Show simple item record

dc.contributor.advisorSaharjo, Bambang Hero
dc.contributor.authorRazaq, Mohammad Abdul
dc.date.accessioned2017-05-08T04:04:37Z
dc.date.available2017-05-08T04:04:37Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/84609
dc.description.abstractKebakaran hutan dan lahan menjadi masalah penting di Indonesia setiap tahun. Hal ini dikarenakan kebakaran hutan dan lahan menimbulkan banyak dampak negatif bagi ekologi, ekonomi, dan aspek politik. Oleh karena itu, informasi tentang kebakaran hutan dan lahan berdasarkan hotspot diperlukan serta emisi karbondioksida yang dilepaskan, terutama di daerah yang memiliki kerentanan kebakaran hutan dan lahan, seperti di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis munculnya titik panas (hotspot) sebagai indikasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada beberapa jenis tutupan lahan di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau dan menduga emisi gas karbon (CO2) yang dihasilkan dalam rentang waktu pada tahun 2009 hingga 2013. Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari hingga Mei 2016 di Laboratorium Kebakaran Hutan dan Lahan, Divisi Perlidnungan Hutan, Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hotspot MODIS yang bersumer dari FIRMS-NASA, data curah hujan dari Pusat Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan peta jenis penutupan lahan Kabupaten Pelalawan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Hasil penelitian menunjukkan penurunan jumlah hotspot pada tahun 2011, yang hanya terdeteksi 715 hotspot, menyebabkan penurunan luas area yang terbakar yang hanya 56 280 ha, sehingga jumlah hotspot dapat mempengaruhi seberapa besar luas area yang terbakar. Selain itu, berdasarkan estimasi luas area terbakar di Kabupaten Pelalawan pada tahun 2009 belukar rawa memiliki luas areal terbakar terbesar yaitu 117 467 ha (36.77 %), sedangkan pada tahun 2011 terdapat pada area perkebunan yaitu sebesar 19 991 ha (35.52 %), dan pada tahun 2013 terdapat pada tipe penutupan lahan berupa hutan belukar rawa yaitu sebesar 88 652 ha (24.81 %). Emisi karbondioksida terbesar pada tahun 2009, terdapat pada belukar rawa di tanah mineral yaitu 435 352.7 ton CO2, sedangkan pada tahun 2011 emisi karbondioksida terbesar terdapat pada area hutan sekunder di tanah mineral yaitu 121 915.1 ton CO2, dan emisi karbondioksida terbesar pada tahun 2013 terdapat pada pertanian lahan kering campur di tanah mineral yaitu 306 038.3 ton CO2.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricutural University (IPB)id
dc.subject.ddcSilvicultureid
dc.subject.ddcForest firesid
dc.subject.ddc2016id
dc.subject.ddcBogor-Jawa Baratid
dc.titlePendugaan Emisi Gas Karbon Dioksida Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riauid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordemisi karbondioksidaid
dc.subject.keywordkebakaran hutan dan lahanid
dc.subject.keywordpenutupan lahanid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record