| dc.description.abstract | Organisme tanah dengan diversitas yang tinggi berperan dalam menjaga
stabilitas ekosistem melalui interaksinya yang kompleks dalam jaring-jaring
makanan. Gangguan pada ekosistem berdampak pada perubahan struktur
organisme tanah termasuk Collembola. Pada ekosistem tanah Collembola
menyusun 75 – 93 % dari populasi tanah lainnya. Dalam perkembangan ilmu
klasifikasi, Collembola terpisah dari kelas Insecta menjadi kelas tersendiri, hal
tersebut karena Collembola memiliki ciri-ciri spesifik yang membedakannya dari
anggota Arthropda lainnya, ciri tersebut antara lain adanya organ pasca antena,
mata teridiri dari 0 – 8 oselus, tubuh terdiri dari 3 ruas toraks dan 6 ruas abdomen,
memiliki kolofor dan furkula.
Penelitian mengenai kelimpahan dan keanekaragaman Collembola di
Kalimantan barat belum pernah dilakukan sehingga informasinya masih sangat
terbatas. Kalimantan Barat memiliki luasan 7.7% dari total luas daratan di
Indonesia, dengan tutupan hutan sekitar 42% dari luas wilayahnya. Namun
tingginya kegiatan pembukaan lahan dan alih fungsi hutan di wilayah tersebut
sangat mempengaruhi biodiversitas Arthropoda tanah termasuk Collembola.
Collembola merupakan kelompok Arthropoda yang sangat beragam dan memiliki
fungsi penting di dalam ekosistem tanah, diantaranya berperan dalam rantai
makanan dan membantu dalam proses perombakan bahan organik.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kelimpahan dan keanekaragaman
Collembola pada lima tipe ekosistem yang berbeda yaitu ekosistem hutan alami,
hutan karet, kebun kelapa sawit, ladang dan lahan terlantar, serta mengkaji
pengaruh faktor lingkungan seperti kadar air tanah, pH tanah, suhu tanah dan
unsur hara tanah terhadap Collembola. Penelitian ini dilakukan di dua Kecamatan
yaitu Batang Lupar dan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan
Barat. Pengambilan sampel Collembola dilakukan pada Desember 2016 dan
Februari 2017. Sampling tanah dan serasah menggunakan metode pencuplikan
contoh tanah dengan ukuran 20 x 20 x 5 cm pada jalur transek sepanjang 100 m.
Ekstraksi contoh tanah dan serasah dilakukan dengan menggunakan Berlese Heat
Ekstraktor selama lima hari. Collembola yang terekstrak disimpan dalam botol
spesimen berisi alkohol 96% dan diidentifikasi hingga tingkat genus. Identifikasi
menggunakan sistem morfospesies.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan Collembola dari seluruh
ekosistem pengamatan adalah 393 individu yang terdiri dari 3 ordo, 10 famili dan
26 genus yaitu Hypogastrura, Xenylla, Folsomides, Folsomia, Proisotoma,
Isotomiella, Pseudisotoma, Ascocyrtus, Acrocyrtus, Lepidocyrtoides,
Rambutsinella, Lepidosira, Coecobrya, Willowsia, Lepidocyrtus, Heteromurus,
Tomoceridae, Lepidonella, Callyntrua, Harlomillsia, Oncopodura, Arrhopalites,
Collophora, Sphyrotheca, Sminthurides, Papiroides. Dari hasil penelitian, ada
perbedaan kelimpahan Collembola antara hutan alami (172 individu), hutan karet
(118 individu), kebun kelapa sawit (64 individu), ladang (34 individu) dan lahan
terlantar (6 individu). Kelimpahan dan keragaman Collembola dipengaruhi oleh
perbedaan ekosistem dan faktor lingkungan tanah. Berdasarkan hasil penelitian,
ordo Entomobryomorpha, khususnya famili Entomobryidae, memiliki populasi
yang tinggi di setiap lokasi pengamatan. Hal tersebut karena anggota ordo ini pada
umumnya dapat bergerak aktif, bentuk tubuh ramping, dan furka yang panjang
sehingga sangat mendukung pergerakannya.
Berdasarkan indeks keanekaragaman, hutan alami memiliki
keanekaragaman Collembola tertinggi (2.69), diikuti oleh hutan karet (2.44),
kebun kelapa sawit (2.37), ladang (1.52) dan lahan marginal (0.56). Hasil analisis
uji korelasi Pearson menunjukkan hubungan beberapa genus Collembola dengan
faktor lingkungan tanah seperti C organik, N total, C/N rasio, pH tanah, kadar air
dan suhu tanah. Tinggi atau rendahnya nilai faktor lingkungan tanah, diduga dapat
mempengaruhi populasi jenis Collembola tertentu dengan nilai korelasi yang
berbeda. | id |