Show simple item record

dc.contributor.advisorFirdaus, Muhammad
dc.contributor.advisorHartoyo, Sri
dc.contributor.authorPurwasih, Rati
dc.date.accessioned2017-01-30T08:04:57Z
dc.date.available2017-01-30T08:04:57Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/82869
dc.description.abstractJagung merupakan salah satu komoditas unggulan di Provinsi Lampung, akan tetapi jumlah produksi jagung di provinsi ini terus mengalami penurunan selama 5 tahun terakhir yaitu dari 2 126 571 ton pada tahun 2010 menjadi 1 719 386 ton pada tahun 2014. Penurunan jumlah produksi tersebut mengikuti trend penurunan luas panen jagung yaitu dari 447 509 hektar pada tahun 2010 menjadi 338 885 hektar pada tahun 2014. Insentif bagi petani untuk berusaha tani jagung yaitu harga. Rata-rata harga jagung yang diterima petani (produsen) dari Januari 2009 sampai Desember 2014 yaitu sebesar Rp 1 820 per kilogram, sedangkan rata-rata harga jagung di tingkat konsumen yaitu sebesar Rp 3 205 per kilogram. Jika dilihat dari rata-rata harga jagung di tingkat produsen dan konsumen tersebut, terdapat disparitas harga yang cukup besar antara produsen dan konsumen di Provinsi Lampung yang mungkin disebabkan oleh panjangnya rantai pemasaran atau penyalahgunaan market power. Selain itu, harga jagung di tingkat konsumen lebih berfluktuasi jika dibandingkan dengan harga jagung di tingkat produsen. Hal ini dapat disebabkan oleh proses transmisi harga yang asimetri artinya saat harga jagung di tingkat konsumen naik akan diteruskan secara perlahan-lahan dan tidak sepenuhnya ke tingkat produsen. Penyebab transmisi harga asimetri di antaranya karena penyalahgunaan market power oleh pedagang. Pada pasar yang terhubung secara vertikal dengan pasar yang lain dalam perdagangan, harga di pasar acuan akan mempengaruhi harga yang terbentuk di pasar pengikut. Harga jagung juga dipengaruhi oleh jumlah produksi karena pola produksi yang mengikuti musim. Selain itu, komoditas jagung memerlukan waktu mulai dari proses pengolahan lahan sampai panen dan pemasaran hasil panen sehingga harga jagung dipengaruhi juga oleh penyesuaian pasar. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis transmisi harga jagung dari tingkat konsumen ke tingkat produsen dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan harga jagung tingkat produsen di Provinsi Lampung. Data yang digunakan untuk menganalisis transmisi harga jagung dari tingkat konsumen ke tingkat produsen dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan harga jagung tingkat produsen yaitu data time series bulanan dari Januari 2009 sampai Desember 2014 (72 bulan). Asymmetric Error Correction Model (AECM) yang dikembangkan oleh von Cramon-Taubadel and Loy (1996) digunakan untuk menganalisis transmisi harga jagung dari tingkat konsumen ke tingkat produsen. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan harga jagung tingkat produsen diestimasi dengan menggunakan metode pendugaan Ordinary Least Squares (OLS). Hasil uji kausalitas menunjukkan bahwa harga jagung di tingkat konsumen mempengaruhi harga jagung di tingkat produsen. Selanjutnya dilakukan estimasi Asymmetric Error Correction Model (AECM) diperoleh hasil bahwa dalam jangka pendek transmisi harga jagung dari tingkat konsumen ke tingkat produsen tidak berjalan simetri. Hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi petani mengenai harga jagung sedangkan pedagang memiliki market power dalam mempengaruhi harga sehingga dalam jangka pendek perubahan harga jagung di tingkat konsumen tidak segera ditransmisikan ke tingkat produsen. Sebaliknya dalam jangka panjang transmisi harga jagung dari tingkat konsumen ke tingkat produsen berjalan secara simetri artinya saat terjadi kenaikan harga jagung di tingkat konsumen maka produsen akan merespon dengan kenaikan harga dan sebaliknya saat terjadi penurunan harga jagung di tingkat konsumen maka produsen akan merespon dengan penurunan harga pada kecepatan yang sama. Setelah dilakukan uji Wald diperoleh hasil bahwa tidak terbukti terjadi transmisi harga asimetri dari tingkat konsumen ke tingkat produsen dalam jangka panjang. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam jangka panjang pemasaran jagung di Provinsi Lampung efisien dari segi efisiensi harga. Harga jagung yang terbentuk di tingkat produsen dipengaruhi oleh nilai tukar, jumlah produksi, dan harga jagung di tingkat produsen pada periode sebelumnya, sedangkan harga jagung tingkat konsumen dan harga jagung impor tidak mempengaruhi harga jagung tingkat produsen. Harga jagung di tingkat produsen kurang respon terhadap perubahan jumlah produksi. Hal ini terjadi karena adanya kekuatan oligopsoni.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcEconomicsid
dc.subject.ddcPriceid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcProvinsi Lampungid
dc.titlePembentukan Harga Jagung Di Provinsi Lampungid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordasimetriid
dc.subject.keywordharga konsumenid
dc.subject.keywordharga produsenid
dc.subject.keywordtransmisi hargaid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record