| dc.description.abstract | Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) umumnya ditangkap dengan
menggunakan bubu, pancing, tombak, bahan peledak, dan bahan kimia beracun
(potasium sianida). Kedua cara penangkapan yang disebutkan terakhir merupakan
cara yang efektif, namun menimbulkan dampak yang merugikan terhadap kelestarian
ekosistem terumbu karang dan sumberdaya ikan. Bubu termasuk kedalam jenis
perangkap (trap) (Brandt, 1984) yang sering digunakan oleh nelayan untuk
menangkap ikan karang. Menurut Subani dan Barus (1989), umpan merupakan salah
satu faktor penting untuk menunjang keberhasilan suatu operasi penangkapan ikan
dengan bubu dan pancing. Umpan digunakan dalam pengoperasian bubu berfungsi
sebagai pemikat (attractor) dengan tujuan agar ikan karang yang sifatnya
bersembunyi pada terumbu karang dapat keluar dan tertarik untuk masuk ke dalam
bubu. Efektivitas umpan ditentukan oleh sifat fisik dan kimiawi yang dimilikinya
agar dapat memberikan respons terhadap ikan-ikan tertentu.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) Membuat formulasi umpan buatan (artificial
bait) yang efektif bagi penangkapan ikan karang, (2) Mengetahui respons penciuman
ikan kerapu macan terhadap umpan buatan, (3) Menganalisis waktu perendaman
umpan buatan yang efektif sebagai pemikat (attractor) ikan kerapu, dan (4)
Mengukur efektivitas umpan buatan dalam penangkapan ikan kerapu dengan bubu.
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan (September 2007-Maret 2008).
Pengamatan terhadap respons penciuman ikan kerapu dilakukan di Laboratorium
Biologi dan Keanekaragaman Hayati Laut Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan.
Ujicoba penangkapan dilakukan di sekitar perairan Pulau Panggang, Kepulauan
Seribu, Provinsi DKI Jakarta.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian eksperimen
laboratorium (laboratory experiment) dan uji coba penangkapan (fishing experiment).
Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data tingkah laku ikan
mendekati umpan, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai umpan, komposisi bahan
umpan buatan, kandungan proksimat (air, protein, lemak) dari formulasi umpan
buatan, komposisi hasil tangkapan, dan panjang serta berat hasil tangkapan.
Analisis proksimat umpan buatan menunjukkan bahwa kandungan kimia utama
yang berpengaruh terhadap respons penciuman ikan adalah protein, lemak dan asam
amino. Komposisi protein yang tertinggi terdapat pada umpan D (331,8 mg/g),
diikuti oleh umpan A (152,9 mg/g), umpan B (135,7 mg/g) dan umpan C (134,4
mg/g). Umpan kontrol memiliki nilai kadar protein terendah yaitu 40,3 mg/g.
Kandungan lemak tertinggi terdapat pada umpan C (283,9 mg/g), umpan B, D, dan A
berturut-turut 231,9 mg/g, 92,5 mg/g dan 54,3 mg/g. Kandungan air tertinggi
terdapat pada umpan kontrol yaitu sebanyak 399,6 mg/g.
Hasil uji statistik dengan menggunakan uji klasifikasi satu arah (one way
ANOVA) menunjukkan bahwa waktu rata-rata arousal keempat umpan buatan tidak
berbeda nyata seperti ditunjukkan dengan nilai F hitung ( 2,96) < F tabel (3,23).
Waktu rata-rata searching umpan buatan berpengaruh nyata seperti ditunjukkan
dengan nilai F hitung (3,65) > F tabel (3,23). Waktu rata-rata finding umpan buatan
tidak berbeda nyata sebagaimana ditunjukkan dengan nilai F hitung (0,52) < F tabel
(3,23). Umpan buatan C memberikan waktu rata-rata searching yang lebih cepat
dibandingkan umpan D, B, dan A.
Hasil tangkapan rata-rata dan galat baku pada siang hari adalah 302,61±3,78
gram dan malam hari adalah 405,72±4,16 gram. Penggunaan umpan pada siang hari
tidak berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan ikan karang sebagaimana
ditunjukkan dengan nilai sig. 0,187 > α 0,05. Waktu perendaman malam hari dengan
umpan yang berbeda ditunjukkan dengan nilai sig. 0,073 > α 0,05 tidak berpengaruh
nyata terhadap hasil tangkapan ikan karang.
Efektivitas penangkapan ikan kerapu dengan umpan buatan adalah sebesar
44,60% sedangkan efektivitas penangkapan ikan kerapu dengan umpan alami adalah
sebesar 55,40%. Perbandingan efektivitas penangkapan ikan kerapu dengan
perbedaan umpan berdasarkan jumlah hasil tangkapan didapatkan bahwa efektivitas
terbaik adalah umpan udang yaitu sebesar 71,46% diikuti oleh umpan rucah sebesar
67,92%, bulu babi dan umpan A memiliki efektivitas yang sama yaitu sebesar
62,50% serta umpan B sebesar 45,83%. | id |