nilai hasil analisis ragam rasio konversi pakan diketahui bahwa
perlakuan berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap rasio konversi pakan ikan nila.
Nilai terendah rasio konversi pakan di akhir pemeliharaan adalah perlakuan A (15
ekor 60 L-1) sebesar 0.95±0.08.
Hasil evaluasi micro bubble generator menghasilkan respons fisiologi dan
performa produksi terbaik pada kepadatan 15 ekor 60 L-1.
Collections
- MT - Fisheries [3210]
