| dc.description.abstract | Limbah serat memiliki kecernaan rendah, karena itu penggunaannya sebagai pakan memerlukan sentuhan teknologi. Teknologi pengolahan, misalnya amoniasi, dapat meningkatkan fermentabilitas. Peningkatan fermentabilitas harus disertai penye-diaan nutrien prekursor sintesis biomassa mikroba. Keterbatasan nutrien menurunkan pertumbuhan mikroba. Kecernaan dalam rumen ditentukan populasi mikroba. Peningkatan populasi mikroba dapat didekati dari segi ekologi dan kecukupan pasokan nutriennya. Pada ternak yang mendapat pakan serat, kehadiran protozoa dalam rumen kurang mengun-tungkan, karena menekan perkembangan bakteri. Defaunasi rumen ditujukan untuk menghilangkan atau mengurangi protozoa, agar tercipta kondisi ekologi yang kondusif bagi pertumbuhan bakteri. Beberapa hal perlu diperhatikan pada pelaksanaan defauna-si, misalnya kecukupan pasokan nitrogen (N) dan kerangka karbon bercabang dalam rumen. Pakan serat rendah kadar N, sehingga pemakaiannya perlu disertai penambahan N. Penggunaan ransum mengandung nitrogen bukan protein (NPN) akan berhasil apabi-la disertai suplementasi asam lemak rantai cabang (BCFA). BCFA dalam rumen berasal dari fermentasi protein pakan dan bakteri yang lisis. Apabila ransum rendah protein dan ada penerapan defaunasi, maka jumlah BCFA dalam rumen sangat terbatas. Pada ransum mengandung NPN, selain suplementasi karbon bercabang, perlu pula suplementasi sulfur (S). Mineral tersebut diperlukan untuk sintesis de novo asam amino mengandung S. Mikroba rumen dapat memanfaatkan S anorganik dengan baik. S terinkorporasi ke dalam sistein dalam bentuk sulfida. Pada ruminansia sebagian energi pakan terbuang dalam bentuk metan (CH4). Metan terbentuk dari reaksi CO, dan H₂, yaitu reaksi untuk menyalurkan akumulasi hidrogen dalam rumen. Perlu metode manipulasi proses nutrisi untuk menekan produksi metan. Hal tersebut dapat dicapai misalnya dengan mengarahkan fermentasi menuju sintesis propionat, atau dengan mengalihkan akumulasi hidrogen untuk menjenuhi asam lemak tidak jenuh. | |