Show simple item record

dc.contributor.advisorPerdinan
dc.contributor.authorHasaningtyas, Nisa
dc.date.accessioned2018-01-30T01:33:48Z
dc.date.available2018-01-30T01:33:48Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/89707
dc.description.abstractPerubahan iklim menjadi salah satu faktor utama berbagai persoalan lingkungan dan manusia. Pihak yang paling merasakan dampak perubahan iklim yang menyebabkan ancaman global adalah wilayah atau negara-negara miskin dan kelompok masyarakat yang rentan, seperti perempuan dan anak-anak. Pemilihan indikator disusun berdasarkan pertimbangan sensitivitas terhadap iklim dan fokus anak. Wilayah dengan tingkat keterpaparan yang “Sedang” (S) merupakan cenderung terdampak oleh adanya bangunan rumah pemukiman kumuh dan bangunan di bantaran sungai. Wilayah dengan topografi yang datar hingga landai dan memiliki frekuensi kejadian bencana alam yang sedang, sehingga dampak negatif dari bencana alam dan kondisi fisik alamiahnya sedang berpengaruh terhadap lingkungannya. Wilayah tersebut cenderung akibat curah hujan di hulu sungai yang begitu tinggi, sehingga sungai meluap ke pemukiman maupun area sawah dan mengakibatkan banjir yang sering terjadi di Kota Bima. Tingkat sensitivitas dipengaruhi oleh ketergantungan anak dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Sensitivitas yang “Sedang” (S) ini menunjukkan cenderung banyaknya bangunan rumah pemukiman kumuh dan bangunan di bantaran sungai akan berpengaruh terhadap kondisi kesehatan anak-anak yang mengancam masyarakat kurang sejahtera. Tingkat kapasitas adaptasi dipengaruhi oleh fasilitas listrik, sanitasi, akses air minum, kesehatan, dan kesiapsiagaan bencana. Beberapa kelurahan di Kota Bima yang letaknya berdekatan cenderung memiliki kapasitas adaptasi yang “Sedang” (S), ini dipengruhi oleh interaksi masyarakat yang sama sehingga memiliki kapasitas adaptasi yang sama. Wilayah Ntobo dan Penaraga memiliki perbedaan dengan kapasitas adaptasi yang “Tinggi” (T) dan “Rendah” (R), karena Kelurahan Ntobo memiliki masyarakat yang memiliki kesadaran terhadap sensitif iklim. Kota Bima sebagian besar merupakan wilayah dengan kerentanan yang “Sedang” (S). Faktor utama dari kerentanan adalah wilayah dengan sensitivitas yang “Tinggi” (T) terhadap kondisi kesehatan anak-anak dan mengancam masyarakat kurang sejahtera yaitu pada Kelurahan Penaraga, sehingga menjadikan dampak potensial yang ada di Kelurahan Penaraga dengan kapasitas adaptasi yang “Sedang” (S) terhadap kondisi sanitasi.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcGeophysics and Meteorologyid
dc.subject.ddcClimateid
dc.subject.ddc2017id
dc.subject.ddcSumbawa-NTBid
dc.titlePemetaan Kerentanan Iklim Fokus Anak (Studi Kasus: Kota Bima).id
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordKota Bimaid
dc.subject.keywordKeterpaparanid
dc.subject.keywordSensitivitasid
dc.subject.keywordKapasitasid
dc.subject.keywordAdaptasiid
dc.subject.keywordKerentanan Iklimid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record