Show simple item record

dc.contributor.advisorDadang
dc.contributor.advisorRatna, Endang Sri
dc.contributor.authorMahfud, Ridwan Isnaeni
dc.date.accessioned2017-01-30T07:44:04Z
dc.date.available2017-01-30T07:44:04Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/82757
dc.description.abstractUlat krop kubis Crocidolomia pavonana merupakan hama penting pada tanaman sayuran famili Brassicaceae. Larva instar awal hidup bergerombol di permukaan bawah daun dan instar akhir biasanya menyerang krop kubis. Dalam rangka mengendalikan hama ini, insektisida sintetik umum digunakan oleh petani. Pengendalian hama dengan memanfaatkan bahan tumbuhan merupakan alternatif pengendalian yang relatif lebih efisien, ramah lingkungan, dan aman terhadap kesehatan manusia. Ekstrak tanaman Aglaia odorata (Meliaceae) dan Piper aduncum (Piperaceae) diketahui memiliki sifat toksik terhadap serangga Lepidoptera. Tujuan penelitian ini mempelajari keefektifan dua jenis ekstrak tanaman A. odorata dan P. aduncum sebagai insektisida nabati, baik aplikasi tunggal maupun campuran terhadap larva C. pavonana dan mengevaluasi keefektifan formulasi ekstrak menggunakan tiga jenis adjuvan. Penelitian dilakukan melalui beberapa tahap, meliputi pemeliharaan dan perbanyakan serangga, ekstraksi bahan tanaman, pengujian keefektifan ekstrak terhadap larva, pengujian stabilitas dan pH larutan ekstrak, dan uji toksisitas formulasi. Ekstrak P. aduncum lebih toksik terhadap larva instar II C. pavonana dibandingkan dengan ekstrak A. odorata pada pengamatan 96 jam setelah perlakuan. Nilai LC50, LC90 dan LC95 ekstrak P. aduncum terhadap larva berturut-turut; 0.180%, 0.245%, dan 0.268%, sedangkan untuk A. odorata 0.490%, 1.170%, dan 1.497%. Campuran P. aduncum dan A. odorata dengan rasio 2:1 (w/w) menunjukkan lebih toksik terhadap larva C. pavonana instar II dibandingkan dengan dua campuran lainnya (rasio 1:1 dan 1:2; w/w). Hal ini ditunjukkan oleh nilai LC50, LC90 dan LC95 campuran ekstrak pada rasio 2:1 (w/w) berturut-turut sebesar 0.212%, 0.339%, dan 0.386%; rasio 1:1 (w/w) sebesar 0.274%, 0.521%, dan 0.625 %; dan rasio 1:2 (w/w) sebesar 0.814%, 1.275%, 1.448%. Selain itu, campuran ekstrak P. aduncum dan A. odorata rasio 2:1 (w/w) menunjukkan sifat interaksi aditif. Sediaan formulasi campuran ekstrak P. aduncum dan A. odorata dengan ajuvant Triton X menunjukkan relatif lebih stabil dibandingkan dengan formulasi ekstrak yang mengandung adjuvant Tween 80 atau Agristik 400L. Namun, mortalitas larva tertinggi ditunjukkan pada sediaan campuran ekstrak yang mengandung Tween 80 yaitu 98% pada pengamatan 96 jam setelah perlakuan.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcEntomologyid
dc.subject.ddcLepidopteraid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcBogor-JABARid
dc.titleFormulasi Ekstrak Tanaman Aglaia Odorata Dan Piper Aduncum Untuk Pengendalian Ulat Krop Kubis Crocidolomia Pavonana (F.) (Lepidoptera: Crambidae).id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordaditifid
dc.subject.keywordadjuvanid
dc.subject.keywordinsektisida nabatiid
dc.subject.keywordMeliaceaeid
dc.subject.keywordPiperaceaeid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record