Show simple item record

dc.contributor.advisorBaskoro, Mulyono Sumitro
dc.contributor.advisorWisudo, Sugeng Hari
dc.contributor.advisorNuraini, Tri Wiji
dc.contributor.advisorWiryawan, Budy
dc.contributor.authorMahi, Ivon Iskandar
dc.date.accessioned2019-08-05T02:31:33Z
dc.date.available2019-08-05T02:31:33Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/98592
dc.description.abstractIkan sidat merupakan komoditas yang memiliki nilai gizi yang cukup tinggi dan digemari oleh masyarakat di dunia seperti Jepang, Cina, Taiwan, Jerman, Belanda, Perancis dan Denmark. Adanya kebutuhan pasar ekspor, menjadikan komoditas ikan sidat memiliki nilai ekonomis tinggi. Sampai saat ini kebutuhan pasar ekspor ikan sidat dipenuhi melalui kegiatan pembesaran di media budidaya sampai ukuran konsumsi. Tingginya kebutuhan pasar ekspor mendorong semakin meningkatnya kegiatan penangkapan ikan sdidat. Perairan Sungai Poso, Danau Poso dan Teluk Tomini di Sulawesi Tengah merupakan salah satu perairan yang memiliki potensi sumberdaya ikan sidat yang potensial. Ikan sidat di daerah ini ditangkap dari benih sampai ukuran dewasa, sesuai dengan siklus hidupnya. Penangkapan benih dilakukan di Muara Sungai Poso, sementara itu sidat ukuran dewasa ditangkap di Danau Poso. Ikan sidat (Anguilla spp) merupakan jenis katadromus yaitu jenis ikan yang hidupnya di air tawar, namun pada saat akan memijah menuju ke Laut. Nelayan di Kelurahan Tentena secara intensif menangkap benih ikan sidat (glass eel) di Muara Sungai Poso. Penangkapan benih ikan sidat ini dilakukan untuk memenuhi permintaan konsumen yaitu para pembudidaya ikan sidat yang ada di Sulawesi maupun luar Sulawesi. Penangkapan benih yang intensif dapat membahayakan kelestarian ikan sidat. Penangkapan benih ikan sidat di Muara Sungai Poso umumnya dilakukan menggunakan alat tangkap gorong-gorong (fyke net). Alat tangkap goronggorong dioperasikan pada malam hari, sesuai dengan perilaku ikan sidat (nocturnal). Alat tangkap gorong-gorong yang digunakan terdiri atas berbagai ukuran, yaitu besar, kecil dan sedang. Belum diketahui ukuran mana yang memiliki tingkat efektivitas dan efisiensi yang lebih baik. Glass eel yang ditangkap nelayan, merupakan benih ikan sidat yang siap untuk dibudidayakan oleh para pembudidaya ikan sidat. Poso merupakan salah satu pemasok benih utama untuk para pembudidaya ikan sidat yang ada di Makasar, Mamuju, Gorontalo dan juga keluar Sulawesi seperti para pembudidaya ikan sidat yang ada di Pulau Jawa. Glass eel akan didistribusikan ke tujuan pasar dalam kondisi hidup, sementara itu glass eel ini memiliki kerentanan yang tinggi terhadap kondisi lingkungan. Untuk itu, penanganan glass eel selama pendistribusian dari daerah tempat nelayan menangkap sampai ke tempat tujuan pasar menjadi sangat penting. Pemasaran glass eel dari daerah Poso ke tujuan pasar yang ada di sekitar Sulawesi maupun ke luar Pulau Sulawesi memiliki rantai distribusi yang cukup panjang. Selama ini nelayan penangkap glass eel mendapatkan market share yang kecil dari pemasaran benih ikan sidat ini. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengkaji pengembangan usaha ikan sidat di Muara Sungai Poso, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Tujuan khusus penelitian ini, yaitu : (1) Menilai efektivitas alat tangkap goronggorong (fyke net) untuk menangkap benih ikan sidat di Muara Sungai Poso, Sulawesi Tengah (2) Menghitung kelayakan usaha sidat dengan alat tangkap gorong-gorong (fyke net) yang ada di Muara Sungai Poso Sulawesi Tengah. (3) Menilai aktivitas distribusi, penanganan dan efisiensi pemasaran benih ikan sidat. Penelitian ini merupakan studi kasus pada nelayan penangkap glass eel di Muara Sungai Poso, Sulawesi Tengah. Data dan informasi untuk menghitung efektivitas alat tangkap gorong-gorong, dan efisiensinya yaitu dilihat dari perhitungan kelayakan usaha diperoleh melalui pengambilan sampel terhadap 9 orang nelayan yang menggunakan alat tangkap gorong-gorong. Data dan informasi untuk distribusi, penanganan dan efesiensi pemasaran benih ikan sidat diperoleh dari para pelaku yang terlibat, yaitu nelayan, pedagang pengumpul lokal, dan pedagang provinsi. Analisis data untuk efektifitas alat dilakukan melalui perhitungan hasil tangkapan per trip. Analisis kelayakan usaha dilakukan dengan menghitung R/C rasio. Analisis data untuk penanganan ikan sidat selama pendistribusian dilakukan secara deskriptif, serta dilakukan analisis efisiensi pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai efektivitas alat tangkap goronggorong besar mencapai 39.28 kg/ m3 , alat tangkap gorong-gorong sedang sebesar 37.85 kg/ m3, alat tangkap kecil sebesar 36.42 kg/ m3. Berdasarkan lama perendaman ATG Besar berjumlah 4.23 kg/ m3/ jam, Sedang 4.10 kg/ m3/ jam dan Kecil 3.90 kg/ m3/ jam. Hasil analisa usaha menunjukkan bahwa alat tangkap gorong gorong besar mengeluarkan biaya total sebesar Rp 18,583,033 dan total penerimaan adalah Rp 46,800,000, alat tangkap gorong gorong sedang mengeluarkan biaya total sebesar Rp 18,685,533 dan total penerimaan adalah Rp 67,200,000, alat tangkap gorong gorong kecil mengeluarkan biaya total sebesar Rp 21,080,278 dan total penerimaan adalah Rp 69,600,000 dengan nilai R/C sebesar 3.28. Hasil analisis R/C menunjukkan bahwa usaha penangkapan benih ikan sidat dengan alat tangkap gorong-gorong besar memperoleh nilai R/C 2.3, sedang memperoleh nilai 3.7, dan kecil 3.2. Metode penanganan glass eel selama distribusi dari nelayan di Sunga Poso menuju daerah tujuan pasar secara umum dilakukan untuk menjaga benih tetap hidup dengan menjaga suhu sekitar 18oC. Metode penanganan mampu menjaga tingkat kelangsungan hidup sebesar 99,5% pada distribusi lokal dengan tujuan pasar sekitar Sulawesi dan 85-90% untuk pendistribusian ke luar Sulawesi. Pada tujuan pemasaran lokal di sekitar Sulawesi diperoleh Fs sebesar 37,50% dan persentase Mp sebesar 62,50%. Untuk tujuan pasar ke luar Sulawesi diperoleh Fs bervariasi antara 80-88% dan persentase MP bervariasi antara 12- 20%. Kedua pola rantai pemasaran tersebut tidak efisien, karena nilai Fs<Mp%. Implikasi kebijakan yang direkomendasikan adalah menjaga keberlanjutan usaha penangkapan benih ikan sidat di Poso, melalui 1) penggunaan alat tangkap gorong-gorong yang memiliki nilai efektivitas kecil namun nilai kelayakan usaha lebih baik, dalam hal ini adalah alat tangkap gorong-gorong yang berukuran kecil, 2) menghindari tingkat kematian yang tinggi dalam distribusi benih, sebaiknya benih hanya dipasarkan di lokal Provinsi Sulawesi, dan 3) memperbaiki rantai distribusi pemasaran lokal provinsi dengan meningkatkan Fs mendekati nilai persentase Mp.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcMarine Fisheries Technologyid
dc.subject.ddcFishing Businessid
dc.subject.ddc2016id
dc.subject.ddcPoso-Sulawesi Tengahid
dc.titlePengembangan Usaha Perikanan Benih Ikan Sidat (Glass Eel) Di Muara Sungai Poso Provinsi Sulawesi Tengahid
dc.typeDissertationid
dc.subject.keywordAlat Tangkap Gorong-Gorongid
dc.subject.keywordBenih Ikan Sidatid
dc.subject.keywordMuara Sungai Posoid
dc.subject.keywordNelayanid
dc.subject.keywordPerikananid
dc.subject.keywordPengembanganid
dc.subject.keywordPosoid
dc.subject.keywordUsahaid
dc.subject.keywordSulawesi Tengahid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record