| dc.description.abstract | Salinitas merupakan kendala utama untuk memperoleh hasil padi (Oryza
sativa L.) yang tinggi di daerah pesisir. Salinitas mengganggu tanaman padi pada
semua fase pertumbuhan dari perkecambahan hingga pengisian biji yang
menyebabkan pengurangan perkecambahan biji, kelangsungan hidup bibit, jumlah
anakan, tinggi tanaman, ukuran malai, gabah bernas dan hasil panen. Salinitas
menginduksi kerusakan kloroplas yang menyebabkan pengurangan kadar klorofil
dan kapasitas fotosintesis. Penanaman varietas padi yang toleran terhadap salinitas
adalah cara praktis dan ekonomis untuk meningkatkan hasil padi di daerah salin.
Metode pengujian toleransi terhadap salinitas selama ini telah dilakukan di
rumah kaca dengan cara menanam bibit berumur 14 hari pada media tanah yang
diberi salinitas dengan 4000 ppm NaCl. Penelitian untuk mendapatkan metode yang
lebih baik telah dilakukan dengan tujuan mengembangkan metode cepat pengujian
toleransi salinitas padi pada fase perkecambahan. Diharapkan metode ini akan lebih
sederhana, singkat, dan lebih murah dari metode yang ada. Penelitian dilakukan di
Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, IPB, green house Kebun Percobaan
Muara, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, dan lahan salin di Karawang, Jawa
Barat dari bulan September 2016 sampai bulan Maret 2017. Penelitian ini terdiri
dari dua tahap, 1. Identifikasi metode potensial untuk menguji toleransi salinitas,
dan 2. Pengujian toleransi genotipe padi terhadap salinitas pada fase
perkecambahan di laboratorium, fase vegetatif di rumah kaca, dan penanaman di
lahan salin.
Identifikasi metode potensial dilakukan dengan menguji daya berkecambah
benih menggunakan metode, Uji Kertas Digulung dalam plastik (UKDdp) dan Uji
Diatas Kertas (UDK) yang diberi perlakuan larutan NaCl dengan konsentrasi
berbeda. Kedua percobaan, uji perkecambahan dengan metode UKDdp dan UDK
dilakukan dalam Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Dua faktor yang
diterapkan pada masing-masing percobaan adalah varietas padi sebagai faktor
pertama yaitu Pokkali dan Inpari 34 (toleran salinitas), IR29 dan Pelopor (peka
salinitas), dan konsentrasi NaCl sebagai faktor kedua yaitu: 0, 2000, 4000, 6000,
8000, 10 000 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas toleran dan peka
dapat dibedakan pada UKDdp dengan NaCl 4000 ppm dengan menggunakan
indeks vigor dan daya berkecambah sebagai parameter dan pada UDK dengan 4000
ppm NaCl menggunakan indeks vigor sebagai parameter. UKDdp dengan 4000
ppm NaCl diidentifikasi sebagai metode terbaik karena pengamatan lebih mudah
dan menghasilkan perbedaan yang lebih besar antara varietas toleran dan peka.
Pengujian toleransi genotipe padi terhadap salinitas pada fase
perkecambahan dilakukan pada 36 galur dengan menggunakan metode yang
teridentifikasi, UKDdp dengan 4000 ppm NaCl dan parameter indeks vigor dan
daya berkecambah. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3
ulangan. Hasilnya menunjukkan indeks vigor dan daya berkecambah galur padi
menyebar pada rentang varietas cek toleran dan peka. Ini menegaskan bahwa
metode ini dapat membedakan genotipe toleran dan peka, dan menunjukkan
tingginya variabilitas toleransi salinitas galur padi yang diuji.
Pengujian toleransi salinitas genotipe padi pada fase vegetatif dilakukan
terhadap galur yang sama pada fase perkecambahan. Bibit berumur dua minggu
ditanam di dalam boks plastik yang berisi 5 kg tanah kering angin yang diberikan 4
liter larutan NaCl 4000 ppm. Pengamatan persentase daun mati dilakukan pada 14
hari setelah tanam. Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan diterapkan pada
percobaan. Hasilnya menunjukkan distribusi persentase daun mati dari galur-galur
yang diuji sangat lebar meliputi rentang varietas toleran dan peka. Ada korelasi
yang erat (r2 = - 0.71) antara daya berkecambah dalam pengujian fase
perkecambahan dan persentase daun mati dalam pengujian pada fase vegetatif.
Indeks vigor juga berkorelasi negatif dengan persentase daun mati, namun dengan
koefisien korelasi lebih rendah. Berdasarkan persentase daun mati, galur
diklasifikasikan menjadi toleran, agak toleran, agak peka, dan peka terhadap
salinitas masing-masing terdiri dari 3, 10, 15, dan 8 galur. Klasifikasi galur yang
sama berdasarkan daya berkecambah menghasilkan masing-masing 4, 10, 7, dan 15
galur. Jumlah galur toleran dan agak agak toleran berdasarkan daya berkecambah
dan persentase daun mati hampir sama namun tidak pada galur agak peka dan peka.
Seleksi terhadap 10 galur paling toleran dengan dua metode menghasilkan 8 galur
yang sama dan 2 galur berbeda, atau memiliki kesesuaian 80%.
Pengujian toleransi salinitas dengan penanaman di lahan salin juga
dilakukan untuk galur-galur tersebut. Bibit berumur tiga minggu ditanam dalam
plot berukuran 9 x 1.5 m dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. Pupuk yang digunakan
adalah Urea, SP-36, dan KCl masing-masing dengan 250 kg ha-1, 175 kg ha-1, dan
150 kg ha-1. Galur yang diuji menunjukkan pertumbuhan normal dan hasilnya tidak
dapat membedakan varietas cek toleran dan peka, bahkan ada varietas cek peka
yang hasilnya lebih tinggi dari varietas cek toleran. Salinitas di lapangan percobaan
sangat tinggi (16 dSm-1) saat percobaan dimulai, namun berfluktuasi selama periode
percobaan karena turunnya hujan meskipun musim kemarau. Hasil dan data lain
yang dikumpulkan tidak dapat menunjukkan toleransi salinitas sehingga digunakan
untuk karakterisasi galur. Karakter dari sepuluh galur paling toleran adalah tinggi
tanaman (93-100 cm), jumlah anakan produktif (16-21 anakan), umur berbunga
(86-90 hari), panjang malai (24-26 cm), jumlah gabah per malai (93-132 butir),
gabah isi per malai (65-82%), bobot 1000 butir benih (23-26 g), dan hasil gabah
(3.7-6.3 ton ha-1). | id |