Keberlanjutan pembangunan pulau-pulau kecil : sudi kasus kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Small islands development sustainability: a case study in Kelurahan Pulau Panggang and Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Date
2003Author
Susilo, Setyo Budi
Fauzi, Akhmad
Soedharma, Dedi
Bengen, Dietriech G.
Metadata
Show full item recordAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menilai keberlanjutan pembangunan pulau-pulau kecil di Keluarahan Pulau Panggang dan Kelurahan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, berdasarkan penyusunan indeks keberlanjutan pembangunan pulau-pulau kecil (IBPK) dan model dinamika ekonomi-ekologis. Tujuan selanjutnya adalah membuat perbandingan IBPK di dua kelurahan tersebut. Hasil penelitian mendapatkan bahwa metode Rapsmile (Rapid Appraisal of Small Islands Development) dapat digunakan sebagai metode penilaian status keberlanjutan pembangunan pulau-pulau kecil. Analisis ketidakpastian "Monte Carlo" yang dilakukan terhadap metode Rapsmile ini membuktikan bahwa indeks hasil analisis Rapsmile sangat stabil dengan selang kepercayaan yang sangat sempit. IBPK Kelurahan Pulau Panggang lebih tinggi dari IBPK Kelurahan Pulau Pari walaupun keduanya masih termasuk ke dalam status keberlanjutan pembangunan yang sama, yaitu "cukup". Analisis Rapsmile yang mencakup 61 atribut (variable) pada 5 dimensi pembangunan (ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, dan hukum dan kelembagaan) memperlihatkan bahwa dimensi ekonomi merupakan dimensi yang paling rendah IBPK-nya (masih dalam status kurang) di dua kelurahan tersebut. Oleh karena itu secara umum pembangunan pulau-pulau kecil di dua kelurahan tersebut belum berkelanjutan dan perlu dilakukan perbaikan-perbaikan dimensi ekonomi di daerah studi agar status keberlanjutan pembangunan di dua kelurahan tersebut dapat meningkat. Analisis "leverage" yang mirip dengan analisis "Jack-knife" terhadap 61 atribut tersebut memperlihatkan adanya 2 atribut yang tidak sensitif terhadap IBPK. Analisis model ekonomi-ekologis menyimpulkan bahwa jumlah tenaga kerja (nelayan) di Kepulauan Seribu (dalam satuan orang-hari) harus diturunkan agar dapat menuju ke arah keseimbangan ekonomi-ekologis (keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya alam). Sementara itu penurunan rasio biaya tenaga kerja (c) terhadap harga jual (p) ikan (rasio c/p) juga harus dilakukan agar terjadi perbaikan ekonomi masyarakat nelayan di Kepulauan Seribu. Oleh karena itu secara umum disimpulkan bahwa pembangunan pulau-pulau kecil di Kelurahan Pulau Panggang dan Kelurahan Pulau Pari belum berkelanjutan
Collections
- DF - Fisheries [799]
Related items
Showing items related by title, author, creator and subject.
-
Studi Kesukaan (Preferensi) Ikan Karang Terhadap Karakteristik Tipe Substrat Dasar Di Kawasan Perairan Pulau-Pulau Lima (Pulau Lima, Pulau Buyut, Pulau Kasenga dan Pulau Bamijo) Bagian Barat Pulau Belitung
Septiasari, Reditha (2004)Ketersediaan data dan informasi mengenai terumbu karang dan ikan karang di Pulau Belitung masih terasa sangat kurang. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat di Pulau Belitung tentang pentingnya keberadaan ... -
Formulasi indeks kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil: kasus pulau Kasu-Kota Batam, Pulau Barrang Lompo-Kota Makasar, dan Pulau Saonek-Kabupaten Raja Ampat
Tahir, Amiruddin | Boer, Mennofatria | Susilo, Setyo Budi | Jaya, Indra (2010)Indonesian archipelago consist of strings of island, large and small. Small islands, in particularly, are vulnerable to the impact of global warming and sea level rise. The vulnerability of assessment of small islands is ... -
Penilaian Pulau Kecil Sebagai Dasar Pengembangan Investasi Ekowisata Studi Kasus Pulau Pari, Pulau Payung Besar Dan Pulau Tidung Kecil Kabupaten Kepulauan Seribu.
Widodo, Puguh Wahyu | Kurnia, Rahmat | Sulistiono (2015)Penilaian pulau kecil digunakan untuk menentukan pulau yang layak bagi investasi ekowisata. Saat ini pemerintah sudah membuat kriteria indeks dalam melakukan penilaian pulau kecil dalam rangka mendukung investasi ekowisata. ...


