Show simple item record

dc.contributor.advisorSyaukat, Yusman
dc.contributor.advisorHartoyo, Sri
dc.contributor.advisorFariyanti, Anna
dc.contributor.advisorKrisnamurthi, Bayu
dc.contributor.authorMariyah
dc.date.accessioned2019-01-17T08:07:25Z
dc.date.available2019-01-17T08:07:25Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95987
dc.description.abstractRumahtangga petani yang mengusahakan tanaman tahunan termasuk kelapa sawit akan menghadapi siklus produksi tanaman yang mulai menurun. Penurunan produktivitas berkaitan erat dengan umur tanaman. Tanaman tua perlu diremajakan untuk menjaga kestabilan produksi dan pendapatan. Umur optimal peremajaan perlu diketahui guna memaksimumkan keuntungan usahatani. Peremajaan kelapa sawit membutuhkan biaya yang tinggi sehingga menjadi persoalan bagi perkebunan rakyat. Pembiayaan peremajaan dapat bersumber dari internal rumahtangga petani dan dari eksternal. Kemampuan rumahtangga petani dalam pengelolaan usahatani akan memberikan kontribusi pendapatan terhadap kemampuan ekonomi rumahtangga untuk melakukan peremajaan secara mandiri. Kemampuan rumahtangga petani dalam mengakses pembiayaan dari sumber eksternal sangat diperlukan jika kemampuan ekonomi rumahtangga tidak mencukupi. Pengetahuan tentang umur optimal peremajaan, kemampuan ekonomi rumahtangga, dan akses rumahtangga terhadap pembiayaan menjadi penentu bagi keberlanjutan usaha kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis umur optimal peremajaan berdasarkan arus pendapatan usaha kelapa sawit yang diusahakan oleh rumahtangga petani, (2) Menganalisis kemampuan ekonomi rumahtangga petani dan faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan ekonomi rumahtangga petani untuk melakukan peremajaan kelapa sawit, (3) Menganalisis keputusan petani terhadap peremajaan, (4) Menganalisis keputusan petani dalam mengambil kredit peremajaan kelapa sawit, dan (5) Menganalisis pola peremajaan kelapa sawit di Kabupaten Paser. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Paser dengan waktu pengambilan data primer mulai Desember 2016-Maret 2017. Data yang digunakan adalah data cross section dengan jumlah sampel 268 rumahtangga petani berdasarkan umur tanaman kelapa sawit dari 0-33 tahun. Analisis penentuan umur optimal peremajaan kelapa sawit menggunakan model optimum replacement dan perilaku rumahtangga petani dalam peremajaan menggunakan model persamaan simultan serta analisis logit untuk menganalisis sikap petani terhadap peremajaan dan peluang akses rumahtangga petani terhadap kredit peremajaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa produksi maksimum tanaman kelapa sawit dicapai pada umur tanaman antara 19-20 tahun. Umur optimal peremajaan kelapa sawit berada pada umur 32 tahun. Keuntungan yang diperoleh dari usaha kelapa sawit pada umur ini adalah 8.69 juta per hektar per tahun dengan penerimaan Rp 15.50 juta dan biaya Rp 6.80 juta. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa umur optimal peremajaan sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga. Penurunan tingkat suku bunga akan memperpendek umur optimal peremajaan menjadi 31 tahun. Sebaliknya Kenaikan tingkat suku bunga memperpanjang umur optimal peremajaan menjadi 34 tahun. Peremajaan saat ini tidak dapat dilakukan secara mandiri oleh rumahtangga petani karena kemampuan ekonomi rumahtangga yaitu rasio antara tabungan peremajaan dan biaya peremajaan hanya sebesar 10.81 persen dan rasio antara surplus pendapatan dan biaya peremajaan sebesar 39.27 persen. Artinya jika berdasarkan ketersediaan tabungan dan surplus pendapatan per hektar per tahun maka rumahtangga petani saat ini masih membutuhkan bantuan pembiayaan dari luar rumahtangga. Rumahtangga dengan umur tanaman diatas 30 tahun lebih banyak menabung untuk biaya peremajaan dalam bentuk bibit kelapa sawit dibandingkan uang tunai. Kemampuan ekonomi rumahtangga dapat ditingkatkan melalui kebijakan penetapan umur peremajaan kelapa sawit dan kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Penetapan umur peremajaan dapat membantu rumahtangga merencanakan peremajaan dengan menabung sebagian pendapatan kelapa sawit selama masa produktif. Kenaikan harga TBS dapat meningkatkan penerimaan dari usaha kelapa sawit. Alasan rumahtangga petani belum melakukan peremajaan adalah berharap adanya bantuan peremajaan dalam waktu dekat dan sedang dalam proses pengajuan dana hibah peremajaan sebesar 36.28 persen. Keputusan rumahtangga melakukan peremajaan dipengaruhi oleh jumlah plot lahan dengan umur tanaman yang berbeda, umur petani, diversifikasi sumber pendapatan, akses rumahtangga terhadap pinjaman selain kredit peremajaan, lama pendidikan, dan luas areal kelapa sawit. Ketersediaan lahan dengan umur tanaman berbeda menjadi sumber pendapatan rumahtangga petani selama masa peremajaan kelapa sawit. Penelitian ini menunjukkan bahwa rumahtangga yang telah meremajakan tanamannya memiliki pendapatan dari tanaman yang telah diremajakan sebesar 51.86 persen dan pendapatan dari tanaman dengan umur yang lain sebesar 48.14 persen. Selain itu, pembiayaan dari sumber eksternal masih diperlukan dalam pembiayaan peremajaan. Keputusan rumahtangga mengambil kredit peremajaan dipengaruhi secara positif oleh variabel umur petani, lama pendidikan petani, dan pengeluaran rumahtangga perkapita.Variabel luas areal kelapa sawit yang dimiliki, jumlah plot lahan dengan umur tanaman yang berbeda, dan akses rumahtangga terhadap pinjaman lain selain kredit peremajaan berpengaruh negatif terhadap keputusan rumahtangga mengambil kredit peremajaan. Rumahtangga petani memiliki akses terhadap sumber pembiayaan yang tinggi. Rumahtangga petani sebesar 55.22 persen memiliki pinjaman kepada perbankan dan hanya 44.78 persen yang tidak memiliki pinjaman. Hal ini menjadi peluang untuk pemanfaatan pinjaman tersebut untuk pembiayaan peremajaan. Rumahtangga petani yang masih memiliki waktu sebelum umur optimal peremajaan perlu merencanakan peremajaan secara bertahap dan mandiri. Kemampuan rumahtangga untuk bisa mengusahakan tanaman kelapa sawit dengan variasi umur tanaman juga sangat membantu sumber pendapatan rumahtangga dalam masa peremajaan. Implikasi penelitian ini adalah diperlukannya bantuan dana untuk peremajaan dari sumber eksternal bagi rumahtangga yang sudah memasuki umur optimal peremajaan. Perencanaan peremajaan secara mandiri harus dilakukan oleh rumahtangga petani yang masih dalam masa produktif.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcAgricultural Economicsid
dc.subject.ddcFarm Household Economicsid
dc.subject.ddc2017id
dc.subject.ddcKalimantan Timurid
dc.titlePerilaku Ekonomi Rumahtangga Petani dalam Peremajaan Kelapa Sawit di Kabupaten Paser Kalimantan Timurid
dc.typeDissertationid
dc.subject.keywordPeremajaan kelapa sawitid
dc.subject.keywordpembiayaanid
dc.subject.keywordrumahtangga petaniid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record