Show simple item record

dc.contributor.advisorBarus, Baba
dc.contributor.advisorMunibah, Khursatul
dc.contributor.authorMuslim, Rufaidah Qonita
dc.date.accessioned2017-11-03T07:55:36Z
dc.date.available2017-11-03T07:55:36Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/88356
dc.description.abstractPeningkatan indeks pertanaman (IP) padi merupakan salah satu upaya yang dilakukan Badan Litbang Pertanian untuk meningkatkan produksi padi (Supriatna 2012). Selain melalui peningkatan IP, upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan beras di suatu wilayah adalah meningkatkan produktivitas padi. Menurut Nduru et al. (2014), agar dapat menghasilkan produktivitas yang cukup tinggi perlu pemahaman mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas padi, seperti benih, tenaga kerja, pupuk, dan lainlain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebaran IP dan produktivitas padi sawah serta hubungan dan faktor-faktor yang mempengaruhi keduanya. Analisis spasial IP dan produktivitas padi menggunakan Analyzing Patterns dengan pendekatan Average Nearest Neighbor yang menunjukkan pola spasial obyek. Analisis faktor yang mempengaruhi produktivitas menggunakan multiple regression. Sedangkan analisis hubungan IP dan produktivitas menggunakan analisis korelasi. Penelitian diawali dengan mengidentifikasi petakan sawah menggunakan citra Ikonos tahun 2010. Unsur interpretasi yang digunakan dalam mengidentifikasi petakan lahan sawah adalah bentuk, warna, ukuran, tekstur, dan pola. Hasil analisis akurasi petakan sawah yang diperoleh sebelum dan setelah verifikasi adalah 80.88%. Indeks Pertanaman (IP) padi yang diterapkan petani di lokasi penelitian antara lain: 300, 200, 100, dan <100. Kelompok IP 200, 100, dan <100 memiliki pola menyebar, sedangkan kelompok IP 300 memiliki pola bergerombol. Kemiringan lereng mempengaruhi penerapan IP padi, yaitu sawah yang terletak di daerah datar lebih sering ditanami padi dibandingkan sawah yang terletak di daerah berlereng. Berdasarkan hasil wawancara, penerapan IP 300 paling banyak dipengaruhi oleh kondisi tanah selalu basah, penerapan IP 200 paling banyak dipengaruhi oleh keinginan petani untuk mengistirahatkan tanah, penerapan IP 100 paling banyak dipengaruhi oleh lebih menguntungkan palawija, dan penerapan IP <100 paling banyak dipengaruhi oleh masalah irigasi. Produktivitas padi di lokasi penelitian terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu <50 kw/ha, 50-75 kw/ha, dan 76-100 kw/ha. Ketiga kelompok produktivitas tersebut memiliki pola menyebar. Hasil analisis multiple regression menunjukkan bahwa benih, tenaga kerja, pupuk urea, pupuk SP-36, pupuk KCl, pupuk NPK, pestisida, dan jarak terhadap irigasi secara serempak tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas padi. Kemudian dilakukan analisis secara deskriptif, yang menunjukkan bahwa penggunaan benih, tenaga kerja, dan pupuk berpengaruh terhadap produktivitas padi. Produktivitas rata-rata paling tinggi terdapat pada sawah yang menerapkan IP 100, sedangkan paling rendah pada sawah dengan IP 300. Hasil analisis korelasi dan nilai R square sebesar 0.0224 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara produktivitas dan IP padi.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcSoil Sciencesid
dc.subject.ddcSpatial Resolutionid
dc.subject.ddcBogorid
dc.subject.ddcJawa Baratid
dc.titleAnalisis Spasial Indeks Pertanaman dan Produktivitas Padi Sawah di Dusun 1 Desa Purwasari, Kabupaten Bogorid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordIndeks Pertanamanid
dc.subject.keywordProduktivitasid
dc.subject.keywordAnalyzing Patternid
dc.subject.keywordMultiple regressionid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record