| dc.description.abstract | Kota Banda Aceh merupakan satu diantara daerah endemis demam berdarah
dengue (DBD) di Provinsi Aceh. Pengendalian Aedes aegypti sebagai vektor DBD
lebih dititik beratkan pada pengendalian kimiawi dengan fogging focus
menggunakan insektisida. Penggunaan insektisida dapat menurunkan populasi
vektor dengan cepat, namun aplikasi satu jenis insektisida dalam waktu yang lama
dan frekuensi yang tinggi dapat menimbulkan permasalahan baru yaitu munculnya
populasi nyamuk yang resisten terhadap insektisida yang digunakan. Tujuan
penelitian ini untuk mengukur status kerentanan Ae. aegypti serta kaitannya
dengan penggunaan insektisida rumah tangga di permukiman. Pengukuran status
resistensi dilakukan sesuai standar WHO (1975) dengan impregnated paper
berbahan aktif malation 0.8% dan sipermetrin 0.05%. Isolat Ae. aegypti diperoleh
dengan memasang ovitrap pada 18 desa dari 9 kecamatan endemis DBD di Kota
Banda Aceh. Telur yang terkumpul ditetaskan dan dipelihara hingga generasi
kedua (F2) selanjutnya dilakukan pengukuran status resistensinya. Pengumpulan
data penggunaan insektisida rumah tangga dilakukan melalui wawancara terhadap
180 responden pemilik rumah yang dipasang ovitrap. Pemilihan rumah
berdasarkan keberadaan penderita DBD.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 18 isolat Ae. aegypti terdapat 13
isolat yang telah resisten dan 5 isolat toleran terhadap malation. Isolat Ae. aegypti
yang telah resisten memiliki persentase kematian antara 41.33 - 78.67%,
sedangkan isolat Ae. aegypti berstatus toleran memiliki persentase kematian
antara 80 - 90.67%. Waktu terlama yang dibutuhkan untuk mematikan 95%
populasi Ae. aegypti oleh malation adalah 75.79 jam (3 hari) terjadi pada isolat
Kampung Keramat dan waktu tersingkat adalah 21.07 jam pada isolat Lampaseh
Kota. Status kerentanan isolat Ae. aegypti terhadap sipermetrin menunjukkan
bahwa semua isolat sudah resisten, berdasarkan persentase kematian nyamuk yang
lebih kecil dari 80%. Waktu terlama untuk dapat mematikan 95% populasi Ae.
aegypti adalah 150.15 jam (6 hari) pada isolat Bandar Baru dan waktu tersingkat
adalah 35.21 jam (1.5 hari) pada isolat Punge Blang Cut.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa 98.89% responden adalah pengguna
insektisida rumah tangga dan terutama untuk menghindari gigitan nyamuk.
Frekuensi penggunaan insektisida sebagian besar setiap hari (71.91%), dengan
lama penggunaan insektisida lebih dari satu tahun sebesar 87.64%. Hampir semua
insektisida rumah tangga yang digunakan responden berbahan aktif piretroid
sintetik (90.45%).
Hasil uji korelasi menunjukkan penggunaan insektisida rumah tangga
(p=0.027 dan R=0.237), frekuensi penggunaan insektisida (p=0.005 dan R=0.211)
dan lama penggunaan insektisida (p=0.010 dan R=0.213) memiliki hubungan
yang signifikan tetapi berkekuatan lemah terhadap angka kematian Ae. agypti
terhadap sipermetrin 0.05%. | id |