| dc.description.abstract | Jakarta dikategorikan sebagai megacities yang tidak bisa dilepaskan dari
perkembangan sektor industri dan transportasi. Hal ini berdampak pada pelepasan
emisi pencemar ke udara berupa PM10 dan NO2 dan berpotensi terjadinya
pencemaran udara. Pencemaran udara dapat mengganggu kesehatan yang fatal
bagi masyarakat, sehingga diperlukan upaya antisipasi melalui pemantauan
kualitas udara berkelanjutan. Jumlah stasiun pemantau yang ada belum
representatif mewakili seluruh Jakarta. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis sebaran pencemar PM10 dan NO2 di Jakarta, serta
mengidentifikasi lokasi dengan konsentrasi pencemar maksimum untuk dijadikan
lokasi pemantauan kualitas udara ambien secara kontinu di Jakarta. Pemodelan
mengenai dispersi pencemar menjadi pilihan untuk menganalisis kualitas udara
secara spasial dari waktu ke waktu, sehingga dapat membantu menganalisis
lokasi-lokasi yang berpotensi terpapar konsentrasi pencemar maksimum.
Pemodelan yang dapat digunakan adalah Weather Research Forecasting-
Chemistry (WRF-Chem). Berdasar hasil pemodelan menunjukkan bahwa pola
sebaran PM10 dan NO2 mengikuti mekanisme pola angin darat dan laut. Pola
sebaran pencemar berdasar luaran model menunjukkan daerah Jakarta Selatan
merupakan wilayah yang sering terkena paparan maksimum oleh pencemar NO2,
sedangkan wilayah yang sering terkena paparan maksimum pencemar PM10
adalah daerah Jakarta Utara. Selama periode pemodelan (672 jam), yaitu pada
bulan Februari dan Agustus (336 jam) tahun 2010 serta periode Agustus tahun
2011 dan 2015 dengan masing-masing running selama 168 jam diperoleh 17
lokasi yang berpotensi terpapar konsentrasi pencemar baik PM10 maupun NO2.
Lokasi tersebut yaitu Pantai Indah Kapuk (PIK), Setu Babakan, Bintaro,
Penjaringan, Cilangkap, Cilandak, Pasar Rebo, Ancol, Cengkareng,
Pesanggrahan, Cilincing, Kembangan, Banjir Kanal Timur (BKT), Ragunan,
Pramuka, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Pondok Kelapa. | id |