| dc.description.abstract | Cabai merah keriting merupakan salah satu komoditas hortikultura yang
mendapat perhatian khusus dari pemerintah karena pergerakan harga yang terjadi
dapat mempengaruhi perekonomian di Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari
dampaknya yang mampu menyebabkan inflasi. Terdapat gap harga cabai merah
keriting yang cukup besar di antara tingkat petani dan konsumen yang
mengakibatkan terciptanya marjin pemasaran yang tinggi. Marjin pemasaran yang
tinggi akan berdampak pada rendahnya farmer’s share, sehingga diduga bahwa
pemasaran tersebut tidak efisien secara operasional. Harga merupakan salah satu
faktor penentu bagi petani untuk menjual hasil panen mereka. Mayoritas petani
cabai merah keriting yang berada di daerah sentra masih banyak yang menjual
kepada pedagang yang menawarkan harga relatif lebih kecil dibandingkan dengan
pedagang yang lainnya. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui faktor apa saja
yang mempengaruhi petani dalam menjual hasil panennya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efisiensi pemasaran
operasional dan harga pada cabai merah keriting di Kabupaten Cianjur, serta ingin
mengkaji faktor apa saja yang mempengaruhi petani dalam memilih kepada siapa
mereka akan menjual hasil panennya. Analisis efisiensi pemasaran operasional
menggunakan indikator marjin pemasaran, farmer’s share, dan rasio keuntungan
terhadap biaya. Analisis efisiensi pemasaran harga menggunakan indikator
integrasi pasar secara vertikal. Analisis data kuantitatif menggunakan Microsoft
Excel 2016, SPSS dan Eviews 9. Data yang digunakan untuk analisis efisiensi
operasional yaitu data primer yang diperoleh dari petani dan lembaga pemasaran
yang terlibat, sedangkan untuk analisis efisiensi harga yaitu data harian harga cabai
merah keriting di tingkat petani dan lembaga pemasaran yang terlibat yang
diperoleh dari Pusat Data dan Informasi Pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten
Cianjur dan PD Pasar Pakuan Jaya Bogor.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima saluran pemasaran cabai
merah keriting di Kabupaten Cianjur yang melibatkan empat lembaga pemasaran
seperti pedagang pengumpul, pedagang grosir Pasar Induk Kemang Bogor,
pedagang pengecer bogor, Gapoktan Mujagi dan Dirjen Hortikultura. Sebagian
besar petani (62.86%) memilih saluran pemasaran melalui pedagang pengumpul
karena kurangnya akses terhadap permodalan. Hanya petani yang bertindak sebagai
pedagang pengumpul saja yang dapat menjual hasil panen mereka langsung ke
pedagang grosir Pasar Induk Kemang Bogor. Sistem pemasaran cabai merah
keriting di Kabupaten Cianjur sudah efisien secara operasional. Penentuan saluran
yang relatif lebih efisien dibedakan berdasarkan daerah produksi dimana saluran
pemasaran yang relatif lebih efisien yaitu terdapat pada saluran pemasaran 2
(Petani→Pedagang pengumpul→Pedagang grosir pasar induk→Pedagang
pengecer→Konsumen) untuk saluran pemasaran yang berada di Sukanagara dan
saluran pemasaran 4 (Petani→Gapoktan→Restoran) untuk saluran pemasaran yang
berada di Pacet. Dapat dikatakan bahwa pemasaran cabai merah keriting di
Kabupaten Cianjur sudah efisien secara operasional karena share harga yang
diperoleh petani diatas 40%.
Secara parsial variabel biaya pengiriman (pengangkutan), volume penjualan,
dan lokasi produksi mempengaruhi pemilihan saluran pemasaran secara signifikan
pada taraf nyata hingga lima persen (5%). Sedangkan usia petani, pengalaman
usahatani, pendidikan dan harga jual yang tidak berpengaruh secara signifikan
dalam mempengaruhi pilihan saluran pemasaran yang dilakukan oleh petani cabai
merah keriting di Kabupaten Cianjur.
Analisis efisiensi harga menunjukkan bahwa sistem pemasaran cabai merah
keriting di Kabupaten Cianjur belum efisien secara harga karena salah satu tingkat
pasar belum dapat mempergunakan harga pada periode yang lalu (past prices)
secara tepat dalam penentuan harga pada saat ini. Oleh karena itu, pasar tersebut
belum dapat memeragakan fungsinya secara efisien jika memanfaatkan semua
informasi yang tersedia. Salah satu penyebabnya karena penjualan cabai merah
keriting di Kabupaten Cianjur oleh petani menuju ke pedagang grosir Pasar Induk
Kemang Bogor di jembatani oleh pedagang pengumpul. Diduga informasi
mengenai pergerakkan harga di tingkat petani dan pedagang grosir Pasar Induk
Kemang Bogor tidak tersampaikan secara sempurna oleh pedagang pengumpul.
Oleh karena itu, tidak terjadi integrasi antara petani di Kabupaten Cianjur dengan
pedagang grosir di Pasar Induk Kemang Bogor. | id |