Show simple item record

dc.contributor.advisorHidayati, Rini
dc.contributor.advisorHidayat, Rahmat
dc.contributor.authorAflahah, Elania
dc.date.accessioned2018-11-12T06:48:27Z
dc.date.available2018-11-12T06:48:27Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95032
dc.description.abstractKalimantan merupakan wilayah dengan hutan primer dan sekunder yang digunakan untuk melindungi berbagai bencana alam, selain itu Kalimantan juga merupakan wilayah yang rentan terhadap fenomena ENSO. Selain disebabkan karena fenomena el nino, potensi peningkatan kebakaran lahan juga dipengaruhi oleh faktor manusia/antropogenik. Pengaruh antropogenik menyebabkan peningkatan temperatur sehingga jumlah hotspot mengalami peningkatan yang dalam hal ini merupakan indikator kebakaran hutan dan lahan. Sehingga diperlukan penelitian mengenai pengaruh antropogenik terhadap curah hujan dan temperatur menggunakan hasil luaran GCM dan RegCM. Penelitian ini belum banyak dilakukan, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor antropogenik terhadap kondisi iklim yang berpotensi meningkatkan kebakaran hutan di Kalimantan. Penelitian ini menggunakan data curah hujan, temperatur, visibility https://www.ogimet.com/gsodc.phtml.en, serta data hotspot bulanan dari masingmasing propinsi di Kalimantan yang didapatkan dari BMKG dari tahun 2007- 2016. Analisis periode dasarian untuk propinsi Kalimantan Tengah yang digunakan sebagai studi kasus untuk membangun sistem peringatan dini kebakaran hutan. Analisis statistik dari data observasi tidak bisa mengidentifikasi faktor antropogenik karena tidak ada data terkait faktor antropogenik sehingga diperlukan pemodelan iklim dengan menggunakan simulasi RegCM. Simulasi RegCM memerlukan data inputan berupa kelembaban (huss), tekanan (ps), temperatur (ta), angin zonal (ua) dan meridional (va). Simulasi RegCM dilakukan melalui tiga tahap yaitu (1) tahap preprocessing (2) tahap processing dan (3) tahap post-processing. Dalam penelitian ini menggunakan model GFDL-ESM2M dengan resolusi spasial sebesar 30 km x 30 km, dari bulan Juni, Juli dan Agustus (JJA) untuk masing-masing tahun 1993, 1994, 1997, 1998, 2013, 2014, dan 2015. Analisis pengaruh antropogenik didapatkan dengan mengurangkan antara data Historis-NAT. Jumlah hotspot memiliki hubungan yang erat dengan visibility dan kondisi iklim pada periode yang sama. Nilai Pvalue < 0.05 menunjukkan signifikan terhadap faktor iklim, korelasi yang dihasilkan -0.69 tanpa lagtime, dan -0.79 dengan lagtime di wilayah Kalimantan Tengah. Persamaan yang digunakan sebagai sistem peringatan dini disusun dari kondisi iklim 1 dekade sebelumnya. Pengaruh antropogenik akan sangat berperan dalam kondisi iklim yang berpotensi meningkatkan kebakaran hutan apabila meyebabkan curah hujan menurun, dan temperatur meningkat pada musim kemarau. Perubahan curah hujan akibat pengaruh antropogenik pada tahun El Nino, normal dan La nina sebesar -5 ~ 5% per bulan berturut-turut dari (0~450), (-150~450), dan (-150~450) mm/bulan. Kenaikan temperatur akibat pengaruh antropogenik tidak signifikan, karena kenaikannya sangat kecil yaitu 0.002-0.003% untuk tahun el nino, (0.0025- 0.003% & 0.0025-0.0035%) untuk tahun normal, 0.001-0.0035% per bulan untuk tahun la nina dari (-10C~1.80C). Sehingga diperlukan analisis pada bulan JuliAgustus- September (JAS) untuk mendapatkan hasil yang lebih baik pada simulasi lanjutan di RegCM mengenai proyeksi curah hujan dan temperatur 10-20 kedepan.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcApplied Climatologyid
dc.subject.ddcForest Fireid
dc.subject.ddc2018id
dc.subject.ddcBogor, Jawa Baratid
dc.titlePengaruh Antropogenik terhadap Kondisi Iklim yang Berpotensi Meningkatkan Kebakaran Lahan Di Kalimantanid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordantropogenikid
dc.subject.keywordfaktor iklimid
dc.subject.keywordkebakaran lahanid
dc.subject.keywordregcmid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record