Show simple item record

dc.contributor.advisorSahara
dc.contributor.advisorJuanda, Bambang
dc.contributor.authorDhiyaaulhaq, Mishbahuddin
dc.date.accessioned2018-04-18T07:12:21Z
dc.date.available2018-04-18T07:12:21Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/91463
dc.description.abstractKemiskinan masih menjadi masalah utama dalam pembangunan bagi setiap daerah, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Kemiskinan sendiri terjadi salah satunya karena disebabkan oleh tingginya tingkat pengangguran, ketimpangan pembangunan antara daerah perdesaan dan perkotaan ikut menjadi penyebab semakin tingginya tingkat kemiskinan di daerah perdesaan. Industri mikro dan kecil merupakan sektor yang dapat tumbuh di seluruh wilayah dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak. Pendekatan wilayah harusnya sudah digunakan dalam mengatasi masalah kemiskinan, karena masing-masing wilayah memiliki karakteristik kemiskinan yang berbeda-beda. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pola penyebaran kemiskinan dan pengaruh industri mikro dan kecil terhadap kemiskinan di wilayah DI Yogyakarta. Pola penyebaran kemiskinan antar kecamatan di DI Yogyakarta dianalisis dengan metode analisis moran’s I, moran’s scatterplot, dan Local Indicator of Spatial Autocorrelation (LISA). Sedangkan pengaruh industri mikro dan kecil terhadap kemiskinan di setiap wilayah kecamatan DI Yogyakarta dianalisis dengan model regresi Geographically Weighted Regression (GWR). Hasil analisis dengan menggunakan uji moran’s I menunjukkan bahwa pola hubungan persentase kemiskinan antar kecamatan di DI Yogyakarta adalah mengelompok (clustered) dengan nilai moran’s index sebesar 0,616295. Selanjutnya, hasil analisis dengan moran’s scatterplot memperlihatkan pola hubungan persentase kemiskinan di setiap kecamatan di DI Yogyakarta dominan pada kuadran I dan kuadran III. Kuadran I memperlihatkan pola hubungan kecamatan yang memiliki persentase kemiskinan tinggi dikelilingi oleh wilayah dengan persentase tingkat kemiskinan yang tinggi juga, sedangkan pola hubungan pada kuadran III adalah kecamatan yang memiliki persentase kemiskinan rendah dikelilingi oleh kecamatan yang memiliki persentase kemiskinan rendah. Hasil pengujian LISA juga memperlihatkan bahwa kecamatan yang persentase kemiskinannya secara beda nyata memiliki auto korelasi spasial dengan persentase kemiskinan kecamatan di sekitarnya hanya ada 3 pola hubungan, yaitu 14 kecamatan dengan pola hubungan High-High (HH), 22 kecamatan dengan pola hubungan Low-Low (LL), dan satu kecamatan yang memiliki hubungan Low-High (LH) yaitu kecamatan Wonosari yang juga merupakan Ibukota Kabupaten Gunung Kidul. Sedangkan dari hasil analisis GWR, secara umum tenaga kerja dan investasi industri mikro dan kecil secara signifikan dapat mengurangi persentase kemiskinan di sebagian besar kecamatan di DI Yogyakarta, kecuali di kecamatan yang berada di wilayah Kota Yogyakarta dan sekitarnya.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcRegional Planningid
dc.subject.ddcSmall Scale industryid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcYogyakartaid
dc.titleAnalisis Penyebaran Kemiskinan dan Pengaruh Industri Mikro dan Kecil Terhadap Kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta.id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordindustri mikro dan kecilid
dc.subject.keywordinvestasiid
dc.subject.keywordkemiskinanid
dc.subject.keywordtenaga kerjaid
dc.subject.keywordwilayahid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record