Respon Aparatus Fotosintetik Tanaman Kedelai Terkait Toleransi Terhadap Intensitas Cahaya Rendah
View/ Open
Date
2012Author
Handayani, Tri
Khumaida, Nurul
Sopandie, Didy
Chaidamsari, Tety
Metadata
Show full item recordAbstract
Penanaman kedelai di bawah tegakan tanaman perkebunan mempunyai
peluang besar untuk dikembangkan. Dalam pengembangan kedelai di bawah
tegakan tanaman perkebunan, intensitas cahaya yang rendah akibat penaungan
tanaman pokok menjadi faktor pembatas utama. Penurunan intensitas cahaya akan
mengakibatkan penurunan hasil polong dan biji kedelai. Informasi mengenai
respon aparatus fotosintesis yang mempengaruhi tingkat toleransi terhadap
naungan diharapkan dapat memperdalam pemahaman mengenai mekanisme
adaptasi tanaman kedelai terhadap naungan. Aparatus fotosintesis diantaranya
yaitu daun, kloroplas dan klorofil, merupakan bagian utama tanaman yang
merespon perubahan kondisi cahaya. Perubahan respon aparatus fotosintesis
sebagai tanggap tanaman dalam mengatasi kondisi cekaman berperan penting
dalam kemampuan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi pada lingkungan
ternaungi. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada analisis karakter
morfologi-anatomi daun, kloroplas serta hubungannya dengan karakter fisiologis
fotosintesis pada 3 galur harapan toleran ICR (CG30-10, CG76-10, dan SC54-1)
dan pada tetua toleran Ceneng, serta tetua peka Godek.
Penelitian ini terdiri atas tiga percobaan penelitian yaitu: (1) Studi tingkat
toleransi tanaman kedelai terhadap intensitas cahaya rendah berdasarkan uji cepat
ruang gelap, (2) Karakteristik morfologi-anatomi daun dan struktur kloroplas
tanaman kedelai pada kondisi intensitas cahaya rendah, dan (3) Karakteristik
fotosintesis tanaman kedelai pada kondisi intensitas cahaya rendah. Percobaan
pertama dilakukan untuk mengetahui tingkat toleransi tanaman kedelai terhadap
ICR secara cepat dengan menggunakan metode uji cepat ruang gelap. Hasil
penelitian pada percobaan pertama akan dibandingkan dengan hasil penelitian
pada percobaan kedua dan ketiga. Percobaan yang kedua dilakukan dengan fokus
pada pengamatan karakter morfologi-anatomi daun, kandungan pigmen daun, dan
struktur kloroplas tanaman. Peubah atau karakter yang diamati pada percobaan
kedua terkait dengan mekanisme penangkapan cahaya pada kondisi ICR.
Sedangkan percobaan ketiga, pengamatan difokuskan pada karakter fisiologis
proses fotosintesis tanaman yang terkait dengan mekanisme efisiensi penggunaan
cahaya pada kondisi ICR.
Penelitian pertama merupakan percobaan faktor tunggal yang disusun
dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) perlakuan
ruang gelap dengan genotipe kedelai sebagai taraf perlakuannya. Genotipe yang
diuji yaitu: 1) Godek; 2) Ceneng; 3) CG30-10; 4) CG76-10; dan 5) SC54-1.
Perlakuan uji cepat ruang gelap dilakukan dengan menggunakan ruang gelap total.
Pemberian perlakuan gelap total dilakukan sampai tanaman mengalami kematian.
Tingkat toleransi tanaman ditentukan berdasarkan persentase hidup tanaman,
intensitas kehijuan daun dengan menggunakan SPAD 502, dan skoring vigor
tanaman. Pada penelitian kedua dan ketiga, percobaan disusun menggunakan
Rancangan Split Plot dengan anak petak tersarang pada petak utama. Sebagai
petak utama yaitu perlakuan naungan 0% dan 55%, sedangkan anak petak yaitu
genotipe kedelai yang terdiri dari 5 taraf yaitu Godek, Ceneng, CG301-10, CG76-
10 dan SC54-1. Penelitian kedua difokuskan pada pengamatan morfo-fisiologi
dan anatomi daun serta struktur kloroplas sedangkan pada penelitian ketiga
difokuskan pada pengamatan karakter fisiologi fotosintetik dengan menggunakan
LI-COR model LI-6400.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter apparatus fotosintesis
diantaranya klorofil, kloroplas dan daun tanaman dapat digunakan untuk
menentukan tingkat toleransi tanaman terhadap ICR melalui karakter morfologi,
fisiologi, anatomi dan karakter fotosintesisnya. Tingkat toleransi tanaman
terhadap ICR berdasarkan uji cepat ruang gelap yaitu genotipe yang toleran ICR
yakni CG30-10, Ceneng, dan SC54-1 sedangkan genotipe peka ICR yakni CG76-
10 dan Godek. Tingkat toleransi ditentukan berdasarkan persentase hidup,
intensitas kehijauan daun dan vigor tanaman yang lebih tinggi pada hari ke-6 dan
ke-9 perlakuan gelap.
Tanaman kedelai beradaptasi pada kondisi cekaman ICR melalui
mekanisme penghindaran yaitu dengan meningkatkan efisiensi penangkapan
cahaya. Efisiensi penangkapan cahaya yang dilakukan tanaman kedelai yang
toleran ICR (CG30-10, Ceneng dan SC54-1) yaitu dengan peningkatan luas daun
trifoliat, daun lebih tipis, panjang lapisan palisade yang lebih pendek, rasio
klorofil a/b yang lebih rendah, serta mempunyai perkembangan grana yang lebih
baik dengan tingkat kerusakan/ degradasi membran tilakoid kloroplas yang lebih
rendah pada kondisi naungan 55%. Sedangkan mekanisme toleran dilakukan
dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan cahaya. Genotipe kedelai
yang toleran terhadap ICR (Ceneng, CG30-10 dan SC54-1) mempunyai
kemampuan untuk mempertahankan laju fotosintesis agar tidak mengalami
penurunan yang besar, mempunyai kemampuan menurunkan tingkat respirasi
gelap (Rd) yang lebih tinggi, dan mempunyai nilai titik kompensasi cahaya (LCP)
yang rendah. Urutan tingkat toleransi tanaman terhadap ICR dari yang lebih
toleran sampai yang paling peka yaitu CG30-10, Ceneng, SC54-1, CG7610 dan
Godek.
Collections
- MT - Agriculture [3999]
