Prevalensi Cysticercosis Pada Babi Hutan (Sus scrofa) Yang Dipotong Di Tempat Pemotongan Hewan Bengkulu Tengah, Bengkulu.
| dc.contributor.advisor | Retnani, Elok Budi | |
| dc.contributor.advisor | Murtini, Sri | |
| dc.contributor.author | Hartika, Noviriliensi | |
| dc.date.accessioned | 2018-01-08T06:50:27Z | |
| dc.date.available | 2018-01-08T06:50:27Z | |
| dc.date.issued | 2017 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/88730 | |
| dc.description.abstract | Provinsi Bengkulu merupakan daerah asal pemasok daging babi hutan terbanyak ke berbagai daerah lain. Sebagian besar daging tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan hewan di lembaga konservatif. Selain itu, daging babi hutan dengan sengaja dijual dan dikonsumsi masyarakat non-muslim atau untuk mengoplos daging sapi yang dijual di pasar. Cysticercosis pada babi hutan merupakan satu dari beberapa penyakit zoonotik yang ditularkan melalui pangan (food borne disease). Penelitian ini bertujuan untuk menghitung prevalensi cysticercosis pada babi hutan hasil buruan yang dipotong di Tempat Pemotongan Hewan(TPH) Bengkulu Tengah, Bengkulu serta identifikasi dan mengukur hubungan tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang cysticercosis dan taeniosis. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan yaitu bulan Februari sampai Mei 2016 menggunakan metode cross sectional. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan serum babi hutan, pemeriksaanpost-mortem, pengumpulan data pengetahuan dan perilaku masyarakat melalui kuesioner dan analisis laboratorium. Sebanyak 82 babi hutan asal Kecamatan Pagar Jati, Bang Haji dan Pematang Tiga yang dipotongdi TPH dikumpulkan untuk pemeriksaan postmortem dan di ambil serumnya untuk mendeteksi antigen sirkulasi cysticercus. Deteksi antigen sirkulasi cysticercus menggunakan monoclonal antibody-based sandwich enzyme linked immunosorbant Assay( MoAb-ELISA). Metode sandwich yang digunakan berasal dari Institue of Tropical Medicine (ITM 2009). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total seroprevalensi cysticercosis di TPH Bengkulu Tengah sebesar 9.8%. Tidak terdapat perbedaan nilai seroprevalensi di tiga kecamatan yaitu di Kecamatan Pagar Jati sebesar 39.0%, Kecamatan Bang Haji 30.5% dan Kecamatan Pematang Tiga 30.5%. Adapun hasil pemeriksaan postmortem tidak menemukan cysticercus. Hasil analisis hubungan antara pengetahuan/sikap dengan praktik masyarakat terhadap pencegahan cysticercosis/taeniosis berkorelasi positif secara signifikan. | id |
| dc.language.iso | id | id |
| dc.publisher | Bogor Agricultural University (IPB) | id |
| dc.subject.ddc | Parasitology | id |
| dc.subject.ddc | Cysticereosis | id |
| dc.subject.ddc | 2016 | id |
| dc.subject.ddc | Bengkulu Tengah | id |
| dc.title | Prevalensi Cysticercosis Pada Babi Hutan (Sus scrofa) Yang Dipotong Di Tempat Pemotongan Hewan Bengkulu Tengah, Bengkulu. | id |
| dc.type | Thesis | id |
| dc.subject.keyword | Babi hutan (Sus scrofa) | id |
| dc.subject.keyword | Cysticercosis | id |
| dc.subject.keyword | Bengkulu Tengah | id |
Files in this item
This item appears in the following Collection(s)
-
MT - Veterinary Science [977]

