Show simple item record

dc.contributor.advisorKarja, Ni Wayan Kurniani
dc.contributor.advisorSetiadi, Mohamad Agus
dc.contributor.authorNanda, Syafri
dc.date.accessioned2017-08-09T07:05:23Z
dc.date.available2017-08-09T07:05:23Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/87798
dc.description.abstractTingkat keberhasilan produksi embrio in vitro (PEIV) pada sapi saat ini masih sangat rendah karena sebagian besar oosit gagal berkembang sampai ke tahap blastosis. Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses PEIV adalah sistem kultur dan komponen dari media yang digunakan. Media maturasi maupun kultur sering mengandung asam amino dan glukosa sebagai sumber energi, tetapi oosit atau embrio tidak dapat menyerap glukosa secara maksimal. Sehingga diperlukan suatu zat untuk meningkatkan ambilan glukosa dan asam amino yang terdapat dalam media. Insulin berikatan dengan reseptor pada permukaan sel dan merangsang kapasitas sel untuk menggunakan glukosa dan asam amino sebagai sumber energi. Penelitian ini bertujuan mengkaji penambahan insulin ke dalam media maturasi dan atau media kultur terhadap pematangan inti oosit dan tingkat pembelahan awal embrio sapi secara in vitro. Penelitian tahap I, oosit hasil seleksi dibagi menjadi dua kelompok, oosit dimaturasi dalam media maturasi tanpa insulin (IVM I-) atau dengan 10 μg/mL insulin (IVM I+). Penelitian tahap II, maturasi oosit dilakukan seperti pada penelitian tahap I, selanjutnya oosit difertilisasi dengan spermatozoa, kemudian kelompok oosit yang telah dimaturasi dengan tanpa insulin dibagi menjadi 2 (dua) secara random dan dikultur dalam medium kultur dengan penambahan 10 μg/mL insulin (kelompok IVM I-/IVC I+) atau tanpa penambahan insulin (kelompok IVM I-/IVC I-). Demikian juga oosit yang dimaturasi dengan 10 μg/mL insulin, dikultur dalam medium kultur dengan penambahan 10 μg/mL insulin (kelompok IVM I+/IVC I+) atau tanpa penambahan insulin (kelompok IVM I+/IVC I-). Hasil penelitian tahap I menunjukkan bahwa penambahan insulin (IVM I+) dengan konsentrasi 10 μg/mL meningkatkan jumlah oosit mencapai tahap MII (87%) (P<0.05) dibandingkan tanpa diberi perlakuan insulin (IVM I-) (70.1%). Oosit yang dimaturasi tanpa insulin berhenti perkembangannya sampai pada tahap metaphase I sebanyak 20% (P<0.05). Penelitian tahap II menunjukkan bahwa persentase perkembangan awal embrio pada hari ke-2 setelah kultur pada kelompok oosit yang dimaturasi dan dikultur dengan insulin (IVM I+/IVC I+) (76.6%) lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok IVM I-/IVC I- (55.8%), IVM I+/IVC I- (64.1%), dan IVM I-/IVC I+ (59.9%) (P<0.05). Pada hari ke-2 setelah kultur, 5-13% embrio sudah berkembang mencapai stadium 8 sel. Sedangkan pengamatan pada hari ke-4 setelah kultur embrio, ditemukan 2-27% embrio berkembang mencapai stadium 16 sel. Embrio yang berkembang mencapai stadium 16 sel ditemukan paling banyak pada kelompok IVM I-/IVC I+ dan IVM I+/IVC I+ (P<0.05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan insulin pada medium maturasi dapat meningkatkan persentase oosit sapi yang mencapai metaphase II. Penambahan insulin pada medium maturasi dan kultur dapat meningkatkan jumlah embrio yang membelah.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcVeterinary Sciencesid
dc.subject.ddcReproductionid
dc.subject.ddc2016id
dc.subject.ddcBogor, Jawa Baratid
dc.titleTingkat Maturasi Oosit dan Perkembangan Awal Embrio Sapi dengan Penambahan Insulin pada Media Maturasi dan atau Media Kultur secara In Vitroid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordembrioid
dc.subject.keywordinsulinid
dc.subject.keywordkulturid
dc.subject.keywordmaturasiid
dc.subject.keywordoosit sapiid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record