Show simple item record

dc.contributor.advisorArifiantini, Raden Iis
dc.contributor.advisorPurwantara, Bambang
dc.contributor.authorNabilla, Anna
dc.date.accessioned2017-08-11T07:43:06Z
dc.date.available2017-08-11T07:43:06Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/87830
dc.description.abstractPerkembangbiakan sapi bali sebagian besar dilakukan dengan teknik Inseminasi Buatan (IB) menggunakan semen beku. Proses pembekuan semen akan menurunkan kualitas semen, sehingga diperlukan modifikasi pengencer. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan kualitas semen segar sapi bali pada kelompok produktif dengan kelompok umur lewat produktif dan mengevaluasi kualitas semen beku sapi bali setelah kriopreservasi pada pengencer Tris kuning telur (TKT) dan Sitrat kuning telur (SKT) menggunakan Dimethylformamide (DMF) dan gliserol dalam tiga konsentrasi (5%, 6%, dan 7%). Semen dikoleksi menggunakan vagina buatan dari dua kelompok umur sapi yaitu kelompok umur produktif dan kelompok umur lewat produktif masing-masing tiga ekor, yang dievaluasi semen segarnya. Semen dari tiga ekor sapi bali kelompok umur produktif dibekuan dalam pengencer TKT dan SKT dengan gliserol dan DMF sebagai krioprotektan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan pada semua parameter antar dua kelompok umur sapi (P>0.05). Motilitas setelah thawing dalam pengencer TKT dengan berbagai konsentrasi gliserol adalah 5%, 6%, dan 7% masing-masing adalah 50.22±2.60%, 44.06±2.47%, dan 40.72±2.20%. Motilitas setelah thawing dalam pengencer TKT dengan berbagai konsentrasi DMF 5%, 6%, dan 7% berturut-turut adalah 50.44±1.94%, 47.83±2.34% dan 48.00±2.17%. Penggunaan gliserol pada pengencer SKT pada semen sapi tidak cocok. Motilitas setelah thawing sangat rendah antara 14.22±1.24% sampai 22.44±2.73%. Krioprotektan DMF dalam pengencer SKT menunjukkan hasil yang lebih baik. Konsentrasi DMF 5% (50.94±2.78%), dan 6% (54.33±1.59%) menunjukkan hasil yang sama dan keduanya lebih tinggi dibandingkan dengan 7% (43.94±2.95%). Tidak ada perbedaan kualitas semen segar antara kelompok sapi umur produktif dan sapi lewat umur produktif, pada penelitian ini kemungkinan disebabkan karena seluruh sapi yang digunakan milik Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD) Baturiti. Baturiti merupakan satu-satunya balai IB yang hanya memproduksi semen beku sapi bali. Sapi-sapi yang terdapat di BIBD Baturiti adalah sapi bibit unggul yang dipelihara dengan manajemen yang sangat baik sehingga sapi yang telah melewati umur produktif pun masih mampu menghasilkan semen yang berkualitas sama baiknya dengan semen dari kelompok umur produktif. Motilitas setelah thawing dalam pengencer TKT tidak berbeda antara konsentrasi gliserol 5% dengan DMF 5%, 6%, dan 7%. Motilitas setelah thawing dalam pengencer SKT menunjukkan hasil di bawah 40% dengan semua konsentrasi gliserol sehingga tidak memenuhi syarat untuk digunakan IB dan motilitas setelah thawing dalam pengencer SKT paling tinggi pada konsentrasi DMF 6% (54.33±1.59). Penggunaan gliserol menunjukkan nilai di bawah 40%, sedangkan konsentrasi DMF optimum pada konsentrasi 6% kemungkinan disebabkan oleh kemampuan pengencer SKT yang menyamai pengencer TKT yang memiliki kandungan lengkap untuk perlindungan spermatozoa saat proses pembekuan.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcAnimal husbandryid
dc.subject.ddcCattleid
dc.subject.ddc2017id
dc.subject.ddcBaturiti, Baliid
dc.titleKualitas Semen Sapi Bali dan Kriopreservasinya dalam Pengencer Tris dan Sitrat Kuning Telurid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordDMFid
dc.subject.keywordgliserolid
dc.subject.keywordkualitas semenid
dc.subject.keywordsapi baliid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record